JEMBER, Tugujatim.id – Bahan bakar minyak (BBM) yang langka beberapa waktu lalu di Kabupaten Jember dapat menyebabkan sebanyak 197 ton limbah sampah tidak terkelola di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari.
Ketua TPA Pakusari Muhammad Masbut menjelaskan, lokasi tersebut mengandalkan tiga unit mesin berat untuk operasional harian. Komposisi peralatan meliputi sepasang excavator dan satu unit loader yang bekerja minimum empat jam setiap hari.
Ketiga mesin tersebut bertugas memproses limbah padat dari wilayah Kaliwates, Patrang, dan Sumbersari melalui tahapan pengaturan posisi, pemampatan, serta penutupan menggunakan material tanah.
Baca Juga: Eks Wabup Puji Pertamina dan Pemkab Atasi Krisis BBM di Jember, Ingatkan Bahaya Spekulan
“Ketiga unit tersebut wajib beroperasi paling sedikit empat jam untuk menyelesaikan pemrosesan 197 ton limbah melalui serangkaian proses pengaturan, pemampatan, hingga penutupan dengan lapisan tanah,” jelas Masbut saat dikonfirmasi pada Rabu (30/07/2025).
Dia memaparkan, kebutuhan harian TPA Pakusari ini mencapai 200 liter biosolar untuk menjaga kontinuitas operasional. Kendati demikian, pihaknya telah melakukan perjanjian dengan pihak Pertamina melalui SPBU Pakusari. Tetapi, pada saat krisis BBM di Jember, distribusi ke alat-alat berat untuk mengolah sampah mengalami gangguan yang signifikan.
“Walaupun sudah terjalin kesepakatan dengan Pertamina, namun sangat sulit bagi kami untuk memperoleh biosolar sesuai kapasitas yang diperlukan,” ungkap Masbut.
Karena biosolar yang dimiliki terbatas, memaksa pihak TPA Pakusari mencari alternatif untuk memenuhi kebutuhan dari tempat penyaluran BBM yang lain. Sayangnya, upaya tersebut belum memberikan solusi optimal mengingat kelangkaan terjadi secara menyeluruh di berbagai tempat.
Peran mesin-mesin berat ini sangat krusial dalam mencegah akumulasi dan tumpahan limbah ke jalur operasional TPA.
“Apabila mesin berat berhenti bekerja, limbah dapat meluber hingga ke jalanan karena tidak ada proses pengaturan dan pemampatan,” tegas Masbut.
Dia menekankan bahwa jika krisis pasokan BBM tidak mendapat penanganan cepat, gangguan terhadap sistem manajemen sampah bukan lagi sekedar kemungkinan.
“Kami mengharapkan respons serius dari instansi terkait, mengingat hal ini berkaitan dengan isu lingkungan dan kesehatan masyarakat yang lebih luas,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati








