MALANG, Tugujatim.id – Warga RW 09 Joyogrand, Kelurahan Merjosari, Kota Malang memperingati Hari Ulang Tahun Ke-80 Republik Indonesia dengan cara istimewa. Seusai upacara bendera pada Minggu (17/8/2025), warga mementaskan fragmen kolosal bertema perjuangan Pangeran Diponegoro. Pertunjukan ini sekaligus menandai 200 Tahun Perang Jawa (1825–1830), dimainkan secara gotong royong oleh lebih dari 50 warga dari berbagai usia.
“Fragmen ini bukan sekadar hiburan, tetapi cara warga kami belajar sejarah sekaligus merayakan kemerdekaan dengan kebersamaan,” ujar Wahyu Rendra, Ketua RW 09 Joyogrand, yang dalam pertunjukan memerankan tokoh Belanda.
Fragmen berdurasi 20 menit itu menghadirkan kembali momen-momen heroik dalam sejarah bangsa, lengkap dengan mars perjuangan dan simbol perlawanan terhadap kolonialisme. Panggung sederhana berubah menjadi arena sejarah.
Adegan dimulai dengan hadirnya Jenderal Hendrik Merkus de Kock, diperankan Wahyu Rendra, yang mengatur pasukannya menancapkan patok di tanah Jawa. Dari sisi lain, Pangeran Diponegoro, diperankan Anton Nugroho, hadir dengan wajah murka, menolak penghinaan atas tanah leluhur. Sorak pasukan rakyat dan lantunan nyanyian perjuangan menggetarkan penonton.

Di tengah fragmen, tampil sosok Nyai Ratu Ageng Tegal Rejo, diperankan dengan penuh penghayatan oleh Novie Kusumawati, yang memberi restu spiritual pada perlawanan rakyat Jawa. Adegan ini menjadi salah satu momen paling menyentuh, mengingatkan penonton pada kekuatan doa dan kebijaksanaan perempuan dalam sejarah perjuangan.
Kehadiran pasukan Diponegoro yang berlari, menancapkan tombak sebagai pengganti patok kolonial, menghadirkan simbol perlawanan yang kuat. Perlawanan itu berujung pada kemenangan sementara, lalu berganti dengan strategi ‘benteng Stelsel’ yang membuat pasukan Diponegoro semakin terdesak.
Fragmen ditutup dengan adegan pengkhianatan: Pangeran Diponegoro ditangkap saat perundingan di Magelang tahun 1830, dan Nyai Ratu Ageng melantunkan tembang dhandhanggula yang pilu, sekaligus penuh semangat untuk meneruskan perjuangan.
Dohir Herliato, atau yang akrab disapa Sindu, selaku penulis naskah dan sutradara, menuturkan bahwa karya ini bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga bentuk penghormatan pada sejarah.

“Kami ingin warga, terutama generasi muda, menyadari bahwa perjuangan kemerdekaan tidak lahir begitu saja. Ada pengorbanan besar, ada luka, ada strategi, dan ada semangat yang harus diwariskan. Perang Jawa adalah bagian dari memori kolektif bangsa yang harus terus dikenang,” ujarnya.
Penata artistik, M. Irwan AKA, menambahkan sentuhan detail pada properti dan tata panggung agar kisah perang dua abad lalu terasa hidup. Komunitas Swara Pertiwi turut menata kostum, menghadirkan nuansa busana Jawa dan kolonial yang autentik sehingga setiap adegan semakin meyakinkan.
Dohir Herliato, atau yang akrab disapa Sindu, selaku penulis naskah dan sutradara, menuturkan bahwa karya ini bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga bentuk penghormatan pada sejarah.

“Kami ingin warga, terutama generasi muda, menyadari bahwa perjuangan kemerdekaan tidak lahir begitu saja. Ada pengorbanan besar, ada luka, ada strategi, dan ada semangat yang harus diwariskan. Perang Jawa adalah bagian dari memori kolektif bangsa yang harus terus dikenang,” ujarnya.
Penata artistik, M. Irwan AKA, menambahkan sentuhan detail pada properti dan tata panggung agar kisah perang dua abad lalu terasa hidup. Komunitas Swara Pertiwi turut menata kostum, menghadirkan nuansa busana Jawa dan kolonial yang autentik sehingga setiap adegan semakin meyakinkan. (Bryna Callista)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Editor: Darmadi Sasongko








