• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Perang Jawa

Usai upacara bendera, warga mementaskan fragmen kolosal bertema perjuangan Pangeran Diponegoro (Perang Jawa, 1825–1830).

200 Tahun Perang Jawa: Api Pangeran Diponegoro Menyala di Panggung Kemerdekaan

Darmadi Sasongko by Darmadi Sasongko
10 months ago
in Sastra & Budaya
0
Share on FacebookShare on Twitter

MALANG, Tugujatim.id – Warga RW 09 Joyogrand, Kelurahan Merjosari, Kota Malang memperingati Hari Ulang Tahun Ke-80 Republik Indonesia dengan cara istimewa. Seusai upacara bendera pada Minggu (17/8/2025), warga mementaskan fragmen kolosal bertema perjuangan Pangeran Diponegoro. Pertunjukan ini sekaligus menandai 200 Tahun Perang Jawa (1825–1830), dimainkan secara gotong royong oleh lebih dari 50 warga dari berbagai usia.

“Fragmen ini bukan sekadar hiburan, tetapi cara warga kami belajar sejarah sekaligus merayakan kemerdekaan dengan kebersamaan,” ujar Wahyu Rendra, Ketua RW 09 Joyogrand, yang dalam pertunjukan memerankan tokoh Belanda.

You might also like

Malang

Gali Sejarah Teater Malang, DKM Kembali Gelar “SERAT” untuk Jembatani Kreatifitas Lintas Generasi

21/05/2026 3:32 PM
Busana Khas Malang

Kajian Sejarah Busana Khas Malang

11/04/2026 3:25 AM

Fragmen berdurasi 20 menit itu menghadirkan kembali momen-momen heroik dalam sejarah bangsa, lengkap dengan mars perjuangan dan simbol perlawanan terhadap kolonialisme. Panggung sederhana berubah menjadi arena sejarah.

Adegan dimulai dengan hadirnya Jenderal Hendrik Merkus de Kock, diperankan Wahyu Rendra, yang mengatur pasukannya menancapkan patok di tanah Jawa. Dari sisi lain, Pangeran Diponegoro, diperankan Anton Nugroho, hadir dengan wajah murka, menolak penghinaan atas tanah leluhur. Sorak pasukan rakyat dan lantunan nyanyian perjuangan menggetarkan penonton.

Perang Jawa
200 Tahun Perang Jawa: Di tengah fragmen, tampil sosok Nyai Ratu Ageng Tegal Rejo, diperankan dengan penuh penghayatan oleh Novie Kusumawati, yang memberi restu spiritual pada perlawanan rakyat Jawa.

Di tengah fragmen, tampil sosok Nyai Ratu Ageng Tegal Rejo, diperankan dengan penuh penghayatan oleh Novie Kusumawati, yang memberi restu spiritual pada perlawanan rakyat Jawa. Adegan ini menjadi salah satu momen paling menyentuh, mengingatkan penonton pada kekuatan doa dan kebijaksanaan perempuan dalam sejarah perjuangan.

Kehadiran pasukan Diponegoro yang berlari, menancapkan tombak sebagai pengganti patok kolonial, menghadirkan simbol perlawanan yang kuat. Perlawanan itu berujung pada kemenangan sementara, lalu berganti dengan strategi ‘benteng Stelsel’ yang membuat pasukan Diponegoro semakin terdesak.

Fragmen ditutup dengan adegan pengkhianatan: Pangeran Diponegoro ditangkap saat perundingan di Magelang tahun 1830, dan Nyai Ratu Ageng melantunkan tembang dhandhanggula yang pilu, sekaligus penuh semangat untuk meneruskan perjuangan.

Dohir Herliato, atau yang akrab disapa Sindu, selaku penulis naskah dan sutradara, menuturkan bahwa karya ini bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga bentuk penghormatan pada sejarah.

Perang Jawa
200 Tahun Perang Jawa: Fragmen ditutup dengan adegan pengkhianatan: Pangeran Diponegoro ditangkap saat perundingan di Magelang tahun 1830, dan Nyai Ratu Ageng melantunkan tembang dhandhanggula yang pilu, sekaligus penuh semangat untuk meneruskan perjuangan.

“Kami ingin warga, terutama generasi muda, menyadari bahwa perjuangan kemerdekaan tidak lahir begitu saja. Ada pengorbanan besar, ada luka, ada strategi, dan ada semangat yang harus diwariskan. Perang Jawa adalah bagian dari memori kolektif bangsa yang harus terus dikenang,” ujarnya.

Penata artistik, M. Irwan AKA, menambahkan sentuhan detail pada properti dan tata panggung agar kisah perang dua abad lalu terasa hidup. Komunitas Swara Pertiwi turut menata kostum, menghadirkan nuansa busana Jawa dan kolonial yang autentik sehingga setiap adegan semakin meyakinkan.

Dohir Herliato, atau yang akrab disapa Sindu, selaku penulis naskah dan sutradara, menuturkan bahwa karya ini bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga bentuk penghormatan pada sejarah.

Perang Jawa
Warga RW 09 Joyogrand, Kelurahan Merjosari, Kota Malang mementaskan fragmen kolosal bertema perjuangan Pangeran Diponegoro (Perang Jawa).

“Kami ingin warga, terutama generasi muda, menyadari bahwa perjuangan kemerdekaan tidak lahir begitu saja. Ada pengorbanan besar, ada luka, ada strategi, dan ada semangat yang harus diwariskan. Perang Jawa adalah bagian dari memori kolektif bangsa yang harus terus dikenang,” ujarnya.

Penata artistik, M. Irwan AKA, menambahkan sentuhan detail pada properti dan tata panggung agar kisah perang dua abad lalu terasa hidup. Komunitas Swara Pertiwi turut menata kostum, menghadirkan nuansa busana Jawa dan kolonial yang autentik sehingga setiap adegan semakin meyakinkan. (Bryna Callista)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id

 

 

Editor: Darmadi Sasongko

Tags: HUT Ke-80 RIKota MalangMalangPanggung KemerdekaanUpacara HUT Ke-80 RI
Darmadi Sasongko

Darmadi Sasongko

Related Stories

Malang

Gali Sejarah Teater Malang, DKM Kembali Gelar “SERAT” untuk Jembatani Kreatifitas Lintas Generasi

by Mochamad Abdurrochim
21/05/2026 3:32 PM
0

MALANG, Tugujatim.id – Dewan Kesenian Kota Malang (DKM) kembali menghadirkan ruang diskusi santai bagi para pegiat seni teater lewat agenda...

Busana Khas Malang

Kajian Sejarah Busana Khas Malang

by Darmadi Sasongko
11/04/2026 3:25 AM
0

Tugujatim.id - Kajian Sejarah Busana Khas Malang ditulis oleh Dwi Cahyono, Yayasan Inggil. Identitas sebuah daerah tidak hanya tercermin dari...

DPRD Kota Malang Catat PR Krusial di HUT ke-112, Kemiskinan hingga Banjir Belum Tuntas

Klambi Indis dari Sudut Pandang Seni Kontemporer

by Darmadi Sasongko
10/04/2026 11:05 AM
0

Tugujatim.id - Klambi Indis, dari sudut pandang Seni Kontemporer ditulis oleh Dimas Novib S, Pengurus Dewan Kesenian Malang. Tulisan ini...

Perjalanan Menuju Pertaubatan

Perjalanan Menuju Pertaubatan

by Dwi Linda
22/02/2026 11:43 AM
0

Oleh: Muhammad Mufid, Cerpenis Difabel di Malang Tugujatim.id - Malam sudah larut dan jalanan Kota Jakarta tampak lengang. Lampu-lampu jalan...

Next Post
Barikan

Barikan dan Hari Gang Buntu: Fenomena Umum di Mojokerto di HUT Kemerdekaan RI

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID