MOJOKERTO, Tugujatim.id – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia terasa semarak hingga pelosok daerah. Bahkan tak jarang euforia ini membuat gang-gang di desa atau perumahan ditutup sementara untuk acara Barikan. Pasalnya warga ingin merayakan momen yang tiba setahun sekali tersebut.
Warganet menyebut fenomena ini dengan istilah Hari Gang Buntu Nasional. Dinamai demikian sebab banyak gang atau jalan yang ditutup sebab warga sedang menggelar syukuran atas kemerdekaan Republik Indonesia.
Syukuran tersebut juga mempunyai nama tersendiri. Warga menyebutnya Barikan. Tidak ada format resmi dari acara syukuran tersebut. Umumnya acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dilanjut dengan mendoakan para pahlawan yang telah gugur, disambung dengan sambutan oleh tokoh warga setempat, lalu ditutup dengan doa dan makan bersama.
Tak jarang pula, setelah Barikan, warga melanjutkan dengan aneka lomba. Mulai lomba kelereng, lomba adu yel-yel, maupun lomba lainnya.
Salah satu ketua Rukun Tetangga (RT) di Losari, Sidoharjo, Gedeg, Mojokerto yakni Iswanto mengatakan bahwa tradisi Barikan sudah berlangsung turun-temurun. Maksud dari acara tersebut sebenarnya sederhana yakni mendoakan pahlawan yang telah gugur demi kemerdekaan Republik Indonesia.
“Sekaligus bentuk syukur kepada Allah SWT bahwa Indonesia telah merdeka dari penjajah,” tandasnya, Minggu (17/08/2025).
Sementara soal Hari Gang Buntu Nasional, Iswanto mengatakan bahwa ditutupnya akses jalan juga dilakukan dalam waktu relatif singkat. Sebutan itu muncul sebab banyaknya gang atau desa yang sementara menutup jalan saat sedang berlangsung Barikan.
“Untuk Barikan saja. Setelah Barikan selesai ya kami buka lagi,” tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Hanif Nanda Zakaria
Editor: Darmadi Sasongko








