Tugujatim.id – Selama Agustus 2025, Mulyono sebagai salah satu kontributor Tugu Media Group bertekad untuk mendaki puncak gunung utama di barisan Pegunungan Muria. Barisan pegunungan ini memiliki 36 puncak pendakian yang terkenal dengan medan pendakian yang sulit dan menantang.
Meski ketinggian puncak di bawah 2.000 mdpl, namun jalan terjal diliputi akar akar pepohonan yang licin menjadi tantangan tersendiri bagi para pendaki dan pencinta alam. Mulyono mendaki seorang diri dan dibantu satu porter profesional yaitu mas Andre. Pendakian pertama adalah Puncak Abiyoso.
Baca Juga: Rayakan HUT Ke-80 RI, Susuri Puncak Utama Gunung Muria yang Legendaris
“Puncak Abiyoso merupakan salah satu destinasi spiritual di kawasan Gunung Muria yang sarat dengan kisah sejarah, mistis, sekaligus religius. Tempat ini tidak hanya menyuguhkan panorama alam yang indah dan menenangkan, tetapi juga menyimpan jejak spiritual yang diyakini oleh masyarakat sekitar sebagai pusat laku tapa dan doa,” kata Mulyono, penulis.
Di puncak ini terdapat sebuah tempat yang dipercaya oleh masyarakat sebagai lokasi topo pendem Presiden Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia. Keyakinan tersebut membuat Puncak Abiyoso semakin diselimuti nuansa sakral dan penuh misteri, seakan menyimpan rahasia sejarah bangsa yang tidak banyak terungkap secara umum.

“Selain itu, Puncak Abiyoso juga menjadi tujuan ziarah karena terdapat makam Wali Eyang Abiyoso, seorang tokoh spiritual yang dihormati dan diyakini memiliki karamah tinggi. Banyak peziarah datang untuk berdoa, bertawasul, dan mencari ketenangan batin di makam beliau,” imbuh Mulyono.
Perpaduan antara keindahan alam, aroma mistis, dan jejak spiritual menjadikan Puncak Abiyoso bukan sekadar tempat wisata biasa, melainkan juga ruang perenungan. Bagi sebagian orang, perjalanan menuju puncak ini adalah simbol perjalanan batin: menapaki jalan terjal untuk mencapai puncak keimanan dan kebijaksanaan.
Tidak heran, Puncak Abiyoso kini menjadi magnet bagi pendaki, peziarah, dan pencari ketenangan jiwa. Di setiap langkah yang menanjak, selalu terasa aura religius yang mengingatkan kita akan kebesaran Tuhan dan perjalanan para tokoh terdahulu yang meninggalkan warisan spiritual di tanah Jawa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Mulyono
Editor: Dwi Lindawati








