TUBAN, Tugujatim.id – Bukan seminar, bukan pula diskusi akademis. Puluhan anak muda dan pegiat literasi Tuban memilih duduk santai di sebuah kafe untuk menggelar ‘Ghibah Kebangsaan’, Sabtu (23/08/2025).
Acara yang digagas komunitas Gerakan Tuban Menulis (GTM) itu mengangkat tema ‘Meneropong Kemerdekaan dari Tuban’, sekaligus menjadi ruang refleksi apakah kemerdekaan benar-benar sudah dirasakan rakyat kecil.
Mutholibin, penggagas forum yang akrab disapa Bung Bin, membuka obrolan dengan nada kritis. Menurutnya, pembangunan hari ini hanya jadi dalih untuk keuntungan segelintir orang.
“Saya bukan akademisi, tapi ingin mengajak semua orang membuka pikiran. Ilmuan sekarang lupa pada buminya. Kalau pemerintah tidak transparan dan gagal mensejahterakan rakyat, apakah itu bisa disebut kemerdekaan?” tegasnya.
BACA JUGA: Perjuangan Gerakan Tuban Menulis Mem-Branding Bumi Wali Jadi Kota Literasi
Bung Bin menilai, kemiskinan menjadi akar dari banyak persoalan, termasuk maraknya kekerasan di kalangan anak muda.
“Bukan karena moral semata, tapi karena jeratan kemiskinan. Momentum kemerdekaan seharusnya membuat negara hadir memberi hak warganya,” lanjutnya.
Bung Bin juga menyoroti lemahnya kontrol publik terhadap kebijakan negara. Guru bangsa dan para intelektual hari ini beku. Padahal kemerdekaan itu semestinya saling mengingatkan dan mengontrol.
“Tapi kebijakan malah tumpang tindih, jauh dari kebutuhan dasar masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Ahmad Atho’illah, kolumnis Tuban yang juga menjadi pemantik diskusi, menegaskan bahwa transparansi pemerintah masih sebatas jargon.
“Masyarakat hanya mendengar soal PAD, tapi soal ke mana larinya anggaran, hampir tidak pernah jelas,” ucapnya.
BACA JUGA: Gerakan Tuban Menulis Ajak Sehat Literasi di Kalangan Pemuda-pemudi
Menurutnya, pejabat publik sering enggan mengakui kegagalan. Bagi mereka, mengakui kegagalan dianggap kebodohan. Padahal itu justru langkah penting untuk memperbaiki diri.
Atok menambahkan, pejabat negara seharusnya sadar bahwa setiap tindakannya akan mendapat sorotan publik.
“Jika kesalahan dianggap sepele, maka yang terjadi adalah ketidakpedulian. Padahal, sekecil apapun kebijakan yang dibuat, dampaknya langsung terasa di masyarakat,” ungkapnya.
Menutup diskusi, Alumni Aktivis PMII Tuban menegaskan bahwa kebijakan pemerintah harus berpihak pada kebutuhan dasar rakyat. “Kalau hasilnya hanya menguntungkan kelompok tertentu, itu bukan keberhasilan, melainkan visi pribadi penguasa,” tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Muchamad Abdurrochim
Editor: Darmadi Sasongko








