Perjuangan Gerakan Tuban Menulis Mem-Branding Bumi Wali Jadi Kota Literasi

Gerakan Tuban Menulis. (Foto: Dok Gerakan Tuban Menulis/Tugu Jatim)
Awarding Menulis Surat untuk bupati dan wakil bupati di akhir 2021.(Foto: Dok Gerakan Tuban Menulis)

TUBAN, Tugujatim.id – Lemahnya minat baca menjadi permasalahan secara nasional, begitu juga di Tuban. Banyak pemuda di Bumi Ronggolawe ini abai dengan media buku yang seharusnya menjadi jendela dunia itu. Kegelisahan inilah yang lantas ditangkap komunitas literasi di Tuban, kemudian didirikanlah Gerakan Tuban Menulis (GTM) pada 2015 silam.

Munculnya komunitas yang digawangi anak muda dari berbagai latar belakang perguruan tinggi kala itu lantas menjadi motor berdirinya komunitas literasi lain di Tuban. Sebab, saat itu belum banyak gerakan literasi yang berani dengan percaya diri menampakkan diri. Namun, Gerakan Tuban Menulis mampu mendobrak stigma bahwa komunitas literasi tak diminati. Kini komunitas ini terus bertumbuh dan menyebarkan virus literasi dan menjadikan Tuban Kota Literasi.

Ketua Gerakan Tuban Menulis Mutholibin saat ditemui Tugu Jatim mengatakan, untuk meningkatkan minat baca pada masyarakat tidak semata-mata tugas pemerintah daerah saja. Namun, dia mengatakan, elemen masyarakat juga memiliki kesempatan yang sama untuk meningkatkan minat baca di daerahnya.

Gerakan Tuban Menulis. (Foto: Dok Gerakan Tuban Menulis/Tugu Jatim)
Salah satu kegiatan Gerakan Tuban Menulis saat menapaktilasi pemikiran Bung Karno di Blitar dalam peringatan Haul ke-52. (Foto: Dok Gerakan Tuban Menulis)

Seperti keberadaan rumah baca ataupun taman bacaan masyarakat. Namun, saat itu keberadaan rumah baca di masyarakat yang minim fasilitas. Untuk itu, GTM mendorong untuk membantu memecahkan permasalahan tersebut.

”Kami membuat becak baca sejak 2014 untuk membantu meningkatkan minat baca bagi masyarakat di Kabupaten Tuban,” ujarnya pada Kamis (15/09/2022).

Dia menjelaskan, becak baca lengkap dengan buku-buku bacaan dan tape sebagai bunyi-bunyian untuk menarik minat masyarakat untuk datang yang stand by di Car Free Day GOR Tuban setiap Minggu.

Pemilihan becak sebagai sarana untuk memuat buku-buku bacaan dengan alasan sebagai sarana transportasi tradisional masyarakat Tuban yang sampai saat ini masih eksis. Di samping itu, becak baca ini bisa lebih fleksibel untuk memindahkan media baca.

Selain becak baca, menurut alumnus UIN Malang ini, banyak kegiatan besar dilakukan oleh GTM. Seperti lomba menulis esai dan cerpen.

”Ini kegiatan pertama kami dan dua buku pun akhirnya dicetak. Satu buku kumpulan esai berjudul ‘Tubanku, Tubanmu, Tuban Kita’. Untuk kumpulan cerpennya berjudul ‘Cahaya di Ujung Pantura’,” bebernya.

Tak berhenti di situ saja, tingkah pola para pemuda pencinta literasi ini berlanjut membuat pawai buku Nusantara yang jatuh pada 23 April 2015. GTM mengajak pelajar untuk turun ke jalan menggelar pawai dengan dibarengi pertunjukan barongsai.

GTM juga pernah membuat Konser Musik dan Literasi. Kemudian membuat Cangkrukan Literasi yang dilaksanakan di Caffe Nusantara, Bedah Buku 24 Jam Non Stop, Pawai Literasi Nusantara, Launching Buku Karya Anggota GTM, Bioskop Literasi.

Gerakan Tuban Menulis. (Foto: Dok Gerakan Tuban Menulis/Tugu Jatim)
Launching Buku karya anggota Gerakan Tuban Menulis pada 2020. (Foto: Dok Gerakan Tuban Menulis)

Mereka juga menggelar Lomba Menulis Sejarah Desa, Menulis Surat untuk Bupati dan Wakil Bupati Tuban, Lomba Bahasa Jawa SMPN Se-Kabupaten Tuban, Temu Pegiat Literasi Se-Kabupaten Tuban. Terbaru, GTM membuat lomba pidato bahasa Jawa yang dihadiri langsung oleh Bupati Tuban Aditya Halindra Farizky.

“Untuk karya, sudah ada 40 buku yang ditelurkan anggota GTM,” ungkapnya lagi.

Semua upaya ini, bapak dua anak ini melanjutkan, karena GTM ingin membuat atmosfer Tuban bisa seperti Yogyakarta dan Malang yang memang kental dengan dunia literasi.

”Anggota Gerakan Tuban Menulis sadar diri bila Tuban tak bisa disamakan dengan Jogya. Begitu juga Tuban tak bisa disamakan dengan Malang. Tapi, dengan kegembiraan di dalam komunitas itu berkeyakinan nuansa keilmuan di Jogya dan Malang akan sedikit terasa,” tegasnya.

Menurut Mutholibi, GTM juga memiliki kepedulian literasi di desa. Jadi, turun sampai ke desa mendampingi pendirian Taman Baca Masyarakat di Desa Temayang, Kecamatan Kerek.

”Ini upaya kami untuk membuat Tuban sebagai Kota Literasi,” tutupnya.

Catatan ini adalah bagian dari program Jelajah Jawa-Bali tentang Inspirasi dari Kelompok Kecil yang Memberi Arti oleh Tugu Media Group x PT Paragon Technology and Innovation. Program ini didukung oleh Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP), Pondok Inspirasi, Genara Art, Rumah Wijaya, dan pemimpin.id.