Tugujatim.id – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak hanya menjadi momentum refleksi spiritual, tetapi juga sarat dengan tradisi dan simbol-simbol unik yang lahir dari kearifan lokal masyarakat Muslim.
Salah satunya adalah mengguna buah-buahan dalam peringatan Maulid, yang hingga kini masih lestari di berbagai daerah.
Dilansir dari NU Online, masyarakat setempat kerap membawa beragam hasil bumi, terutama buah-buahan, sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat Allah SWT.
Tradisi ini tidak hanya bermakna sosial, tetapi juga memiliki nilai simbolik yang mendalam. Buah yang dibawa biasanya antara lain belimbing, manggis, jeruk bali, pisang, hingga buah alternatif seperti melon, apel, atau nanas.
Hal ini juga dijelaskan dalam jurnal berjudul Signifikansi Simbolik dan Filosofi Lima Macam Buah dalam Tradisi Maulid di Ponpes Assalafi Al Fithrah Surabaya. Jurnal itu, menguraikan bagaimana buah-buahan memiliki peran simbolis dalam memperkuat makna perayaan kelahiran Rasulullah SAW.
Hal ini juga mendapat legitimasi dari ajaran Hadratu Syaikh Achmad Asrori Al Ishaqi Ra., pengasuh Ponpes Al Fithrah Surabaya. Beliau menekankan adanya makna mendalam dari lima jenis buah yang kerap disajikan saat Maulid. Setiap buah menyimpan simbol yang dapat dijadikan renungan bagi umat Islam.
1. Belimbing: Simbol Keberkahan dan Rukun Islam
Buah pertama yang biasa dibawa adalah belimbing. Buah ini memiliki bentuk bintang dengan lima sudut, yang oleh masyarakat ditafsirkan sebagai simbol rukun Islam. Selain itu, belimbing juga menjadi lambang shalat lima waktu yang wajib dikerjakan oleh setiap Muslim.
Dari sudut pandang lain, belimbing juga mencerminkan keberkahan dari segala penjuru arah. Artinya, umat Islam berharap limpahan rahmat Allah SWT bisa datang dari timur, barat, utara, selatan, maupun dari langit dan bumi. Filosofi ini memperkuat keyakinan bahwa hidup akan berkah jika rukun Islam dijalankan dengan baik.
2. Manggis: Kejujuran dan Ketulusan Hati
Buah kedua adalah manggis, yang dikenal dengan kulit tebal berwarna ungu gelap. Uniknya, jumlah segi pada bagian bawah kulit manggis selalu sama dengan jumlah isi buah di dalamnya. Hal ini melambangkan kejujuran: apa yang terlihat di luar sama dengan yang ada di dalam.
Selain itu, daging buah manggis yang putih bersih menjadi simbol ketulusan niat dan kebersihan hati. Filosofi ini sejalan dengan pesan Rasulullah SAW bahwa amal perbuatan seseorang akan diterima Allah jika dilandasi niat yang tulus. Dengan demikian, manggis mengajarkan pentingnya konsistensi antara ucapan, perbuatan, dan isi hati.
3. Jeruk Bali: Kekuatan dan Kelembutan
Buah berikutnya adalah jeruk bali atau dalam bahasa Jawa dikenal sebagai jeruk gede. Jeruk ini memiliki kulit yang tebal dan kuat, namun isinya lembut serta menyegarkan. Filosofi yang terkandung adalah keseimbangan antara kekuatan dan kelembutan dalam diri seorang Muslim.
Selain itu, warna cerah dan aroma jeruk yang segar dianggap sebagai simbol kepribadian yang menyenangkan. Dengan demikian, jeruk bali mengajarkan umat Islam untuk menjadi pribadi yang tangguh sekaligus mampu memberi kenyamanan bagi orang lain.
4. Pisang: Manfaat dan Kerendahan Hati
Buah pisang juga selalu hadir dalam tradisi Maulid Nabi. Filosofi yang terkandung dalam pisang adalah bahwa hampir semua bagian dari tanaman pisang memiliki manfaat, mulai dari buah, daun, hingga batangnya.
Hal ini menjadi simbol bahwa seorang Muslim harus berusaha memberi manfaat bagi sesama, sesuai dengan sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.”
Selain itu, bentuk pohon pisang yang tidak terlalu tinggi melambangkan sifat lemah lembut dan rendah hati. Nilai kerendahan hati inilah yang menjadi teladan utama Rasulullah SAW dalam kepemimpinannya.
5. Melon, Apel atau Nanas: Buah Simbol Ketenangan
Buah kelima yang seringkali dijadikan pilihan adalah melon, apel, atau nanas. Ketiga buah ini disebut sebagai alternatif, sehingga umat dapat memilih salah satunya.
Di antara ketiga buah tersebut, melon memiliki filosofi yang kuat, yakni melambangkan sifat “adem” atau menyejukkan hati. Artinya, seorang Muslim diharapkan dapat menjadi penyejuk bagi lingkungannya, menebar kedamaian, dan tidak mudah terpancing emosi.
Apel juga sering dimaknai sebagai simbol kesehatan dan kekuatan, sementara nanas dengan bentuknya yang unik mencerminkan keteguhan dalam menghadapi cobaan hidup.
Tradisi Simbolik yang Terus Hidup
Tradisi membawa buah dalam peringatan Maulid Nabi SAW bukan sekadar ritual budaya, melainkan sarat makna spiritual. Setiap buah memiliki simbol tersendiri yang mengajarkan nilai kejujuran, keberkahan, kerendahan hati, hingga manfaat bagi sesama.
Tradisi ini juga dapat menjadi sarana mempererat silaturahmi, memperkuat rasa syukur atas nikmat Allah, sekaligus menanamkan nilai moral kepada generasi muda.
Dari belimbing yang melambangkan rukun Islam hingga melon yang menyejukkan, filosofi lima buah dalam tradisi Maulid Nabi di Ponpes Al Fithrah Surabaya mengingatkan bahwa ajaran Rasulullah SAW tidak hanya hidup dalam teks, tetapi juga tercermin dalam budaya yang diwariskan turun-temurun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Feni Yusnia
Editor: Darmadi Sasongko








