MALANG, Tugujatim.id — Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Malang (LPPM UM) terus memperkuat perannya dalam riset kolaboratif lintas kampus dan sekolah. Kolaborasi LPPM UM ini digelar di Aula Tugu SMAN 4 Malang, Kamis (04/09/2025).
Dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD), LPPM UM mengangkat tema “Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Riset di Era Industri 4.0 melalui Kolaborasi Efektif dan Pengalaman Berdaya Saing” dan Stetsa Campus Expo.
Sekretaris LPPM UM yang juga Ketua Peneliti Dr Hary Suswanto ST MT menjelaskan adanya dua riset strategis yang saat ini tengah dijalankan, yakni matching fund dan penelitian pusat unggulan pendidikan.
“Matching fund dan penelitian pusat unggulan pendidikan menjadi dua riset yang strategis saat ini,” ujarnya.
Dua Judul Penelitian Strategis
Hary mengatakan, penelitian strategis yang pertama “Efisiensi dan Efektifitas Model Evaluasi Pembelajaran sebagai Upaya Peningkatan Prestasi Pembelajaran Siswa SMA-SMK”. Menurut dia, ini skema matching fund yang melibatkan kolaborasi antara Universitas Negeri Malang (UM), Universiti Teknologi Malaysia (UTM Johor Bahru), dan Universitas Madura (Unira). Fokus penelitiannya pada efisiensi dan efektivitas model evaluasi pembelajaran sebagai upaya peningkatan kualitas pendidikan.
Sementara penelitian kedua, dia melanjutkan, berjudul “Pengembangan Produk Evaluasi Pembelajaran Terintegrasi Immersive Learning untuk Sekolah Menengah Kejuruan” yang berada dalam payung pusat unggulan pendidikan. Riset ini memperluas jangkauan kolaborasi, tidak hanya dengan perguruan tinggi (UM, UTM, Unira), tetapi juga melibatkan sekolah-sekolah, khususnya SMA dan SMK di Malang. Tema utamanya adalah evaluasi penggunaan media Immersive Learning berbasis Augmented Reality (AR) dalam pembelajaran.

Hary juga menegaskan, penelitian immersive learning berangkat dari kenyataan bahwa banyak sekolah yang tidak memiliki peralatan laboratorium lengkap. Melalui teknologi AR, siswa dapat mengakses media pembelajaran tiga dimensi yang mampu merepresentasikan alat atau peralatan yang tidak tersedia di sekolah.
“Immersive learning ini fokus pada Augmented Reality (AR), bukan Virtual Reality. Dengan AR, siswa SMA maupun SMK bisa melihat representasi alat dalam bentuk 3D. Jadi, sekolah-sekolah yang tidak punya peralatan tetap bisa memanfaatkan teknologi ini sebagai media pembelajaran,” jelasnya.
Media AR Memudahkan Siswa Memahami Konsep Pembelajaran
Menurut hasil uji coba awal, dia mengatakan, media AR terbukti membantu siswa kelas 10 SMA–SMK dalam memahami konsep pembelajaran. Namun, karena sebagian besar subjek penelitian masih baru lulus SMP, penguasaan terhadap teknologi ini masih perlu ditingkatkan.
Penelitian ini telah menghasilkan produk media berbasis AR yang sudah diuji coba dalam skala kecil pada FGD pertama di bulan Juni 2025. Pada FGD kedua ini, skala penelitian diperluas ke lebih banyak sekolah.
“Tujuan akhirnya adalah diseminasi hasil riset kepada para pemangku kepentingan, baik guru, sekolah, maupun cabang dinas. Harapannya, guru-guru bisa mengadopsi media ini, lalu menularkannya kepada siswa. Dengan begitu, manfaat teknologi immersive learning bisa lebih luas,” ungkapnya.
Setelah tahap diseminasi, dia melanjutkan, hasil penelitian ini akan dituangkan dalam bentuk artikel ilmiah dan dipublikasikan di jurnal bereputasi.
Penelitian matching fund dan pusat unggulan pendidikan ini harapannya dapat menjadi contoh sinergi riset antara kampus, sekolah, dan mitra internasional. Dengan pemanfaatan teknologi terbaru berbasis Internet of Things (IoT) dan Augmented Reality, LPPM UM bersama mitra terus mendorong terciptanya inovasi pembelajaran yang efektif, efisien, dan relevan dengan tuntutan era Industri 4.0. (adv)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Safiruddin Jailani/Magang
Editor: Dwi Lindawati








