JEMBER, Tugujatim.id – Gang sempit di Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember, seketika dipenuhi para warga Pondok Panili Jember yang menggelar perayaan Grebeg Maulid Nabi Muhammad SAW.
Di jalan dengan lebar sekitar tiga meter itu, puluhan gunungan dari perwakilan setiap blok diarak keliling kompleks untuk merayakan panutan umat muslim.
Kegiatan yang dipimpin langsung KH Baiquni Purnama (Gus Baiqun) yang merupakan Tokoh Agama dan Pengasuh Majelis Sholawat Al Ghofilin ini mengusung tema Habis Gelap Terbitlah Terang.
Menurut Gus Baiqun, perayaan ini merupakan bentuk tasyakuran atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. “Kami warga Pondok Panili mengadakan tasyakur atas lahirnya Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, ikut berbahagia, ikut senang bersyukur atas hari lahirnya Rasulullah,” ujarnya pada Jumat (5/9/2025).
BACA JUGA: Menilik Tradisi Keresan di Mojokerto Saat Bulan Maulid Nabi Muhammad SAW Tiba
Menurutnya, kegiatan itu didasarkan pada sebuah hadis tentang kisah Abu Lahab, paman Nabi yang kafir, tetapi selalu memperingati perayaan Nabi Muhammad SAW.
“Di dalam satu hadis diceritakan bahwa Abu Lahab yang kafir saja, bertasyakur pada hari lahirnya Rasulullah dilahirkan, sehingga membuat Abu Lahab setiap mendapatkan semacam keringanan,” jelas Gus Baiqun.

Ia memperingatkan bahwa, sudah selayaknya sebagai umat muslim, bahkan dinilai lebih berhak mendapatkan syafaat dari adanya peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, yang dimeriahkan puluhan gunungan yang penuh filosofi.
“Tentu kita umat Islam, umat Rasulullah ini berharap dengan mengadakan acara tasyakur atas hari lahirnya Nabi, kita seharusnya lebih berhak mendapatkan syafaat dari beliau baginda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,” tambah Gus Baiqun.
Filosofi Tema Habis Gelap Terbitlah Terang
Perayaan kali ini memiliki makna simbolis yang mendalam. Prosesi dimulai dengan penari jathilan berpakaian serba hitam di barisan terdepan, kemudian diikuti warga yang mengenakan pakaian putih.
BACA JUGA: Filosofi Lima Buah dalam Tradisi Maulid Nabi, Belimbing Hingga Pisang
“Filosofinya kita usir kegelapan dari dalam hati, dari dalam rumah, dari dalam kampung. Semua warga berpakaian serba putih ini menandakan hilangnya kegelapan, hilangnya keburukan, hilangnya kebodohan,” papar Gus Baiqun menjelaskan makna di balik tema tersebut.

Harapan dari kegiatan ini adalah masyarakat akan lebih semangat beribadah, belajar, dan berinteraksi setelah mengikuti perayaan. “Yang tertinggal nanti di kampung kami, di tempat tinggal kami malah yang baik,” ungkap pengasuh majelis sholawat tersebut.
Puncak perayaan ditandai dengan parade 20 gunungan yang dibuat oleh seluruh blok di kawasan Pondok Panili. Setiap blok dari 10 blok yang ada menyumbangkan dua gunungan sebagai bentuk partisipasi dalam perayaan.
“Gunungannya dari hasil bumi, hasil jualan masyarakat. Setiap blok di sini ada 10 blok, masing-masing blok mengeluarkan dua gunungan,” kata Gus Baiqun.
Kegiatan Grebeg Maulid ini tidak hanya menjadi momen spiritual, tetapi juga ajang mempererat silaturahmi dan gotong royong antar warga Pondok Panili dalam merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Diki Febrianto
Editor: Darmadi Sasongko








