SURABAYA, Tugujatim.id – Tangis haru bercampur kelegaan menyelimuti rumah keluarga almarhum Muhammad Azka Ibadurrahman (13) di Jalan Randu Indah No. 14 Kenjeran, Surabaya. Santri kelas 1 SMP di Ponpes Al Khoziny Sidoarjo itu akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia setelah hampir sepekan dinyatakan hilang di reruntuhan bangunan.
Jenazah Azka berhasil diidentifikasi pada Sabtu (4/10/2025) di RS Bhayangkara Surabaya dan langsung dimakamkan keluarga di Madura, Minggu dini hari (5/10/2025).
“Alhamdulillah, sudah ketemu. Rasa capek menunggu itu langsung hilang,” kata sang ayah, Abd Rohim (47), dengan suara lirih saat ditemui di rumah duka, Minggu pagi, (5/10/2025).
Rohim masih mengingat jelas kabar yang datang lewat telepon sekitar pukul 23.00 WIB dari RS Bhayangkara. Petugas mengabarkan bahwa telah ditemukan jenazah dengan ciri-ciri yang cocok dengan anaknya. Setelah dilakukan pencocokan DNA, hasilnya dinyatakan sesuai.

“Begitu dinyatakan cocok, saya langsung ke rumah sakit bersama keluarga. Di sana sudah disiapkan semua, dari pemulasaran sampai salat jenazah yang dibantu PCNU. Setelah itu kami bawa ke Madura,” kenangnya.
Meski merasa lega akhirnya menemukan sang anak, Rohim tak sanggup menatap langsung kondisi jenazah Azka. “Saya tidak sanggup melihat. Yang penting ikhlas, nanti anak saya yang narik saya ke surga,” tuturnya menahan air mata.
Proses Pemakaman Dini Hari
Jenazah Azka diberangkatkan ke Madura sekitar pukul 03.00 WIB menggunakan mobil ambulans. Sepanjang proses, mulai dari identifikasi hingga pemakaman, pihak keluarga mendapat pendampingan penuh dari Basarnas, Kepolisian, dan Pemprov Jatim.
“Alhamdulillah, semuanya dibantu dan difasilitasi. Bahkan selama di posko, kebutuhan kami semua dicukupi, dari makan, minum, sampai sabun mandi. Kami berterima kasih kepada semua pihak,” ujar Rohim.
Ikhlas! Tak Akan Menuntut Pihak Ponpes
Meski kehilangan anak tercinta, Rohim menegaskan tak akan menuntut pihak pondok pesantren atas kejadian tersebut. “Ini musibah, tidak ada yang mau. Bahkan kalau ada rezeki, saya ingin menyumbang ke pondok. Kasihan kiai-nya,” ucapnya dengan tulus.
Sebelumnya, hasil analisis ahli konstruksi dari Departemen Teknik Sipil ITS Surabaya menyebut adanya indikasi kegagalan struktur pada bangunan ponpes yang ambruk. Namun, bagi Rohim, hal itu tak mengurangi keikhlasannya.
Ia juga menepis anggapan bahwa pembangunan gedung baru di ponpes berasal dari iuran wali santri. “Tidak pernah ada tarikan. Kami hanya tahu kalau itu bantuan dari para alumni. Kami cuma bayar SPP saja,” jelasnya.

Mengikuti Jejak Sang Kakak
Azka dikenal sebagai anak pendiam dan penurut. Ia baru tiga bulan mondok di Al-Khoziny setelah lulus SD. Keinginannya masuk ponpes muncul karena ingin menyusul sang kakak, yang lebih dulu belajar di tempat yang sama dan kini melanjutkan kuliah di STAI Al-Khoziny Sidoarjo.
“Azka ini suka baca buku agama. Biasanya baca buku yang dibawa kakaknya dari pondok. Kalau di rumah jarang keluar, lebih banyak membaca,” kenang Rohim.
Sang kakak selamat dari tragedi karena sedang mengikuti perkuliahan di luar lokasi saat bangunan ambruk.
“Alhamdulillah, kakaknya selamat. Kalau tidak, entah bagaimana perasaan kami,” imbuhnya.
Doa dan Harapan di Tengah Duka
Kini keluarga hanya bisa berdoa agar Azka diterima di sisi Allah SWT.
“Kami ikhlas. Semoga anak saya tenang di sana dan menjadi jalan bagi kami menuju surga. Untuk keluarga lain yang senasib, semoga diberi kekuatan dan kesabaran,” tutur Rohim dengan mata berkaca-kaca.
Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh petugas SAR yang tanpa lelah bekerja siang malam mencari korban.
“Mereka luar biasa. Tanpa mereka, mungkin anak saya belum ditemukan,” pungkas Rohim.
Hingga kini, proses evakuasi dan identifikasi korban masih terus dilakukan oleh tim SAR gabungan dan DVI Polda Jatim.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Layla Aini
Editor: Darmadi Sasongko








