MOJOKERTO, Tugujatim.id – Kisah kiai di Mojokerto dapat ditelusuri lewat sebuah buku. Salah satu buku yang dapat dijadikan referensi berjudul Biografi Kiai Mojokerto, karangan Isno Woeng Sayun terbitan Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) Kabupaten Mojokerto.Buku ini memuat biografi 11 kiai sepuh di Mojokerto. Buku ini diawali dengan biografi KH Nawawi, seorang kiai kharismatik kelahiran Lespadangan, Terusan, Gedeg, Kabupaten Mojokerto. KH Nawawi dikenal akan perjuangannya saat masa pendudukan Belanda.
Selain KH Nawawi, kiai lain yang juga berperan besar dalam dunia militer saat awal-awal kemerdekaan Indonesia adalah KH Munasir Ali. Karena terkenal berani dan tangguh, KH Munasir diangkat menjadi Wakil Ketua Laskar Hizbullah Mojokerto.
Tak hanya itu, KH Munasir juga menjadi staf Dewan Perjuangan Daerah Surabaya (DPDS) yang juga membentuk Tentara Rakyat Djelata sebanyak 2 ribu orang. Sementara, karir militer KH Munasir Ali menemui ujungnya pasca mundur pada 31 Maret 1953. KH Munasir mundur dari dunia militer dengan pangkat terakhir Mayor dengan nomor NRP 10512.
Selain itu, buku ini mengisahkan para kiai sepuh Mojokerto dari beragam sisi. Kiai-kiai tersebut memiliki kisah tersendiri yang mungkin belum banyak ditemui di daerah lain.
Seperti sosok KH Achyat Halimi atau yang akrab dikenal dengan sebutan Abah Yat. KH Achyat Halimi dikenal sebagai sosok penting dibalik berlimpahnya aset kelolaan NU Kabupaten Mojokerto.
Lalu, KH Mudzakir Maruf. Siapa sangka, kiai ini ternyata menggeluti usaha rongsokan. Meski demikian beliau mencetuskan rutinan Ngaji Reboan di Masjid Agung Al Fattah Alun-Alun Kota Mojokerto yang masih berlangsung hingga kini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Hanif Nanda Zakaria
Editor: Darmadi Sasongko








