MALANG, Tugujatim.id – Menjadi guru bukan sekadar soal menyampaikan materi di kelas, tetapi juga membentuk karakter, memahami siswa, dan belajar dari setiap pengalaman. Hal itulah yang dirasakan Imelda Adistya Ayu Nuradilah, mahasiswa Pendidikan Kimia UM angkatan 2021, selama mengikuti Program Asistensi Mengajar (AM) di SMAN 1 Purwosari, Pasuruan.
Diketahui, Program Asistensi Mengajar ini dilaksanakan mulai 26 Agustus hingga 6 Desember 2024, memberikan kesempatan bagi mahasiswa UM untuk berperan langsung dalam proses pembelajaran sekaligus memahami dinamika dunia pendidikan di sekolah.
Baca Juga: Mahasiswa UM Dorong Inovasi Pembelajaran Digital di SMAN 1 Pandaan
Sebelum terjun mengajar, para mahasiswa mempersiapkan modul ajar, lembar kerja peserta didik (LKPD), serta media pembelajaran yang disesuaikan dengan Kurikulum Merdeka.
Imelda sendiri bertanggung jawab mengajar mata pelajaran Kimia di kelas XII-B1 sekaligus terlibat dalam pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) bertema Demokrasi di kelas X.
Pendekatan ini tidak hanya menekankan pada transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter dan nilai kebangsaan pada siswa.

Selain fokus pada kegiatan akademik, mahasiswa Pendidikan Kimia UM ini juga dilibatkan dalam berbagai aktivitas non-akademik sekolah. Imelda, misalnya, aktif mendampingi OSIS, mengelola laboratorium, membantu piket tata tertib, serta ikut dalam kegiatan pemilihan duta lingkungan.
Keterlibatan tersebut memperluas pandangan mahasiswa terhadap dunia pendidikan yang tidak hanya berpusat di ruang kelas, tetapi juga dalam membangun lingkungan sekolah yang dinamis dan partisipatif.
Tidak berhenti di situ, Imelda juga berkesempatan mengenal sisi administratif dunia pendidikan. Dia kerap membantu piket ruang guru dan lobi sekolah, berinteraksi langsung dengan guru dan tenaga kependidikan.
Melalui pengalaman ini, mahasiswa Pendidikan Kimia UM ini belajar mengenai manajemen sekolah, komunikasi efektif, dan etika kerja profesional.

Menurut dia, menjadi guru bukan hanya soal menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga mengenal karakter siswa, memahami kebutuhan belajar mereka, serta menjadi teladan di setiap tindakan. Tantangan yang dihadapi selama program ini justru menjadi motivasi untuk terus belajar dan beradaptasi dengan beragam situasi pembelajaran.
Melalui Program Asistensi Mengajar Universitas Negeri Malang, banyak pengalaman berharga yang Imelda peroleh selama mengikuti Program Asistensi Mengajar. Bukan hanya sekadar kewajiban akademik, melainkan juga sarana pembelajaran kehidupan yang akan sangat berguna di masa depan.
Program ini juga menjadi jembatan penting bagi mahasiswa untuk bertransformasi dari calon pendidik menjadi sosok guru yang reflektif, empatik, dan inspiratif. (adv)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Feni Yusnia
Editor: Dwi Lindawati








