JAKARTA, Tugujatim.id – Sekolah Rakyat menjadi salah satu upaya pemerintah dalam memenuhi hak anak untuk memperoleh pendidikan yang layak dan lingkungan belajar yang berkualitas. Hal itu disampaikan Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul saat menjadi narasumber dalam Program Talkshow Spesial Hari Anak Nasional TV One, Senin (20/7/2026) malam.
Dalam talkshow tersebut, Gus Ipul hadir bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi, Pakar Neurosains dr. Ryu Hasan, Sp.BS, serta tokoh publik dan pemerhati anak Shahnaz Haque.
Gus Ipul mengatakan perkembangan teknologi menghadirkan tantangan baru dalam upaya melindungi anak. Karena itu, pemerintah terus memperkuat perlindungan, pendampingan, hingga rehabilitasi bagi anak-anak yang membutuhkan.
“Dengan adanya kemajuan teknologi, tantangan-tantangan kita dalam rangka memberikan perlindungan, pendampingan, dan tadi juga kadang-kadang juga dibutuhkan rehabilitasi. Ini menjadi hal yang penting,” ujarnya.
Menurut Gus Ipul, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, salah satu perhatian pemerintah saat ini adalah mempersiapkan masa depan anak-anak Indonesia melalui penguatan keluarga, khususnya keluarga rentan.
“Bagaimana kita mempersiapkan keluarga-keluarga rentan, di desil 1, desil 2, keluarga yang belum beruntung, keluarga yang belum terbawa dalam proses pembangunan. Salah satu pekerjaan rumah besar bangsa kita hari ini adalah masalah ketimpangan,” katanya.
Baca Juga : Sekolah Rakyat dan Renovasi Rumah Orang Tua Dipercepat, Kemensos-PKP Perkuat Sinergi
Sekolah Rakyat Jangkau Anak Rentan
Gus Ipul menjelaskan, pada peringatan Hari Anak Nasional pemerintah ingin memastikan seluruh anak memperoleh pendidikan dengan lingkungan yang berkualitas di tengah berbagai tantangan yang dihadapi saat ini.
“Secara khusus hari ini dalam kaitannya dengan Hari Anak, kita ingin anak-anak kita ke depan ini memperoleh pendidikan dengan lingkungan berkualitas. Ini pekerjaan rumah besar kita di tengah-tengah tantangan kekinian yang luar biasa. Ada pergaulan bebas, ada narkoba, ada hal-hal lain yang membuat anak-anak memperoleh lingkungan yang tidak berkualitas,” ujarnya.
Ia mengatakan perhatian tersebut diberikan kepada keluarga-keluarga rentan atau The Invisible People yang selama ini belum sepenuhnya menikmati hasil pembangunan.
Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), Gus Ipul menyebut masih terdapat hampir empat juta anak yang belum sekolah, tidak sekolah, putus sekolah, maupun berpotensi putus sekolah. Melalui Sekolah Rakyat, pemerintah berupaya menjangkau kelompok tersebut.
“Maka itulah sekarang kita ini sedang bekerjasama agar bagaimana bisa menjangkau seluruh anak-anak kita memperoleh pendidikan yang baik, pendidikan dengan lingkungan yang berkualitas,” katanya.
“Salah satunya adalah Sekolah Rakyat. Ini adalah sekolah berasrama, tidak ada tes akademik, tapi menjangkau anak tidak sekolah, belum sekolah, putus sekolah. Sehingga mereka ini diharapkan memperoleh pendidikan yang baik sehingga masa depannya lebih baik,” lanjut Gus Ipul.

Perkuat Pendidikan dan Keluarga
Gus Ipul menjelaskan, rata-rata lebih dari 65 persen orang tua siswa Sekolah Rakyat dari keluarga tidak mampu merupakan lulusan sekolah dasar. Melalui program tersebut, pemerintah berharap para siswa tidak hanya menyelesaikan pendidikan, tetapi juga dapat menjadi agen perubahan bagi keluarga dan lingkungannya.
Ia berharap Sekolah Rakyat dapat menjadi inspirasi sekaligus model pendidikan bagi keluarga-keluarga rentan.
“Ini adalah hal yang kita kerjakan bersama dengan Bu Arifah, dengan kementerian lain, banyak sekali kementerian yang terlibat dan ini untuk pertama kalinya diselenggarakan di era Bapak Presiden Prabowo ini,” ujarnya. Kemensos,
Gus Ipul menambahkan, pemerintah terus berupaya mencari solusi terhadap berbagai persoalan yang masih dihadapi, termasuk ketepatan penyaluran bantuan sosial serta pemenuhan hak anak atas pendidikan dan perlindungan.
“Kita jujur dan terbuka bahwa memang masih ada bansos yang belum tepat sasaran. Kita jujur dan terbuka banyak anak-anak kita yang belum sekolah, belum memperoleh perlindungan, belum memperoleh pendampingan, dan untuk itu harus dicarikan solusi,” tuturnya. (Adv)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Editor: Mochamad Abdurrochim








