Tugujatim.id – Memasuki akhir Oktober Jawa Timur mulai diguyur hujan petir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui laman resminya menyampaikan fenomena ini lazim terjadi pada awal musim hujan dan menjadi dampak dari kondisi atmosfer yang sedang sangat labil.
Awan Konvektif Picu Hujan Deras dan Petir
Awal musim hujan ditandai dengan meningkatnya aktivitas awan konvektif, yaitu awan yang terbentuk akibat pemanasan permukaan bumi oleh sinar matahari. Ketika udara lembap naik ke atmosfer, terjadi pertemuan massa udara panas dan dingin yang memicu terbentuknya awan cumulonimbus. Awan inilah yang menjadi penyebab utama munculnya hujan deras, angin kencang, dan petir di masa peralihan musim.
Awan cumulonimbus terbentuk karena udara lembap naik dengan cepat (updraft) hingga mencapai ketinggian tempat suhu sangat rendah. Di dalam awan tersebut, partikel air dan es saling bertumbukan, membentuk muatan listrik positif dan negatif. Ketika perbedaan muatan menjadi besar, terjadi pelepasan energi listrik berupa kilat dan petir.
Sementara itu, hujan deras dan angin kencang muncul akibat arus udara turun cepat (downdraft) dari awan tersebut. Proses inilah yang menyebabkan hujan di awal musim sering kali disertai kilatan petir dan hembusan angin kuat.
Fenomena cuaca ekstrem di awal musim hujan juga dipicu oleh kontras suhu antara siang dan malam yang lebih besar dibandingkan saat musim hujan sudah stabil.
Permukaan tanah yang lama kering selama kemarau menyerap panas lebih cepat di siang hari, lalu melepaskannya saat sore hingga malam.
Perbedaan suhu yang tajam ini memperkuat konveksi udara dan mempercepat terbentuknya awan badai. Karena itu, hujan pertama biasanya terasa lebih deras dan sering disertai petir maupun angin kencang.
Aktivitas Siklon dan Gelombang Atmosfer Perparah Cuaca Ekstrem
Selain faktor lokal, BMKG mencatat bahwa pada Oktober 2025, kondisi cuaca turut dipengaruhi oleh gelombang atmosfer dan pembentukan siklon tropis di sekitar wilayah Indonesia.
Faktor-faktor ini menyebabkan pertumbuhan awan hujan menjadi lebih intens, terutama di wilayah selatan Indonesia seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
Imbauan BMKG: Tetap Waspada di Masa Peralihan Musim
BMKG mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi hujan sedang hingga sangat lebat di beberapa wilayah. Untuk periode 21–27 Oktober 2025, cuaca ekstrem berpotensi terjadi di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta.
Meski curah hujan meningkat, cuaca panas pada siang hari masih bisa terjadi karena Indonesia saat ini masih berada dalam masa transisi menuju puncak musim hujan.
Masyarakat diimbau menjaga kondisi tubuh, menghindari aktivitas di ruang terbuka saat hujan petir, serta memastikan saluran air di lingkungan tetap bersih agar terhindar dari genangan dan banjir.
Informasi cuaca terkini dapat diakses melalui laman resmi www.bmkg.go.id, aplikasi Info BMKG, atau media sosial resmi @infobmkg.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Feni Yusnia
Editor: Darmadi Sasongko








