TUBAN, Tugujatim.id — Di lingkungan MA Ash Shomadiyah Tuban, mimpi para santri untuk menembus perguruan tinggi negeri (PTN) tidak lagi dianggap hal mustahil. Sejak lebih dari satu dekade lalu, madrasah ini terus membuktikan bahwa pendidikan berbasis pesantren juga mampu bersaing di jalur akademik nasional.
Awal perjalanan ini dimulai dari catatan sederhana. Pada 2007, ada satu santri MA Ash Shomadiyah Tuban yang diterima di Unesa Surabaya. Setahun berikutnya, jumlahnya naik menjadi tiga orang. Pada 2011, seorang santri menembus Universitas Airlangga (Unair), disusul lagi satu santri masuk Unesa pada 2012. Jejak itu kemudian menjadi pemantik semangat.
Momentum besar hadir pada 2013. Saat itu MA Ash Shomadiyah resmi membuka Pesantren Kilat (Sanlat) Tembus PTN, program yang digagas bersama IKA PMII UI.
Baca Juga: Baznas Tuban Salurkan Bantuan Rp580 Juta untuk Bangun 18 Rumah Layak Huni
Sejak itu, nama Ash Shomadiyah makin dikenal sebagai madrasah yang serius menyiapkan santrinya bersaing di PTN. Setiap tahun selalu ada yang lolos dan tradisi itu terus berlanjut hingga kini.
Tahun ini, rangkaian perjuangan tersebut ditandai dengan Launching Kick Off Sanlat Tembus PTN 2025 hasil kolaborasi Ponpes Ash Shomadiyah dengan Baznas RI bersama 28 santri yang ikut menjadi peserta.
Kepala MA Ash Shomadiyah Tuban Riza Shalihuddin Habibi menyebut kerja panjang ini sebagai bentuk komitmen bahwa madrasah bisa berdiri tegak tanpa harus bergantung pada bimbel komersial.
“Sejak 2013, kami konsisten dengan program Sanlat Tembus PTN. Alhamdulillah, ini membuktikan sekolah tidak kalah dengan bimbel. Kami meng-upgrade guru kami sendiri dan itu membuat madrasah tetap kokoh,” ujar pria Gus Riza.
Menurut dia, fakta bahwa sebagian besar siswa di luar madrasah memilih bimbel menjadi tantangan tersendiri. Ash Shomadiyah mencoba membuktikan bahwa pendidikan reguler di madrasah—dengan sistem yang kuat dan ruang upgrade untuk guru—tetap bisa mengantarkan santri ke perguruan tinggi terbaik.
Selain sanlat, madrasah ini juga memiliki Program Mondok Akhir Pekan (MAP) yang digelar dua minggu sekali. Program ini menjadi ikhtiar tambahan untuk mengasah kesiapan akademik santri menuju seleksi PTN.

Lebih jauh, Riza mengatakan, upaya mendorong santri masuk kampus negeri juga berangkat dari harapan agar para kader muda Nahdlatul Ulama memiliki ruang lebih luas dalam menyemai nilai Islam rahmatan lil ‘alamin di dunia kampus.
“Kami ingin para santri hadir dengan pemikiran pesantren. Masuk PTN, kemudian menebarkan nilai Islam yang ramah, bukan yang keras. Itu bagian dari kontribusi madrasah,” jelas menantu KH Musthofa Bisri atau Gus Mus ini.
Bagi dia, madrasah tidak boleh dipandang sebagai kelas dua. Justru, Riza mengatakan, keunggulan madrasah ada pada kekuatan ganda yakni, ilmu agama dipelajari, ilmu umum diperkuat, menghasilkan siswa yang siap bersaing secara linear di PTN maupun UIN.
Sejak 2022, program sanlat ini juga mendapat pendampingan dari Baznas RI. Dukungan tersebut makin memperkuat sistem pembelajaran, membuka kesempatan lebih luas bagi santri untuk berkembang tanpa harus bergantung pada lembaga bimbingan belajar.
Di sisi lain, hasilnya juga tampak nyata. Selama lima tahun terakhir, jumlah santri yang tembus PTN terus meningkat. Pada periode 2020 hingga 2022, total ada empat santri yang lolos PTN. Pada 2023 menjadi titik lonjakan besar dengan 18 santri diterima di berbagai kampus negeri.
Setahun berikutnya, 2024, sebanyak 12 santri kembali mengukir prestasi dan pada 2025 jumlahnya naik lagi menjadi 20 santri. Tren ini semakin menguatkan kepercayaan diri Ash Shomadiyah bahwa sistem mereka berjalan di jalur yang tepat.
Kunci Keberhasilan Masuk PTN
Sementara itu, para peserta sanlat juga menyambut program ini dengan penuh harapan. Salah satunya, Mufidah Mariyanti, yang menegaskan bahwa kunci keberhasilan adalah belajar, berikhtiar, dan taat pada guru.
“Karena masa depan itu milik diri sendiri. Saingannya banyak, peluangnya kecil. Semoga semakin banyak yang tembus PTN,” ujarnya.
Dengan semangat yang terus terjaga, MA Ash Shomadiyah melangkah mantap. Dari program, kolaborasi, hingga penguatan guru, semua diarahkan pada satu tujuan: membuka pintu kampus negeri untuk lebih banyak santri di masa depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Mochamad Abdurrochim
Editor: Dwi Lindawati








