Penulis: Zulkarnain Mahmud, Kretekus Ansor (Pencinta Kretek/Kader Ansor)
Tugujatim.id – Di sebuah negeri yang subur, berdiri sebuah peternakan tua bernama Kandang Warisan, tempat tinggal dua hewan mulia: Kuda dan Sapi. Keduanya mewakili dua kekuatan besar yang selama ini menjaga keseimbangan dan ketenangan peternakan. Kuda dikenal lincah, strategis, dan penuh semangat. Sapi tenang, sabar, dan dihormati karena kebijaksanaannya.
Namun, di balik pagar kandang, ada sosok bayangan bernama Brutus. Dia bukan peternak biasa. Brutus adalah penguasa negeri yang punya ambisi besar: menguasai Kandang Warisan, bukan untuk merawatnya, tapi untuk menjadikannya alat kekuasaan.
Baca Juga: Jajaki Museum Airlangga Kediri, Wisata Sejarah Kerajaan Dhoho lewat Koleksi Arca hingga Artefak
Brutus tahu bahwa Kuda dan Sapi punya sejarah ketegangan. Maka dia menyusun rencana cerdik: membiayai dan memprovokasi dua makhluk lain—Cicak dan Buaya—agar menyusup dan memicu konflik antara Kuda dan Sapi.
Brutus mendekati Kuda dan berkata:
“Kamu harus lebih vokal. Sapi terlalu lambat. Aku akan bantu kamu bicara lebih lantang.”
Dia memberi panggung, dana, dan dukungan diam-diam. Lalu Brutus mendekati Sapi dan berbisik.
“Kuda terlalu ambisius. Dia ingin menguasai kandang. Aku akan bantu kamu menjaga warisan.”
Dia memberi legitimasi, akses, dan narasi. Kuda dan Sapi pun mulai berseteru. Cicak menyebar bisik-bisik di sudut kandang, sementara Buaya menyebar selebaran di ladang. Kandang yang dulu tenang kini penuh suara gaduh.
Brutus menjalankan strategi intelijen klasik:
- Divide and Rule: Memecah kekuatan besar agar mudah dikendalikan.
- Dual Manipulation: Mendukung dua pihak agar konflik terus menyala.
- Active Measures: Menyebar disinformasi, memanipulasi opini, dan menciptakan narasi palsu.
Tujuannya bukan sekadar membuat Kuda dan Sapi bertengkar, tapi membuat kandang terlihat rusak, tidak layak, dan kehilangan kepercayaan publik. Saat itu terjadi, Brutus akan masuk sebagai “penyelamat” dan mengambil alih.
Konflik memuncak. Kuda menuduh Sapi sebagai penghalang perubahan. Sapi menuduh Kuda sebagai pengkhianat warisan. Cicak dan Buaya tertawa di balik semak. Brutus menonton dari menara, tersenyum.
Publik mulai muak.
“Kandang Warisan sudah tidak layak,” kata mereka.
“Biarkan Brutus yang urus.”
Dan Brutus pun masuk, bukan sebagai penjaga, tapi sebagai pemilik. Dia ubah kandang menjadi ladang tambang, menguras tanahnya, dan menjadikan Kuda dan Sapi sekadar simbol.
Kuda dan Sapi akhirnya sadar. Mereka bukan musuh, tapi korban. Mereka duduk bersama, mengenang masa damai, dan berjanji: jangan biarkan Brutus mengadu kita lagi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Editor: Dwi Lindawati








