SITUBONDO, Tugujatim.id – Laju ekonomi Situbondo menunjukkan performa impresif dengan torehan 6,16 persen selama periode Juli hingga September 2025. Pencapaian ini berhasil mengungguli kinerja ekonomi Jawa Timur yang hanya mencapai 5,22 persen, bahkan meninggalkan rata-rata pertumbuhan Indonesia yang stagnan di angka 5,04 persen.
Informasi ekonomi Situbondo ini diungkapkan Pelaksana Tugas Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jember Tri Setyoningsih saat menghadiri pertemuan koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah bersama forum terkait lainnya di Situbondo, Senin (08/12/2025).
Baca Juga: 38 Ambulans Gratis Mengaspal di Situbondo, Warga Tak Perlu Rogoh Kocek Sepeser Pun
Menurut Tri, angka pertumbuhan tersebut mencerminkan akselerasi yang mengesankan bila dibandingkan periode identik tahun lalu yang hanya mencatat 5,01 persen. Keberhasilan ini merupakan buah dari kolaborasi harmonis antara tiga pilar ekonomi utama yang meliputi sektor berbasis sumber daya alam, industri pengolahan, serta jasa dan perdagangan.
Sektor pertanian dan perkebunan memberikan andil besar berkat musim panen puncak komoditas tembakau dan tebu sepanjang tahun ini. Sementara itu, industri pengolahan mencatatkan lonjakan tertinggi dengan ekspansi 9,01 persen.
Sektor jasa pun menunjukkan stabilitas dengan pertumbuhan 5,24 persen, ditunjang oleh aktivitas perdagangan, logistik, dan beragam layanan pendukung lainnya.
“Kombinasi ketiga pilar ekonomi inilah yang memperkokoh fondasi perekonomian daerah dan mempertahankan momentum pertumbuhan selama kuartal ketiga,” jelas Tri.
Meski demikian, pihak otoritas moneter menekankan urgensi pengendalian laju harga barang dan jasa agar kemampuan belanja warga tidak terkikis. Tri menegaskan komitmen Bank Indonesia untuk mendampingi pemerintah kabupaten, khususnya dalam pemberdayaan usaha mikro kecil menengah yang berbasis di lingkungan pesantren.
Pemerataan Kesejahteraan Terasa di Berbagai Zona
Merespons capaian tersebut, Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo mengatakan prestasi ekonomi ini lahir dari upaya kolektif berbagai komponen masyarakat. Menurut dia, berbagai parameter pembangunan membuktikan Situbondo tengah melaju pada jalur yang konstruktif.
Kepala daerah yang akrab disapa Mas Rio itu juga menggarisbawahi sejumlah progres positif selama sembilan bulan belakangan, termasuk penyempitan kesenjangan ekonomi yang tercermin dari turunnya koefisien gini dari 0,38 ke 0,33, diikuti reduksi jumlah penduduk miskin.
Pemerataan kesejahteraan mulai terasa di berbagai zona, termasuk kawasan Pasir Putih yang mengalami transformasi signifikan dari sisi kebersihan dan penghasilan warga.
Namun beberapa kawasan masih memerlukan intervensi intensif. Zona pesisir Blekok diarahkan untuk penguatan sektor kuliner, sedangkan Asembagus didorong mengembangkan kekhasan lokal. Wilayah dataran tinggi difokuskan pada budi daya tanaman premium seperti kapulaga, dengan dukungan pemberian bibit berkualitas dan pembangunan infrastruktur pendukung.
Kecamatan Kapongan juga menyimpan potensi besar dengan kualitas air artesis terbaik di kabupaten ini, membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif berbasis budidaya ikan air tawar.
“Para camat dituntut tidak sekadar sebagai administrator wilayah, melainkan sebagai katalis pergerakan ekonomi,” tegas Mas Rio.
Kendati konsumsi masyarakat menunjukkan tren kenaikan, Mas Rio mengakui sisi produksi masih memerlukan penguatan lebih lanjut. Dia menyebut kolaborasi dengan Kementerian Koperasi dan UKM untuk memfasilitasi pengiriman kopi lokal ke pasar Arab Saudi sebagai salah satu upaya konkret.
Pemerintah daerah juga berupaya memperbaiki sistem pencatatan ekspor produk mebel dari wilayah timur Situbondo yang selama ini tercatat atas nama kabupaten tetangga.
“Kami berharap mendapat asistensi Bank Indonesia agar pelaku usaha bisa melakukan ekspor secara mandiri. Bila belum memungkinkan dalam waktu dekat, kami akan membentuk holding sebagai langkah awal,” tutup Mas Rio.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati








