JEMBER, Tugujatim.id – Ironi mencuat dari salah satu lumbung pangan Jawa Timur. Saat Pemerintah Pusat gencar menggulirkan program swasembada pangan nasional, Kabupaten Jember justru mencatat penyusutan drastis area pertanaman padi hingga akhir tahun 2025.
Catatan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Perkebunan (TPHP) setempat mengungkap fakta mengkhawatirkan, dimana area persawahan menyusut hampir 30.000 hektare dalam setahun terakhir dan menjadi alarm keras bagi stabilitas pangan regional.
Angka resmi memperlihatkan kontras mencolok. Tahun 2024, petani menggarap 166.807 hektare sawah. Memasuki November 2025, luasan tersebut menciut drastis ke posisi 139.613 hektare. Dampak langsungnya? Hasil panen gabah kering anjlok dari 988.885 ton di tahun 2024 menjadi 934.403 ton di tahun 2025 atau penurunan lebih dari 54 ribu ton.
Luhur Prayogo, Kepala Bidang Tanaman Pangan TPHP Jember, menyebut situasi ini sebagai peringatan serius yang tak bisa diabaikan.
“Kondisi cuaca ekstrem mengacaukan siklus tanam. Intensitas hujan berlebihan dan jadwal tak menentu memaksa petani menyesuaikan strategi,” jelasnya, Selasa (9/12/2025).
Tak cuma soal iklim. Serangan hama dan penyakit tanaman meningkat tajam akibat sistem tanam tiga musim berturut-turut.
“Populasi tikus, wereng, dan organisme perusak lain melonjak. Produktivitas tergerus, ini bukan kejadian biasa,” tegasnya.
Faktor ketiga yang memperparah yaitu transformasi pilihan komoditas. Ketika musim kering berkepanjangan, banyak petani mengalihkan lahan ke tanaman alternatif seperti palawija atau tebu.
“Mereka beradaptasi dengan realitas cuaca dan kalkulasi ekonomi. Banyak yang menganggap komoditas pengganti lebih menjanjikan di tengah ketidakpastian,” urai Luhur.
Meski demikian, dia menegaskan penurunan ini butuh respons cepat mengingat Jember masih menjadi penyangga produksi padi Jatim.
“Penurunannya memang tidak terlalu besar, namun ini sinyal bahaya. Perbaikan infrastruktur irigasi, program intensifikasi, hingga manajemen pasca panen harus dipercepat untuk menaikkan produktivitas,” katanya.
Strategi 2026 akan diarahkan pada maksimalisasi hasil per hektar. Target ambisius ditetapkan: menaikkan produktivitas dari kisaran 5-6 ton menjadi 7-8 ton per hektar.
Menurutnya, ekspansi lahan memang sulit, tapi efisiensi produksi masih bisa dipacu. Dia menekankan urgensi tindakan korektif sebelum 2025 berakhir.
“Tanpa intervensi segera, efek domino tahun depan bisa jauh lebih buruk,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter : Diki Febrianto
Editor: Darmadi Sasongko








