• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Pertunjukan Dongkrek di dusun Kepel, desa Banjarsari, Kabupaten Madiun pada Selasa malam (31/9/2021)/tugu jatim

Pertunjukan Dongkrek di dusun Kepel, desa Banjarsari, Kabupaten Madiun pada Selasa malam (31/9/2021). (Foto: Dokumen/Roni Versal)

Dongkrek, Kesenian Lama Diyakini Dapat Atasi Wabah Covid-19

Herlianto A by Herlianto A
5 years ago
in News, Sastra & Budaya
0
Share on FacebookShare on Twitter

MADIUN, Tugujatim.id – Wabah Covid-19 yang belum sepenuhnya hilang membuat warga desa Banjarsari, Kecamatan Madiun menggelar kesenian Dongkrek pada Selasa malam (31/8/2021). Kesenian berupa tarian diiringi musik tersebut diyakini dapat menangkal pagebluk yang tidak kunjung selesai tersebut.

Menurut Agus Suwarni, salah satu warga dusun Kepel, desa Banjarsari, Dongkrek merupakan tradisi nenek moyang orang Madiun terutama di daerah Caruban. Yang mana, kesenian ini dipertunjukkan ketika wabah menyerang warga dan tidak kunjung selesai.

You might also like

Pemkot Surabaya.

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir, Area tanpa Izin Terancam Ditutup

21/07/2026 8:30 PM
Gus Kikin.

Gus Kikin Siap Maju sebagai Calon Ketua Umum PBNU, Ngaku Terima Penugasan PWNU Jatim

21/07/2026 7:17 PM

“Mbah-mbahku dulu menggunakan donkrek untuk mengusir roh jahat yang membuat orang sakit,” terang Agus saat menyaksikan pertunjukan Dongkrek di prempatan pasar Kepel.

Pertunjukan Dongkrek tersebut dilakukan oleh beberapa orang. Ada yang berperan sebagai penari dan penabuh alat musik. Dari sisi penari di antaranya memerankan buto kolo, yaitu simbol roh jahat yang menggunakan topeng dengan taring gigi panjang dan rambut gimbal. Peran ini ada sebanyak empat orang.

Berikutnya, dua perempuan tua yang disimbolkan sebagai warga yang lemah, keduanya juga menggunakan topeng perempuan tua dan rambut warna putih. Dan, satu lagi orang tua sakti memegang tongkat. Sosok inilah yang akan mengusir buto kolo.

Sementara dari sisik musik, menggunakan bedug atau kendang yang dapat mengeluarkan bunyi “dung”. Lalu alat musik korek yang terbuat dari kayu berbentuk bujur sangkar, di ujungnya ada tangkai kayu bergerigi yang kalau digesek berbunyi “krek.” Dari bunyi alat musik “dung” dan “krek” inilah nama Dongkrek diambil.

Adapun bentuk pertunjukannya dimulai dari ketika musik dimainkan, buto kolo memasuki arena sambil menari dengan gaya agak sedikit sempoyongan. Disusul oleh perempuan tua yang kemudian dikerumuni oleh buto kolo. Ini berarti menandakan bahwa wabah atau roh jahat sedang menyerang warga.

Pada saat itu, orang tua sakti masuk dengan menari dan memegang tongkat, lalu seketika tongkat diangkat ke atas disertai bunyu “krek” yang bertub-tubu dan sangat keras. Bersamaan dengan bunyi tersebut para buto kolo jatuh tergeletak. Ini berarti bahwa roh jahat telah berhasil dikalahkan.

Pertunjukan kesenian yang sebetulnya hampir punah ini, tidak hanya berhenti di suatu tempat tetapi berkeliling di jalan batas-batas desa yang diawali dari perempatan jalan. Kesenian ini juga dilakukan pada malam hari.

“Dulu kalau Dongkrek mainnya sambil bawa obor, karena kan malam. Kalau sekarang di jalan sudah banyak mapunya tak perlu obor,” papar Agus.

Sementara itu, sejarah Dongkrek sendiri sebagaimana dilansir Wikepedia, lahir pada tahun 1867 di Mejayan, Kawedanan Caruban, Kabupaten Madiun.

Pada awalnya Dongkrek merupakan kesenian untuk mengisahkan perjuangan Raden Ngabei Lo Prawirodipuro dalam mengatasi pageblug mayangkoro. Raden Ngabei Lo adalah Palang, yaitu jabatan setingkat kepala desa.

Pada sekitar tahun 1867-1902 Dongkrek mengalami masa kejayaannya. Namun setelah ini pamor Dongkrek kian menurun, bahkan pada zaman Belanda menguasasi Indonesia sempat dilarang untuk dipertontonkan untuk rakyat.

Tags: DongkrekDongkrek MadiunDongkrek Usir WabahKesenian Dongkrek
Herlianto A

Herlianto A

Related Stories

Pemkot Surabaya.

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir, Area tanpa Izin Terancam Ditutup

by Dwi Linda
21/07/2026 8:30 PM
0

SURABAYA, Tugujatim.id - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus mengawasi dengan ketat terhadap pengelolaan parkir. Pemkot Surabaya mengawasi berbagai tempat mulai...

Gus Kikin.

Gus Kikin Siap Maju sebagai Calon Ketua Umum PBNU, Ngaku Terima Penugasan PWNU Jatim

by Dwi Linda
21/07/2026 7:17 PM
0

SURABAYA, Tugujatim.id – Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin...

Angkot pelajar gratis.

80 Angkot Pelajar Gratis Segera Hadir di Malang, Pemkot Tunggu Audit 4 Koperasi Rampung

by Dwi Linda
21/07/2026 6:45 PM
0

MALANG, Tugujatim.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Malang melalui dinas perhubungan (dishub) terus mematangkan pelaksanaan program angkot pelajar gratis. Saat ini,...

Penjual kambing.

Viral Penjual Kambing Kota Batu Disebut Mirip Yesus, Ternyata Niat Awalnya untuk Berdakwah

by Dwi Linda
21/07/2026 6:33 PM
0

BATU, Tugujatim.id – Seorang penjual kambing Kota Batu, Jawa Timur, mendadak viral menjadi perbincangan di media sosial. Faiq Muhammad Alkhatiri...

Next Post
Seorang pelajar SMKN 3 Kota Batu tampak rileks saat divaksinasi, Rabu (04/08/2021). (Foto:Azmy/Tugu Jatim)

Sekolah Tatap Muka di Kota Batu Dimulai 15 September 2021

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID