JEMBER, Tugujatim.id – Penulis buku “Reset Indonesia”, Farid Gaban, menegaskan bahwa Indonesia mengalami penurunan kualitas bernegara yang sangat parah dalam 16 tahun terakhir, sehingga membutuhkan pengaturan ulang mendasar, bukan sekadar perbaikan.
Dalam acara bedah buku di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Kabupaten Jember yang total telah mencapai 51 titik mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, Farid Gaban bersama timnya mengunjungi berbagai komunitas mulai dari kampus, pesantren, nelayan, petani, hingga siswa SMA.
Baca Juga: Jenny Han ‘The Summer I Turned Pretty’ Penulis Inspiratif dengan Serial Kreatif
“Di Banjarnegara ada 100 lebih anak SMA yang ikut diskusi ini, dan itu sangat menyenangkan karena generasi Alfa juga terlibat,” ujarnya.
Buku yang merupakan kumpulan pengalaman keliling Indonesia sebanyak tiga kali ini membahas tujuh tema besar:
- Reforma Agraria – Mengatasi ketimpangan besar dalam pengelolaan lahan. Gaban mempertanyakan inkonsistensi pemerintah yang mengklaim pro-rakyat namun ada pejabat yang memiliki lahan hingga 350.000 hektare.
- Ekonomi Ramah Alam – Menekankan pentingnya merawat keanekaragaman hayati, hutan, dan laut, serta tidak mengejar pertumbuhan ekonomi dengan merusak lingkungan.
- Reformasi Pendidikan – Menginginkan pendidikan yang lebih kontekstual, dimulai dari hal yang paling dekat dengan kehidupan anak-anak, seperti memahami cara kerja alam.
- Ekonomi Demokrasi via Koperasi – Memperkuat format ekonomi demokrasi melalui koperasi yang benar, bukan koperasi bentukan negara.
- Jaminan Sosial Universal – Mengusulkan universal basic income untuk kesejahteraan rakyat.
- Desentralisasi Kuat – Bahkan mengusulkan sistem federasi jika perlu, karena pemerintah pusat tidak memahami kondisi riil daerah, yang menyebabkan kerusakan alam di Maluku, Sulawesi, dan Aceh.
- Perubahan Sistem Politik – Menginginkan judicial review terhadap undang-undang partai politik dan pemilu agar lebih mencerminkan kedaulatan rakyat.
“Kita negara kaya dengan minyak, nikel, emas, hutan, dan laut. Tapi kok 60% warga kami masih miskin dan sebagian tidak punya jaminan sosial,” kritiknya.
Respons terhadap Munculnya Bendera GAM
Terkait munculnya kembali bendera GAM pasca penanganan bencana di Aceh, Farid Gaban menilai hal tersebut sebagai ekspresi kekecewaan terhadap penanganan pemerintah.
“Statement pejabat sejak hari pertama mengecewakan banget. Itu yang dilihat oleh teman-teman di Aceh yang memang punya sejarah dan luka sendiri,” katanya.
Dia menyarankan pemerintah bersikap santai seperti Gus Dur yang menanggapi bendera Bintang Kejora Papua.
“Itu cuma ekspresi kekesalan. Kalau ditanggapi dengan keras, justru akan makin keras,” tegasnya.
Baca Juga: Penulis Vania Winola Bedah Karya Terbaru “Yang Katanya Cemara”: Pentingnya Komunikasi dalam Keluarga
Gaban menekankan bahwa keadilan adalah kunci merekatkan Indonesia, bukan slogan “NKRI harga mati” yang justru bisa memicu perpecahan. Dia mencontoh negara-negara federal seperti Malaysia, Amerika Serikat, dan India yang tetap bersatu meskipun memberikan otonomi besar kepada daerah.
Mengenai judul buku yang berubah dari “Restart” menjadi “Reset”, Gaban menjelaskan bahwa kerusakannya sudah terlalu parah untuk sekadar restart.
“Kita harus reset, mengatur ulang, dan kembali mengambil inspirasi dari masyarakat tradisional,” ujarnya.
Dia mengutip pemikiran Bung Hatta tentang demokrasi yang mengakar pada masyarakat tradisional seperti sistem Nagari di Sumatra.
“Masyarakat tradisional itu sebenarnya paling demokratis. Musyawarah desa itu demokrasi. Ukuran demokrasi bukan cuma pemilu, tapi partisipasi masyarakat,” pungkasnya.
Gaban mengajak masyarakat yang tidak setuju dengan pandangannya untuk berdiskusi dengan data, bukan sekadar melarang.
“Diskusi seperti ini pemantik untuk berpikir kritis, tidak selalu harus setuju dengan kami,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati








