JEMBER, Tugujatim.id – Di tengah kesibukan Rumah Sakit Daerah (RSD) Kalisat Kabupaten Jember yang melayani masyarakat 24 jam, sebuah inovasi sederhana namun bermakna lahir dari kepedulian terhadap komunikasi antara tenaga kesehatan dan pasien. Inovasi RSD Kalisat berupa Kamus Medis Madura.
Kamus Medis Madura atau disingkat KAMERA, demikian inovasi itu disebut, kini menjadi jembatan komunikasi yang efektif di rumah sakit yang melayani wilayah yang warganya mayoritas berbahasa Madura.
Baca Juga: Lestarikan Warisan Budaya Leluhur, GKJW Sumberpakem Jember Jadi Satu-satunya Gereja Berbahasa Madura
“Bahasa sering menjadi kendala dalam layanan yang kami berikan,” ujar Direktur RSD Kalisat dr Nurullah Hidajahningtyas MM menjelaskan latar belakang hadirnya kamus tersebut saat ditemui Tugujatim.id Selasa (27/01/2026).
Melayani Enam Kecamatan Mayoritas Berbahasa Madura
RSD Kalisat memiliki wilayah cakupan yang luas, meliputi Kecamatan Kalisat, Ledokombo, Sukowono, Mayang, Silo, hingga Sumberjambe. Mayoritas masyarakat di wilayah-wilayah tersebut menggunakan bahasa Madura dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai rumah sakit yang hadir untuk menyukseskan program universal health coverage (UHC) di era Jember Bupati Jember Muhammad Fawait, RSD Kalisat telah dilengkapi dengan tenaga medis spesialis yang memadai.
Empat dokter spesialis dasar, bedah, penyakit dalam, anak, dan obstetri ginekologi, siap melayani masyarakat. Selain itu, tersedia pula dokter spesialis THT, mata, jantung, saraf, patologi klinik, dan radiologi.
“Keberadaan rumah sakit daerah Kalisat sebenarnya sudah bisa memenuhi kebutuhan dasar pelayanan kesehatan di wilayah cakupan kami (Jember bagian utara, Red),” terang dr Nurullah.
Kesenjangan Komunikasi yang Perlu Dijembatani
Meski fasilitas medis telah memadai, tantangan komunikasi muncul sebagai hambatan tersendiri. Tidak semua tenaga kesehatan, mulai dari dokter spesialis, perawat, bidan, hingga tenaga administrasi, menguasai bahasa Madura.
Sementara pasien yang datang mayoritas menggunakan bahasa Madura saat mengeluhkan keluhannya.
“Ada gap dalam komunikasi, yaitu pemahaman akan suatu bahasa. Karena itulah tim kami membentuk Kamus Medis Madura,” jelas dr Nurullah.
Kamus ini memungkinkan tenaga kesehatan yang bukan berasal dari etnis Madura untuk memahami keluhan pasien dengan lebih baik. Namun, direktur RSD Kalisat tidak hanya mengandalkan kamus sebagai solusi tunggal.
“Setiap sif jaga pagi, sore, dan malam, kami mengimbau agar ada petugas yang bisa berbahasa Madura. Meskipun sudah ada kamus, interaksi langsung tetap lebih baik,” tambahnya.
Ide dari Dokter Muda
Inovasi Kamus Medis Madura ini lahir dari pemikiran dr Akbar, dokter umum dan calon pegawai negeri sipil di RSD Kalisat. Idenya yang sederhana namun solutif mendapat apresiasi dari manajemen rumah sakit.
“Dokter Akbar adalah sejawat medis di Rumah Sakit Daerah Kalisat. Atas ide-ide beliau, akhirnya tercipta Kamus Medis Madura yang diharapkan bisa mengatasi gap komunikasi antara kami sebagai pemberi pelayanan kesehatan dengan masyarakat,” ungkap dr Nurullah dengan penuh apresiasi.
Dengan adanya Kamus Medis Madura dan strategi penugasan petugas berbahasa Madura di setiap shift, RSD Kalisat berupaya memastikan tidak ada pasien yang merasa kesulitan berkomunikasi saat membutuhkan pertolongan medis.
Baca Juga: PLAN VERDE MADURA!
“Yang diharapkan oleh masyarakat adalah mendapatkan pelayanan yang berkualitas dan bermutu. Itu harus bisa terselenggara di rumah sakit daerah Kalisat,” tegas dr Nurullah menutup perbincangan.
Inovasi sederhana ini menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan yang baik tidak hanya soal teknologi dan fasilitas medis, tetapi juga tentang kepedulian terhadap kebutuhan komunikasi dan kenyamanan pasien.
Di RSD Kalisat, bahasa Madura bukan lagi penghalang, melainkan bagian dari upaya memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati








