JEMBER, Tugujatim.id – Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jemaat Sumberpakem atau lebih dikenal sebagai GKJW Pondok Sumberpakem memiliki keunikan tersendiri sebagai satu-satunya gereja yang menggunakan bahasa Madura dalam peribadatannya hingga saat ini.
Menurut penjelasan Pendeta Eklesius, penggunaan bahasa Madura di GKJW Sumberpakem ini telah berlangsung sejak 143 tahun yang lalu, tepatnya sejak zaman Mbah Ebing yang merupakan orang pertama yang dibaptis dan menyandang gelar Guru Injil (GI).
“Motivasi awalnya adalah supaya mudah dipahami oleh konteks lokal, yaitu masyarakat Madura baik pendatang dari Pulau Madura maupun keturunan asli Madura yang sudah menetap di sini,” jelas Pendeta Eklesius saat ditemui Tugujatim.id pada Rabu petang (24/12/2025).
Alkitab Bahasa Madura
Upaya pelokalan pemahaman Alkitab dimulai sejak tahun 1970-an dengan penerjemahan Injil Markus sebagai yang pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Madura. Penerjemahan resmi Alkitab lengkap baru selesai pada 1994 oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI).

Tim penerjemah dipimpin oleh Nyonya Sicilia Jin de Art Hasaniah Waluyo sebagai penerjemah utama. Proses penerjemahan ini disahkan dalam Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).
Kidung dan Doa dalam Bahasa Madura
Selain Alkitab, GKJW Sumberpakem juga memiliki kidung jemaat berbahasa Madura yang disusun dengan bantuan Bapak Esto Winarno. Terdapat sekitar 200-an lagu yang diterjemahkan, termasuk kidung jemaat, Kidung Pasamuan Kristen Jawa (KPKJ) lawas dan baru, serta lagu-lagu populer.
Bahkan doa-doa inti seperti Pengakuan Iman Rasuli, 10 Perintah Allah, dan Doa Bapa Kami juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Madura.
Jadwal Peribadatan
Saat ini, penggunaan bahasa Madura di GKJW Sumberpakem dilaksanakan setiap Minggu pertama, ketiga, dan kelima. Seluruh alur peribadatan mulai dari doa, nyanyian, pembacaan Alkitab, hingga khutbah menggunakan bahasa Madura.
“Tujuan kami mempertahankan bahasa Madura bukan hanya untuk melokalkan Injil, tetapi lebih kepada menjaga warisan budaya yang sudah diberikan oleh pendahulu,” tegas Pendeta Eklesius.
Baca Juga: Sterilisasi Gereja di Tuban Jadi Garda Awal Pengamanan Natal 2025
Dia juga menjelaskan bahwa bangunan gereja yang digunakan saat ini didirikan pada 1996, pada masa pelayanan Pendeta Sarji (1993-1996). Usia persekutuan GKJW Sumberpakem sendiri telah mencapai 143 tahun, dihitung sejak Mbah Ebing dibaptis menjadi Kristen.
Keberadaan GKJW Pondok Sumberpakem menjadi bukti nyata bagaimana gereja dapat melestarikan budaya lokal sekaligus menyampaikan ajaran Injil dengan cara yang relevan bagi komunitasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati








