TUBAN, Tugujatim.id – Mimpi berangkat ke Tanah Suci tidak selalu lahir dari penghasilan besar atau pekerjaan mapan. Moh Nasrudin dan istrinya berangkat ibadah haji dari nabung receh.
Pasangan suami istri warga Desa Sumberagung, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tubanini mendaftar haji di Bank Syariah Indonesia (BSI) KCP Tuban dengan membawa 13 kaleng biskuit berisi koin pecahan Rp1.000. Tidak ada uang kertas dalam jumlah besar, tidak pula tabungan instan. Seluruhnya merupakan hasil menabung sedikit demi sedikit selama kurang lebih 11 tahun.
Nasrudin mengungkapkan, kebiasaan menabung receh itu berawal dari pengalaman sederhana. Setiap kali mendapatkan uang koin, baik dari sisa belanja maupun uang kecil yang tidak terpakai, ia memilih menyimpannya. Awalnya hanya beberapa keping, lalu bertambah seiring waktu.

“Dikumpulkan saja. Awalnya kelihatan kecil, tapi lama-lama terasa,” ujar Nasrudin.
Sebagai pekerja pasar, penghasilan Nasrudin tidak menentu. Namun, justru dari kondisi itulah ia belajar disiplin. Uang receh yang biasanya habis untuk jajan atau keperluan kecil, disisihkan dan dimasukkan ke dalam kaleng. Sang istri pun berperan menjaga komitmen agar tabungan tersebut tidak terpakai untuk kebutuhan lain.
Kebiasaan itu berlangsung bertahun-tahun. Tidak jarang muncul godaan untuk membuka tabungan saat kondisi ekonomi sedang sulit. Namun, niat untuk berhaji menjadi penguat agar kaleng-kaleng tersebut tetap tertutup rapat.
Setelah lebih dari satu dekade, uang receh itu akhirnya terkumpul dalam jumlah yang tidak sedikit. Total tabungan diperkirakan hampir mencapai Rp55 juta, bahkan mendekati Rp60 juta. Untuk mengangkut belasan kaleng berisi koin tersebut, Nasrudin dibantu keluarga menggunakan mobil pikap.
Sesampainya di kantor BSI KCP Tuban, keberadaan kaleng-kaleng berisi uang logam langsung menyita perhatian. Petugas keamanan dan karyawan bank sigap membantu menurunkan dan menata kaleng tersebut. Proses penghitungan dilakukan secara teliti dan memakan waktu cukup lama.
Sejumlah karyawan dilibatkan untuk memastikan seluruh koin terhitung dengan benar. Meski berbentuk uang receh, pihak bank memperlakukan setoran tersebut sama seperti setoran nasabah lainnya.
“Hari ini kami punya niat dan ikhtiar untuk bisa mendaftar haji dari hasil menabung receh. Semoga bisa memberi semangat bagi yang lain,” kata Nasrudin.
Ia mengakui, menabung selama lebih dari 11 tahun bukan proses yang mudah. Konsistensi menjadi kunci utama. Baginya, menabung bukan soal besar kecilnya uang, tetapi tentang kesungguhan menjaga niat.
“Nabungnya sekitar 11 tahun lebih. Pelan-pelan, tapi dijaga terus,” imbuhnya.
Branch Manager BSI KCP Tuban, Riyanto, menyebut peristiwa ini sebagai pengalaman yang jarang ditemui. Menurutnya, pihak bank tidak membedakan bentuk setoran nasabah selama uang tersebut sah dan layak edar.
“Prinsip kami melayani semua nasabah dengan sama. Mau uang kertas atau koin, tetap kami terima dan layani,” jelas Riyanto.
Ia menambahkan, untuk memastikan jumlah setoran sesuai, pihak bank menurunkan sejumlah karyawan untuk membantu penghitungan. Selama berkarier di dunia perbankan, mulai dari berbagai daerah hingga kini bertugas di Tuban, kejadian ini menjadi pengalaman pertamanya.
“Ini luar biasa. Dengan ketekunan mengumpulkan koin demi koin, akhirnya bisa mendaftar haji, bahkan bersama pasangan,” ujarnya.
Kisah Nasrudin dan istrinya menjadi potret sederhana tentang makna kesabaran dan keistiqamahan. Dari receh yang sering dianggap tidak bernilai, dua warga Tuban ini membuktikan bahwa mimpi berhaji bisa diraih siapa saja, asalkan mau berusaha dan menjaga niat dalam jangka panjang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Mochamad Abdurrochim
Editor: Darmadi Sasongko








