TUBAN, Tugujatim.id – Jelang waktu berbuka puasa, suasana dapur Masjid Muhdor di Kabupaten Tuban, Jatim, ini terasa berbeda dari biasanya pada Senin (23/02/2026). Asap tipis mengepul dari kuali besar yang terbuat dari logam untuk memasak bubur Muhdor spesial Ramadhan.
Sementara sejumlah pria berdiri melingkar, bergantian mengaduk bubur dalam wajan raksasa. Bukan sekadar memasak, kegiatan ini adalah tradisi turun-temurun yang dikenal dengan nama Bubur Muhdor.
Pengurus masjid, Habib Agil Bunamay, 67, menuturkan, tradisi memasak Bubur Muhdor telah menjadi rutinitas yang terus dijaga setiap Ramadhan. Keunikan tradisi ini terletak pada peran para lelaki yang turun langsung mengolah bubur, sementara kaum ibu bertugas menyiapkan bahan mentah sejak pagi.
Baca Juga: Bubur Muhdor, Takjil Gratis dengan Cita Rasa Timur Tengah yang Legendaris
“Kalau pagi itu ibu-ibu menyiapkan bahan. Sudah diiris-iris, santannya diperas, semua disiapkan. Siangnya baru bapak-bapak yang masak di masjid,” ujarnya.
Bubur Muhdor dimasak dalam jumlah besar. Untuk sekali produksi, panitia menyiapkan daging kambing sekitar 10 kilogram, beras 30 kilogram, serta 20 butir kelapa. Belum lagi aneka rempah seperti kayu manis, kapulaga, dan bumbu gulai yang membuat aromanya khas dan menggugah selera.
Istimewanya Bubur Muhdor, racikan bumbunya memiliki sentuhan cita rasa khas Timur Tengah. Perpaduan rempah-rempah kuat menghadirkan aroma harum dan rasa gurih yang berbeda dari bubur pada umumnya. Tidak heran, hidangan ini selalu dinanti warga setiap bulan Ramadhan.

Selain itu, keberadaan masjid yang berada di kawasan permukiman warga keturunan Arab juga memberi warna tersendiri bagi tradisi ini. Nuansa budaya yang berpadu dengan kearifan lokal membuat bubur ini bukan hanya soal makanan, tetapi juga jejak sejarah komunitas yang masih terjaga hingga kini.
Menurut dia, proses memasak bubur membutuhkan waktu sekitar dua jam. Mulai pukul 13.00-15.00 waktu setempat. Selama itu pula, adukan tidak boleh berhenti sama sekali.
“Harus terus diaduk bergantian. Tidak boleh berhenti. Kalau berhenti nanti menggumpal, istilah Jawa-nya ‘ngintip’,” jelasnya.

Karena itulah, beberapa pria selalu siaga di sekitar kuali untuk memastikan Bubur Muhdor matang sempurna dengan tekstur lembut. Cita rasa bubur ini dikenal gurih dan kaya rempah. Warga biasanya menyantapnya langsung, namun tidak sedikit yang menambahkan sayur lodeh atau gulai agar rasanya semakin mantap.
“Langsung dimakan sudah nikmat, tapi kalau pakai lodeh atau gule malah lebih enak,” katanya sambil tersenyum.
Awalnya, bubur ini dibuat untuk membantu fakir miskin yang berpuasa. Seiring waktu, tradisi ini berkembang menjadi kegiatan sosial yang dinanti masyarakat setiap Ramadhan.
Baca Juga: Berburu Takjil Gratis! Warga Tuban Rela Antre demi Nikmati Lezatnya Bubur Muhdor Khas Timur Tengah
Berdasarkan catatan yang dia ketahui, tradisi ini sudah ada sejak sekitar 1937. Dia sendiri mengaku telah menyaksikan prosesnya sejak kecil pada era 1970-an.
“Dulu semua dikerjakan di masjid, dari mengiris bawang, memeras santan, sampai mengolah daging. Sekarang lebih praktis karena bahan sudah disiapkan dari rumah,” kenangnya.
Dalam sekali masak, Bubur Muhdor bisa menghasilkan lebih dari 400 porsi. Dia melanjutkan, sekitar 75-100 porsi disantap jemaah untuk berbuka di masjid, sementara sisanya dibagikan kepada masyarakat umum yang datang.
Di tengah gaya hidup serba instan, dia bersyukur tradisi Bubur Muhdor masih bertahan. Dia menyebut, tradisi bubur asli seperti ini kini semakin langka.
“Sekarang orang cenderung yang praktis. Tapi alhamdulillah di sini masih berjalan,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Mochamad Abdurrochim
Editor: Dwi Lindawati








