• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Ramadhan.

Siti Imaniatul Muflihatin, Ketua STEI Permata Bojonegoro dan Penulis Buku “Mindful Ramadhan: Seni Mengubah Rutinitas Menjadi Ibadah Tak Terbatas. (Foto: dok)

Jangan Biarkan Ramadhan Pergi Begitu Saja

Dwi Linda by Dwi Linda
3 months ago
in Catatan
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Siti Imaniatul Muflihatin, Ketua STEI Permata Bojonegoro dan Penulis Buku “Mindful Ramadhan: Seni Mengubah Rutinitas Menjadi Ibadah Tak Terbatas

Tugujatim.id – Ramadhan selalu datang seperti tamu agung yang membawa kebaikan berlimpah. Ramadhan mengangkat kita ke puncak spiritual yang jarang kita rasakan di bulan-bulan lain. Selama sebulan penuh, masjid-masjid hidup hingga dini hari, mushaf Al-Qur’an tidak pernah jauh dari tangan, dan hati terasa lebih ringan karena terbiasa berzikir. Kita menjadi versi terbaik dari diri kita. Tapi kemudian Idulfitri tiba, dan perlahan—kadang sangat cepat—versi terbaik itu mulai memudar.

Ada fakta yang cukup menyayat hati: sebagian besar kebiasaan ibadah yang kita bangun susah payah selama Ramadhan akan runtuh dalam dua minggu pertama setelah Idulfitri. Tahajud yang terasa ringan kini terasa berat kembali. Al-Qur’an yang rutin dibaca setiap hari mulai ditinggalkan. Zikir yang mengalir lancar dari lidah kini hanya sesekali terucap. Masjid yang tadinya penuh sesak kembali lengang. Kita kembali ke titik semula, seolah Ramadhan hanya mimpi indah yang berlalu.

You might also like

Gus Yahya.

Menakar Dua Periode Gus Yahya: Mungkinkah?

30/05/2026 8:27 PM
Tasyakuran 50 tahun pernikahan

Tasyakuran 50 Tahun Pernikahan Surya Burhanuddin dan Sjenny Jamain, Penuh Kesan dan Menginspirasi

03/05/2026 7:42 PM

Baca Juga: Habib Abubakar dan Cahaya Sedekah dari Ternate

Pertanyaannya bukan apakah kita akan mengalami penurunan semangat—hampir pasti ya. Pertanyaan sesungguhnya adalah: seberapa jauh kita akan jatuh, dan bagaimana kita berencana untuk tidak jatuh terlalu dalam?

Fenomena ini sebenarnya sangat manusiawi. Semangat manusia memang tidak selalu stabil; ada saatnya naik dan ada saatnya turun. Yang menjadi masalah bukanlah turunnya semangat itu sendiri, melainkan ketika kita kembali sepenuhnya pada pola lama, seolah Ramadhan tidak meninggalkan bekas apa pun.

Di sinilah pentingnya sebuah “exit strategy” dari Ramadhan. Bukan sekadar menutup bulan suci dengan perayaan, tetapi membawa nilai dan kebiasaan baiknya ke dalam kehidupan sehari-hari setelahnya.

Ramadhan pada hakikatnya adalah semacam “training camp” spiritual. Selama satu bulan, kita dilatih untuk memperkuat disiplin ibadah, mengendalikan diri, memperbanyak kebaikan, serta membangun hubungan yang lebih dekat dengan Allah. Seperti halnya latihan fisik, hasil dari latihan ini tidak akan bertahan lama jika tidak dipelihara setelah masa pelatihan selesai.

Karena itu, mempertahankan momentum Ramadhan menjadi kunci utama. Namun mempertahankan bukan berarti meniru seluruh intensitas ibadah Ramadhan secara persis. Justru di sinilah banyak orang terjebak. Mereka mencoba mempertahankan standar yang sama tinggi, lalu merasa gagal ketika tidak mampu menjaganya.

Padahal prinsip yang diajarkan dalam tradisi Islam justru menekankan konsistensi daripada intensitas. Amal yang kecil tetapi dilakukan secara terus-menerus memiliki nilai yang lebih besar daripada amal yang besar tetapi hanya dilakukan sesekali.

Prinsip ini memberikan pelajaran penting: setelah Ramadhan, yang perlu dijaga bukanlah jumlah ibadah yang besar, melainkan keberlanjutannya.

Seseorang mungkin mampu membaca banyak halaman Al-Qur’an setiap hari selama Ramadhan. Namun setelahnya, cukup satu halaman sehari pun sudah sangat berarti jika dilakukan secara konsisten. Begitu juga dengan shalat malam. Jika sebelumnya dilakukan dalam jumlah rakaat yang banyak, maka setelah Ramadhan dua rakaat saja setiap malam sudah cukup untuk menjaga kebiasaan tersebut tetap hidup.

Selain konsistensi, membangun sistem juga sangat penting dalam menjaga kebiasaan baik. Kebiasaan tidak bertahan hanya karena niat yang kuat; ia membutuhkan lingkungan yang mendukung.

Misalnya dengan menempatkan Al-Qur’an di tempat yang mudah dijangkau, membuat pengingat untuk dzikir harian, atau menyisihkan waktu tertentu dalam rutinitas harian untuk membaca atau berdoa. Hal-hal kecil seperti ini sering kali menentukan apakah sebuah kebiasaan akan bertahan atau perlahan menghilang.

Dukungan sosial juga memiliki peran yang tidak kalah penting. Dalam banyak hal, manusia lebih mudah mempertahankan kebiasaan baik ketika memiliki teman yang saling mengingatkan. Lingkaran pertemanan yang positif dapat menjadi sumber motivasi sekaligus pengingat ketika semangat mulai menurun.

Di sisi lain, menjaga kualitas spiritual juga memerlukan refleksi yang jujur terhadap diri sendiri. Dalam dunia profesional kita mengenal konsep indikator kinerja atau target yang jelas untuk mengukur keberhasilan. Prinsip serupa sebenarnya juga bisa diterapkan dalam kehidupan spiritual.

Misalnya dengan memastikan shalat lima waktu tetap terjaga, membiasakan membaca Al-Qur’an secara rutin, memperbanyak zikir, serta menjaga hubungan baik dengan keluarga dan sesama. Hal-hal tersebut bukan sekadar ritual, tetapi indikator sederhana yang menunjukkan apakah kehidupan spiritual kita masih bergerak ke arah yang lebih baik atau justru stagnan. Mengukur diri bukan berarti mengubah ibadah menjadi sesuatu yang kaku atau mekanis. Sebaliknya, ini membantu kita untuk tetap sadar terhadap perjalanan spiritual yang sedang kita jalani.

Hal lain yang sering dilupakan adalah bahwa perjalanan spiritual bukanlah perlombaan cepat, melainkan perjalanan panjang. Ia lebih mirip maraton daripada sprint. Semangat yang meledak-ledak di awal tidak akan berarti jika tidak mampu dipertahankan dalam jangka panjang. Karena itu, mempertahankan beberapa kebiasaan inti dari Ramadhan bisa menjadi langkah awal yang realistis. Tidak perlu terlalu banyak. Bahkan dua atau tiga kebiasaan saja sudah cukup, selama dilakukan dengan konsisten. Misalnya, menjaga shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an setiap hari, atau memperbanyak dzikir dalam aktivitas harian. Kebiasaan kecil ini, jika dilakukan secara terus-menerus, akan membentuk fondasi spiritual yang kuat.

Selain itu, penting juga untuk menyadari bahwa setiap orang memiliki kapasitas yang berbeda. Perbandingan dengan orang lain sering kali justru melemahkan motivasi. Yang lebih penting adalah membandingkan diri kita hari ini dengan diri kita kemarin.

Apakah kita menjadi sedikit lebih baik? Apakah kita masih menjaga kebiasaan baik yang dibangun selama Ramadhan? Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini dapat menjadi kompas untuk menjaga arah perjalanan kita.

Baca Juga: Unik! Cara Masjid Supangat Tuban Jaga Konsistensi Jemaah lewat Undian Hadiah Ramadhan

Pada akhirnya, nilai Ramadhan tidak hanya terletak pada ibadah yang dilakukan selama satu bulan itu saja. Nilai sejatinya terletak pada perubahan yang ia tinggalkan setelahnya.

Jika setelah Ramadhan kita menjadi lebih sabar, lebih peduli pada sesama, lebih dekat dengan Al-Qur’an, dan lebih disiplin dalam ibadah, maka Ramadhan benar-benar telah berhasil mendidik kita.

Namun jika semuanya kembali seperti semula tanpa perubahan yang berarti, maka mungkin kita hanya melewati Ramadhan sebagai rutinitas tahunan.

Ramadhan datang setiap tahun sebagai kesempatan untuk memperbarui diri. Tantangannya bukan hanya menjalani bulan itu dengan baik, tetapi membawa cahaya yang ia nyalakan agar tetap menyala sepanjang tahun.

Karena pada akhirnya, tujuan dari Ramadhan bukan sekadar menjalani satu bulan yang suci, melainkan membentuk kehidupan yang lebih baik setelahnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id

Editor: Dwi Lindawati

Dwi Linda

Dwi Linda

Related Stories

Gus Yahya.

Menakar Dua Periode Gus Yahya: Mungkinkah?

by Dwi Linda
30/05/2026 8:27 PM
0

Oleh: Abdur Rahim** Tugujatim.id - Kepemimpinan di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sedang berada di persimpangan yang tidak mudah. Ketegangan...

Tasyakuran 50 tahun pernikahan

Tasyakuran 50 Tahun Pernikahan Surya Burhanuddin dan Sjenny Jamain, Penuh Kesan dan Menginspirasi

by Mochamad Abdurrochim
03/05/2026 7:42 PM
0

JAKARTA, Tugujatim.id – Tasyakuran 50 tahun pernikahan Surya Burhanuddin dan Sjenny Jamain berlangsung penuh kesan, syukur, dan inspirasi di Hotel...

AHWA.

Menimbang Pelembagaan AHWA sebagai Otoritas Kepemimpinan NU

by Dwi Linda
14/04/2026 7:52 PM
0

Oleh: Abdur Rahim (Warga NU; tinggal di Desa Simo, Tuban)   TUBAN, Tugujatim.id - Beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan...

Busana Khas Malang

Kajian Sejarah Busana Khas Malang

by Darmadi Sasongko
11/04/2026 3:25 AM
0

Tugujatim.id - Kajian Sejarah Busana Khas Malang ditulis oleh Dwi Cahyono, Yayasan Inggil. Identitas sebuah daerah tidak hanya tercermin dari...

Next Post
Mojokerto.

Jelang Lebaran, 250 Personel di Mojokerto Terjun dalam Operasi Ketupat Semeru 2026

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID