Oleh: Mahdi Kherid, Wakil Ketua PW Ansor Jawa Timur
”Ayo makan, ayo makan.”
Tugujatim.id – Di lain kesempatan, beliau berjalan tertatih mengenakan tongkat. Sambil bilang: ayo ibu-ibu makan, mana makananya untuk ibu-ibu.
”Buka puasa, ayo makan yang enak,” imbuhnya.
Ya, suara parau yang khas itu, adalah suara dari DR (H.C) Al Habib Abubakar bin Hasan Alattas Az Zabidi. Pria yang tak lagi muda. Umurnya 73 tahun, tapi dalam urusan sedekah dan berzakat, beliau selalu mempunyai jiwa muda yang penuh semangat.
Kealiman dalam urusan Agama Islam beliau tidak diragukan lagi karena beliau pernah menimba ilmu di Makkah, Hadramaut seperti Zabid, Shan’a, Baidha’ Yaman dan Al Azhar Kairo. Mungkin karena kealiman itulah, pada 1981 beliau dinobatkan sebagai mufti besar empat kesultanan Jazirah Maluku, yaitu Kesultanan Ternate, Tidore, Tobelo dan Bacan.
Baca Juga: Unik! Cara Masjid Supangat Tuban Jaga Konsistensi Jemaah lewat Undian Hadiah Ramadhan
Tahun ini, peraih doktor honoris causa dari Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar ini menyalurkan antara 2000 hingga 2500 paket zakat. Nominalnya mencapai Rp9 miliar. Berdasarkan data yang dihimpun, tahun lalu beliau juga menyalurkan zakat di Banjarmasin, Makassar, Jakarta, dan beberapa wilayah timur Indonesia, termasuk Maluku Utara.
“Anggaran yang disiapkan sebesar Rp3 miliar sampai Rp7 miliar, bukan hanya kepada penderita kusta tetapi juga untuk penderita HIV/AIDS, distabilitas termasuk petugas kebersihan di daerah Halsel dan Halut,” tutur dr Moh Alhabsyi, pengurus yayasan beliau, sabagaimana penulis kutip dari indotimur.com.
Setiap hari Jumat memang beliau selalu bersedekah. Di bulan Ramadhan, intensitas kepedulian itu mencapai puncaknya. Buka puasa bersama, makan malam, hingga sahur bersama ribuan jemaah menjadi pemandangan yang nyaris rutin. Lorong Majelis Ta’lim Khairunnisa dan kediamannya di Ternate, seolah tidak pernah sepi dengan aktivitas sosial dan keagamaan. Tidak hanya memberi sedekah berupa makanan dan uang tunai, beliau juga bersedekah batin berupa mengisi pengajian hampir setiap hari.
Apa yang dilakukan Habib Abubakar adalah hal langka di dunia yang makin transaksional. Beliau menggunakan logika memberi, sebagaimana yang diajarkan Nabi Muhammad SAW bahwa sejatinya harta yang abadi adalah harta yang disedekahkan. Bukan harta yang ditimbun dalam bentuk asset dan rekening.
Yang menarik dari beliau, bukan hanya jumlah bantuan yang disalurkan, tetapi konsistensinya. Kegiatan berbagi ini sudah berjalan sejak sekitar tahun 1981. Artinya, lebih dari empat dekade dia menekuni satu hal yang sama yaitu menolong orang lain.
Empat puluh tahun bukan waktu yang pendek. Itu bukan lagi sekadar program sosial. Itu sudah menjadi jalan hidup bagi ulama’ yang juga pengusaha ini.
Saya teringat pada satu teori menarik dari buku Give and Take karya Adam Grant. Dalam risetnya tentang perilaku manusia di dunia profesional, Grant membagi manusia menjadi tiga tipe: taker, matcher, dan giver.
Taker selalu ingin mendapatkan keuntungan lebih dulu.
Matcher memberi jika ada timbal balik.
Sedangkan giver memberi tanpa terlalu sibuk menghitung balasan.
Menariknya, riset Grant menunjukkan bahwa dalam jangka panjang para giver justru sering menjadi orang yang paling berpengaruh dan dihormati. Bukan karena mereka mengejar pengaruh, tetapi karena kepercayaan sosial perlahan terbentuk dari kebiasaan memberi. Dalam riset Adam Grant tersebut, disebutkan bahwa seorang giver cenderung lebih bahagia daripada orang dengan jenis Taker dan Matcher.

Dalam perspektif Islam, konsep ini sebenarnya sudah lama dikenal. Sedekah tidak mengurangi harta. Zakat tidak membuat orang miskin. Justru dari memberi, terbentuk jaringan kebaikan yang jauh lebih luas dari sekadar nilai materi.
Apa yang dilakukan Habib Abubakar mengingatkan kita pada satu hal sederhana: bahwa memberi bukan soal besar kecilnya jumlah bantuan, melainkan tentang keteguhan untuk terus melakukannya.

Di dunia yang sering dipenuhi logika keuntungan, orang seperti ini mengingatkan kita pada logika yang lebih tua dan lebih dalam: logika keberkahan.
Sebab pada akhirnya, kekayaan seseorang tidak selalu diukur dari apa yang ia kumpulkan, tetapi dari berapa banyak kehidupan yang pernah ia sentuh dengan kebaikan.
Baca Juga: Momen Ramadhan 2026, Pengunjung Wisata Religi Troloyo Mojokerto Naik
Dan Ramadhan, benar-benar dijadikan oleh beliau sebagai sarana untuk healing spiritual. Tak hanya ibadah dan ngaji yang beliau tingkatkan, tapi sedekah juga beliau tingkatkan. Semoga, semakin banyak pengusaha di Indonesia yang seperti beliau.
Tak hanya mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya, tapi juga berbagi kepada masyarakat sebanyak-banyaknya.
Selain kegiatan Dakwahnya tersebut beliau juga mengajar di pesantren Qotrun Nada citayam Depok Jawa Barat, yang di asuh oleh Dr KH Muhammad Zindi Irfan bin KH Burhanuddin.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Editor: Dwi Lindawati








