TUBAN, Tugujatim.id – Riuh tawa warga pecah di bibir pantai Desa Gesikharjo, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban. Anak-anak hingga orang tua berbaur, berjalan beriringan menuju laut mengikuti Tradisi Dus-dusan.
Warga sekampung menuju pantai, bukan sekadar bermain air, melainkan menjalankan sebuah tradisi turun-temurun yang dipercaya dapat membuang sial dan sembuhkan penyakit.
Tradisi ini digelar sepekan setelah perayaan Lebaran Ketupat atau yang oleh warga setempat disebut “Kupatan”. Dalam momen tersebut, warga satu kampung bahkan dari desa-desa sekitar berkumpul untuk mandi bersama di laut.
Bagi mereka, dus-dusan bukan hanya kegiatan seremonial, tetapi sarat makna spiritual dan kearifan lokal.

Tarsiman, Kepala Dusun di Desa Gesikharjo menuturkan, tradisi ini telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu dan terus dijaga hingga kini. Ia menyebut, dus-dusan menjadi bagian dari rangkaian panjang perayaan Syawal di kampungnya.
“Ini tradisi tahunan setelah kupatan. Selang satu minggu, kita lanjutkan ke laut. Tujuannya sebagai penutup rangkaian sekaligus bentuk motivasi dan kebersamaan warga,” ujarnya.
Menurutnya, berdasarkan cerita para sesepuh, mandi di laut dalam tradisi dus-dusan dipercaya mampu menghilangkan berbagai penyakit dan energi negatif. Keyakinan itu membuat masyarakat tetap setia melestarikannya, meski zaman terus berubah.
“Dari orang tua dulu, ini diyakini untuk membuang sial dan menyembuhkan penyakit. Karena itu, kami sebagai generasi penerus berusaha menjaga tradisi ini agar tidak hilang,” imbuhnya.

Menariknya, tradisi yang awalnya hanya diikuti warga satu kampung kini semakin meluas. Warga dari desa tetangga mulai ikut bergabung, menjadikan dus-dusan sebagai agenda bersama yang dinanti setiap tahun.
“Dulu hanya dari kampung sendiri. Sekarang sudah banyak dari desa sebelah ikut meramaikan. Bahkan yang datang bisa lebih dari satu kampung,” kata Tarsiman.
Senada dengan itu, tokoh masyarakat setempat, Sukardi menjelaskan bahwa dus-dusan telah ada jauh sebelum dirinya lahir. Tradisi tersebut menjadi bagian dari identitas warga Dusun Gesik yang terus diwariskan lintas generasi.
“Sejak saya kecil, bahkan mungkin sebelum saya lahir, tradisi ini sudah ada. Kami hanya meneruskan apa yang sudah menjadi kebiasaan leluhur,” ungkapnya.
Ia menambahkan, masyarakat meyakini mandi di laut dalam momentum tersebut membawa berkah kesehatan dan umur panjang. Selain itu, tradisi ini juga menjadi sarana mempererat kebersamaan warga.

“Ada keyakinan bahwa dengan mandi di laut, Allah memberikan kesehatan dan umur panjang, sehingga bisa kembali bertemu di tahun berikutnya,” jelas Sukardi.
Rangkaian dus-dusan sendiri diawali dengan kegiatan kumpul bersama di halaman masjid Syekh Asmoroqondi di pagi hari. Warga kemudian melakukan doa bersama sebelum berangkat menuju pantai. Setelah itu, mereka berjalan bersama-sama menuju laut dan berendam secara serentak.
Tradisi dus-dusan menjadi bukti bahwa kearifan lokal masih hidup di tengah masyarakat. Di balik kesederhanaannya, tersimpan nilai kebersamaan, spiritualitas, dan penghormatan terhadap warisan leluhur yang terus dijaga hingga kini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Muchamad Abdurrochim
Editor: Darmadi Sasongko








