SURABAYA, Tugujatim.id – Polisi masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dari rumah sakit yang menangani korban dugaan keracunan massal usai menghadiri acara tahlilan tujuh hari wafatnya salah satu warga di Jalan Sido Kapasan Gang 10, Kecamatan Simokerto, Surabaya.
Hingga saat ini, langkah tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan penyebab pasti insiden keracunan massal yang mengakibatkan puluhan warga mengalami keluhan kesehatan tersebut.
Kapolsek Simokerto Kompol Zainur Rofik mengatakan, jumlah warga yang masih menjalani perawatan di rumah sakit terus berkurang seiring membaiknya kondisi para korban. Dari sebelumnya empat orang dirawat di sejumlah fasilitas kesehatan di Surabaya, kini tersisa tiga orang yang masih menjalani perawatan.
Baca Juga: 26 Orang di Surabaya Diduga Keracunan Massal, Alami Mual, Pusing Hingga Lemas
“Perkembangannya yang di Rumah Sakit Al-Irsyad sudah pulang kemarin. Jadi yang masih dirawat tinggal tiga orang,” ujar Zainur saat dikonfirmasi pada Senin (06/04/2026).
Tiga korban yang masih menjalani perawatan tersebut masing-masing dirawat di RS Soewandhie dan RS PHC Surabaya. Sementara korban lain yang sebelumnya mengalami gejala ringan sebagian besar telah menjalani rawat jalan dan kembali ke rumah.
Polisi Pastikan Tak Ada Korban Baru
Secara keseluruhan, tercatat sebanyak 26 warga mengalami keluhan kesehatan seperti mual, pusing, dan lemas setelah menghadiri kegiatan tahlilan tersebut. Polisi memastikan hingga kini tidak ada tambahan korban baru yang melaporkan gejala serupa.
“Untuk penambahan korban sampai sekarang tidak ada. Jadi hanya yang sebelumnya itu saja,” katanya.
Meski demikian, polisi masih terus menyelidiki guna memastikan penyebab pasti kejadian tersebut. Salah satu langkah yang dilakukan adalah berkoordinasi dengan rumah sakit untuk memperoleh hasil pemeriksaan laboratorium terhadap para korban.
Menurut Zainur, hasil laboratorium dari fasilitas kesehatan sangat diperlukan karena sampel makanan yang diduga menjadi pemicu keracunan sudah tidak tersedia untuk diperiksa lebih lanjut.
“Untuk sampel makanan sudah tidak ada karena makanan itu dikonsumsi sejak Selasa. Jadi nanti kami minta bantuan dari rumah sakit terkait hasil pemeriksaan laboratoriumnya,” ujarnya.
Dia menjelaskan, pemeriksaan laboratorium di rumah sakit diharapkan dapat memberikan gambaran medis terkait zat atau faktor yang diduga menjadi penyebab munculnya gejala pada para korban.
Diberitakan sebelumnya, peristiwa dugaan keracunan massal bermula setelah warga menghadiri acara selamatan atau tahlilan tujuh hari wafatnya salah satu warga setempat pada Selasa (31/03/2026). Sejumlah warga yang menghadiri kegiatan tersebut mengonsumsi hidangan yang disediakan panitia.
Baca Juga: Dugaan Keracunan MBG di Jember, Gus Fawait Ancam Cabut Izin Dapur SPPG
Keesokanharinya, Rabu (01/04/2026), beberapa warga mulai merasakan gejala seperti lemas, pusing, dan mual. Jumlah warga yang mengalami keluhan kemudian bertambah secara bertahap hingga Sabtu (04/04/2026).
Sebagian warga dengan gejala ringan menjalani perawatan secara rawat jalan, sementara beberapa lainnya sempat mendapatkan penanganan medis di rumah sakit.
Hingga kini, polisi masih menunggu hasil pemeriksaan lanjutan dari pihak rumah sakit untuk memastikan penyebab kejadian tersebut sekaligus menentukan langkah penanganan berikutnya apabila ditemukan indikasi keracunan makanan secara medis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: M. Khaesar
Editor: Dwi Lindawati








