BOJONEGORO, Tugujatim.id – Pagi itu, kandang di Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro belum benar-benar ramai. Namun puluhan Sapi Peranakan Ongole (PO) milik Muhammad Ali sudah berdiri tenang, seolah tak terganggu oleh panas Matahari yang mulai merangkak naik.
Dari sanalah cerita tentang keunggulan dan ironi sapi lokal Bojonegoro dimulai.
Kabupaten Bojonegoro kembali menegaskan identitasnya sebagai salah satu lumbung ternak nasional, khususnya sapi Peranakan Ongole (PO). Di tengah geliat modernisasi peternakan dan serbuan sapi cross (persilangan), sapi PO tetap berdiri sebagai simbol ketahanan genetik lokal.
Namun di balik keunggulan biologisnya, terselip ironi yaitu harga pasar yang stagnan dan minat peternak mulai menurun.
Seorang peternak sekaligus Ketua Asosiasi Peternak Sapi, Ustan Mandiri, di Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro menceritakan pengalamannya mulai beternak sapi PO sejak tahun 2014.
BACA JUGA: Tiga Jejak Sejarah Rajekwesi Bojonegoro: Prasejarah, Kerajaan Hindu-Buddha dan Budaya Lokal
Selama lebih dari satu dekade, ia menyaksikan langsung bagaimana sapi PO menjadi tulang punggung peternakan rakyat. “Alasan utama memilih sapi PO karena reproduksinya sangat bagus,” ungkap Muhammad Ali. .

Dalam praktiknya, sapi PO bahkan mampu beranak hingga 13 kali sepanjang masa produktif, tentu angka yang sulit ditandingi jenis lain. Saat ini, ia mengelola sekitar 59 ekor sapi. Jumlah tersebut bukan sekadar angka, tetapi representasi dari konsistensi dan kepercayaan terhadap kualitas sapi lokal.
Menurutnya, sapi PO Bojonegoro memiliki keunggulan yang tidak hanya terletak pada reproduksi, tetapi juga daya tahan terhadap lingkungan. “Di kondisi cuaca ekstrem pun sapi PO masih bisa bertahan. Bahkan saat wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) melanda, sapi PO tidak ada yang tumbang dibanding sapi merah,” jelasnya.
BACA JUGA: Jejak Sejarah Soekarno di Rumah Tua Bojonegoro
Ketahanan ini menjadi bukti bahwa sapi PO telah beradaptasi kuat dengan kondisi geografis dan iklim lokal. Tak hanya itu, kualitas daging sapi PO juga menjadi nilai jual tersendiri. Teksturnya dinilai baik, dengan warna merah segar yang menarik. Secara kualitas, daging sapi PO sebenarnya tidak kalah bersaing. Namun persoalannya bukan pada kualitas, melainkan pada persepsi pasar.
Penetapan Kecamatan Tambakrejo sebagai wilayah sumber bibit (Wilsumbit) sejak tahun 2010 melalui Surat Keputusan Kementerian Pertanian seharusnya menjadi angin segar bagi peternak. Status ini menegaskan bahwa wilayah tersebut memiliki potensi genetik unggul untuk pengembangan sapi PO. Namun di lapangan, dampaknya belum terasa signifikan.
“Belum ada perubahan berarti. Hanya beberapa saja yang diambil instansi, itupun jumlahnya sangat sedikit. Harapannya status Wilsumbit akan meningkatkan permintaan dan harga jual ternyata belum sepenuhnya terwujud,” ucapnya.

Di sisi lain, program pemerintah seperti Sertifikat Kelayakan Bibit (SKLB) justru dinilai membantu dari sisi teknis. Proses seleksi bibit menjadi lebih terarah dan meningkatkan kualitas ternak. Meski demikian, sertifikasi tersebut belum mampu mendongkrak harga di pasar. “KLB belum berpengaruh ke penjualan. Harga tetap stagnan,” kata pria yang akrab disapa Ali.
Hal serupa juga terjadi pada program inseminasi buatan (IB) dan vaksinasi. Ia mengakui mengikuti program IB, namun untuk vaksinasi masih terdapat kendala, terutama keterlambatan distribusi. “Saat wabah datang baru ada vaksin. Seharusnya ada pencegahan lebih awal,” kritiknya.
Secara ekonomi, beternak sapi PO menghadirkan dilema. Dari sisi populasi, pertumbuhan tergolong signifikan. Namun dari sisi keuntungan, hasilnya belum memuaskan. Harga sapi PO dinilai jauh di bawah sapi cross, yang saat ini lebih diminati pasar. Perhitungan biaya pun menunjukkan tekanan yang tidak ringan. Untuk satu ekor sapi, kebutuhan pakan hijauan segar mencapai sekitar 60 kilogram per hari.
BACA JUGA: Di Atas Luka Bumi Kita Berwisata! Lahan Bekas Tambang di Pasuruan Jadi Destinasi Wisata Viral
Dengan harga Rp600 per kilogram, biaya harian mencapai Rp36 ribu, atau sekitar Rp1.080.000 per bulan. Ditambah pakan konsentrat sekitar Rp99 ribu per bulan, total biaya perawatan mencapai Rp1.179.000. Sementara itu, harga jual sapi calon indukan usia 1,5 tahun hanya berkisar Rp7–8 juta. Margin yang tipis ini membuat banyak peternak mulai berpikir ulang untuk mempertahankan sapi PO sebagai usaha utama.
“Tantangan lain datang dari menurunnya minat pasar. Peminat sapi PO mulai berkurang drastis karena harga yang murah,” ujar pria asal Tambakrejo, Bojonegoro.
Selain itu, ancaman penyakit seperti Lumpy Skin Disease (LSD) juga menjadi kekhawatiran tersendiri, meskipun secara umum sapi PO tergolong tahan penyakit. Beruntung, dari sisi pakan, Bojonegoro memiliki keunggulan tersendiri. Limbah pertanian yang melimpah memungkinkan peternak membangun bank pakan, terutama saat musim panen. Strategi ini membantu menjaga ketersediaan pakan di musim kemarau.
“Akses bantuan dan pelatihan masih belum merata. Hanya peternak tertentu yang bisa mengakses, ketimpangan ini menjadi salah satu hambatan dalam pengembangan peternakan yang inklusif,” imbuhnya.
Sebagai ketua asosiasi peternak, ia juga menyoroti minimnya manfaat konkret dari keanggotaan kelompok ternak. Padahal secara ideal, kelompok ternak dapat menjadi wadah kolaborasi, distribusi informasi, hingga akses pasar. Peran pemerintah daerah pun dinilai masih terbatas. Ia memperkirakan kontribusi nyata pemerintah saat ini baru sekitar 30 persen dalam mendukung peternak ruminansia. Angka ini menunjukkan masih besarnya ruang untuk perbaikan kebijakan dan implementasi program.
Ke depan, ia berharap adanya penguatan sumber daya manusia (SDM) peternak, penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk mendukung budidaya, serta inovasi yang mampu meningkatkan nilai ekonomi sapi PO. “Satu hal yang paling mendesak adalah stabilisasi harga. Harga sapi PO harus distabilkan, sekarang sudah tergerus oleh sapi cross,”ulasnya.
Sapi PO Bojonegoro adalah cerita tentang potensi besar yang belum sepenuhnya dioptimalkan. Ia unggul dalam genetik, tangguh dalam menghadapi alam, dan berkualitas dalam hasil. Tetapi tanpa intervensi pasar dan kebijakan yang berpihak, keunggulan itu berisiko tergerus zaman. Di tengah arus industrialisasi peternakan, sapi PO bukan sekadar komoditas. Ia adalah warisan, identitas, sekaligus harapan bagi peternak lokal. Tinggal bagaimana semua pihak pemerintah, pasar, dan peternak mampu berjalan seirama untuk menjaga keberlanjutannya.
Menangani hal tersebut, Sekretaris Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Bojonegoro, Elfia Nuraini, mengungkapkan bahwa fokus pemerintah saat ini adalah menjaga kemurnian genetik sekaligus meningkatkan nilai ekonomi bagi peternak lokal.
“Kami tidak hanya berbicara soal kuantitas, tapi kualitas genetik yang teruji. Dengan status Tambakrejo sebagai wilayah sumber bibit, kami memastikan bahwa setiap sapi PO yang keluar dari sini telah melalui seleksi ketat berstandar SNI dan memiliki SKLB,” sambung Sekretaris Disnakkan Bojonegoro.
Untuk terus meningkatkan kualitas sapi PO, meskipun telah melakukan beberapa langkah. Diantaranya program Sertifikat Layak Bibit Sapi PO (SKLB), pelayanan inseminasi buatan (IB) dan gangrep untuk meningkatkan produktivitas sapi. Juga pemberian vaksin dan obat hewan untuk menjaga kesehatan sapi, pengembangan Kelompok Tani Ternak dan asosiasi peternak sapi PO Bojonegoro (Kepo Bojo).
Melalui program-program itu, akan menjadi inovasi yang mempunyai tiga manfaat sekaligus. Yakni melestarikan sumber daya genetik sapi PO, menyediakan bibit sapi PO yang berkualitas dan berkesinambungan, serta mendukung ketahanan pangan dan swasembada daging.
“Langkah ini sekaligus sebagai upaya mempertahankan plasma nuftah dan memastikan peternak mendapatkan nilai jual yang lebih tinggi karena bibitnya diakui secara nasional. Kolaborasi dengan kelompok ternak terus ekosistem untuk menjaga ekosistem peternakan yang berkelanjutan,” tutup Elfia Nuraini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Lizza Arnofia Choirunisa/ Kontributor
Editor: Darmadi Sasongko








