BOJONEGORO,Tugujatim.id — Bangunan tua bergaya arsitektur kolonial Hindia-Belanda yang berdiri kokoh di Jalan Panglima Sudirman, Bojonegoro, menyimpan kisah Jejak Sejarah Soekarno, yang tak banyak diketahui publik.
Di balik dinding kokohnya dan desain klasik yang masih terjaga utuh, rumah tersebut dipercaya pernah menjadi tempat persinggahan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, pada tahun 1957.
Rumah yang menghadap ke selatan, tepat di utara lampu merah (mbombok) kawasan pusat kota Bojonegoro, dan bahkan hingga kini masih berdiri dengan kondisi yang relatif terawat. Menurut beberapa sumber, keaslian bangunan yang mencapai sekitar 95 persen menjadikannya sebagai salah satu saksi bisu perjalanan sejarah di Bojonegoro, meski belum ditetapkan secara resmi sebagai cagar budaya.
Burhan, pemilik rumah saat ini, menuturkan bahwa kisah singgahnya sang proklamator, ia dengar pertama kali dari ayahnya. Cerita tersebut kemudian diwariskan secara lisan di dalam keluarga, meskipun tidak disertai dengan bukti dokumentasi seperti foto maupun arsip resmi.
“Pertama kali tahu dari cerita ayah. Konon Presiden Soekarno pernah menginap di rumah ini sekitar tahun 1957,” ungkap Burhan.
Rumah Kuno Persinggahan Presiden Soekarno, Masih Menjadi Milik Raden Mochtar
Kala peristiwa itu terjadi, rumah kuno tersebut masih menjadi milik Raden Mochtar, yang menjabat sebagai Kepala Karesidenan Bojonegoro, lembaga yang kini dikenal sebagai Bakorwil. Setahun kemudian, tepatnya pada tahun 1958, rumah tersebut dijual dan dibeli oleh pasangan Haji Erfan dan Hajah Aisyiah, yang merupakan kakek dan nenek dari Pak Burhan.
Pasangan tersebut dikenal sebagai pengusaha jagal sapi pada masanya. Sejak saat itu, rumah kuno yang berada di Jalan Panglima Sudirman Bojonegoro, menjadi bagian dari sejarah keluarga Burhan hingga sekarang. Meski tidak mengetahui secara pasti tujuan kunjungan Presiden Soekarno ke Bojonegoro kala itu.
Burhan menyebut bahwa sang presiden hanya singgah selama satu malam sebelum melanjutkan perjalanan ke Kediri.”Setahu saya hanya menginap sehari, lalu besoknya berangkat ke Kediri. Cerita lengkapnya memang tidak banyak,”ujarnya.
Jejak Kolonial Tersisa
Selain kisah tentang Presiden pertama Republik Indonesia, rumah ini juga menyimpan jejak masa kolonial. Burhan menuturkan, bahwa sebelum dimiliki oleh keluarganya, rumah tersebut pernah ditempati oleh orang Belanda. “Nenek pernah cerita, dulu sering melihat orang Belanda duduk membaca koran di rumah ini,” katanya.
Bahkan pada sekitar tahun 1977, saat Burhan masih menempuh bangku perkuliahan di Surabaya, seorang pria asal Belanda sempat datang berkunjung ke rumah tersebut. Pria tersebut mengaku pernah tinggal di sana pada masa kecilnya dan datang kembali untuk melihat serta mengambil foto rumah yang penuh kenangan baginya.
Memasuki bagian dalam rumah, nuansa masa lalu terasa begitu kuat. Pintu-pintu kayu berukuran tinggi, ventilasi besar, serta tata ruang khas bangunan kolonial masih dipertahankan. Burhan menyebut bahwa hanya bagian atap yang pernah mengalami perbaikan, sementara bagian lainnya tetap dibiarkan asli.
“Yang diubah hanya atap, itu pun karena faktor usia. Selebihnya masih sama seperti dulu,”jelasnya.
Beragam Benda Bernilai Sejarah Masih Awet
Di dalam rumah, terdapat sejumlah benda yang diyakini memiliki nilai sejarah, termasuk sebuah ranjang yang konon pernah digunakan oleh Presiden Soekarno saat menginap. Selain itu, terdapat pula koleksi keramik yang disebut sebagai peninggalan dari Dinasti Ming.
Namun, tidak semua benda bersejarah di rumah itu berhasil dipertahankan. Burhan mengisahkan bahwa pada tahun 1994, rumah tersebut sempat dibobol maling saat keluarganya sedang berada di Jakarta. Peristiwa itu terjadi saat hujan deras, yang diduga dimanfaatkan oleh pelaku untuk melancarkan aksinya. “Waktu itu banyak barang hilang. Yang tersisa hanya beberapa, termasuk guci keramik dari Dinasti Ming,” kenang Burhan.
Seiring waktu, rumah tersebut juga pernah menarik perhatian kolektor yang tertarik untuk membeli barang-barang peninggalan yang ada di dalamnya. Namun, sebagian besar benda berharga telah hilang akibat peristiwa pencurian tersebut.
Pada bagian belakang rumah, terlihat bangunan tambahan yang juga masih mempertahankan karakter arsitektur lama. Salah satu ciri khasnya adalah letak kamar mandi yang terpisah dari bangunan utama, sebagaimana umum ditemukan pada rumah-rumah era kolonial.
“Kamar mandi dulu memang terpisah di belakang. Material bangunannya juga kuat, makanya masih bertahan sampai sekarang,” ujarnya.
Rencana Jadi Cagar Budaya
Meski memiliki nilai sejarah yang tinggi, status rumah tersebut hingga kini masih menjadi milik pribadi. Pemerintah sempat berencana menjadikannya sebagai cagar budaya, namun rencana tersebut belum terealisasi. Lanjut Burhan, ada sejumlah konsekuensi administratif dan finansial yang harus dipertimbangkan, termasuk terkait pajak bumi dan bangunan (PBB), jika rumah tersebut ditetapkan sebagai cagar budaya.
“Pemerintah pernah ingin menjadikannya cagar budaya, tapi ada banyak pertimbangan. Karena ini masih milik pribadi, tidak bisa diputuskan sepihak,” bebernya.
Dan di antara riuhnya zaman yang terus bergerak, rumah tua itu tetap setia berdiri dan diam, namun penuh makna. Ia bukan sekadar bangunan, melainkan penjaga ingatan yang tak lekang oleh waktu. Di dinding-dindingnya, sejarah berbisik pelan tentang singgahnya seorang pemimpin besar, tentang jejak langkah yang pernah menghidupkan sudut kota ini.
Bojonegoro mungkin terus tumbuh dan berubah, tetapi kisah itu tetap tinggal serta mengakar, menguatkan memberi arti. Sebab pada akhirnya, sejarah bukan hanya untuk dikenang, melainkan untuk dirasakan akan keberadaan rumah kuno itu dengan segala kesederhanaannya, masih setia menyampaikan cerita kepada siapa saja yang mau berhenti sejenak dan mendengarkan.
Sementara itu, catatan sejarah mengenai kunjungan Presiden Soekarno ke Bojonegoro juga ditemukan dalam sebuah buku karya jurnalis Belanda, Willem Oltmans. Dalam bukunya, disebutkan bahwa pada 9 Juli 1957, Presiden Soekarno bersama istrinya, Hartini, melakukan kunjungan ke Bojonegoro.
“Dalam kunjungan tersebut, Presiden Soekarno disebut mengadakan rapat besar di Alun-Alun Bojonegoro. Rumah di Jalan Panglima Sudirman ini diyakini menjadi tempat beliau bermalam sebelum melanjutkan agenda berikutnya,” sambung Burhan.
Kunjungan tersebut terjadi pada masa awal konsolidasi pemerintahan Indonesia pascakemerdekaan, ketika struktur pemerintahan daerah masih dalam tahap pembenahan. Pada periode itu, pemerintah pusat melakukan koordinasi dengan daerah untuk memperkuat sistem administrasi dan pembangunan.
Kini, rumah tersebut tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga menyimpan cerita panjang yang menghubungkan masa kolonial, masa perjuangan, hingga era modern. Meski belum tercatat secara resmi sebagai situs sejarah, keberadaannya tetap menjadi bagian penting dari narasi lokal yang memperkaya identitas Bojonegoro.
“Bagi masyarakat setempat, kisah tentang singgahnya Presiden Soekarno di rumah itu menjadi kebanggaan tersendiri. Sebuah pengingat bahwa kota kecil ini pernah menjadi bagian dari perjalanan seorang tokoh besar dalam sejarah bangsa,” tutup Burhan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Penulis; Lizza Arnofia Choirunisa/ Kontributor
Editor: Darmadi Sasongko








