KOTA BLITAR, Tugujatim.id – Ramainya sorotan terhadap kondisi Alun-Alun Kota Blitar di media sosial mendapat respons dari Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin.
Dalam peninjauan yang dilakukan beberapa waktu lalu, ia melihat langsung kondisi fasilitas publik yang kini menjadi perbincangan.
Wali Kota yang akrab disapa Mas Ibin menegaskan bahwa pemerintah terbuka terhadap kritik dan masukan dari masyarakat, termasuk dari konten kreator yang melakukan ulasan.
“Saya kira pemerintah juga harus sangat perhatian terhadap fasilitas publik. Pemerintah senang sekali kalau ada masyarakat yang memperhatikan fasilitas, kami juga ingin mereview,” ujarnya kepada Tugujatim.id, Rabu (08/04/2026).

Konsep Alun-Alun Tetap Jaga Nilai Tradisional
Mas Ibin menjelaskan, Alun-Alun Kota Blitar memang dirancang sebagai ruang terbuka (open space) yang tetap mempertahankan nilai tradisional. Ia mencontohkan konsep alun-alun di daerah lain yang memiliki kesamaan fungsi sebagai ruang publik terbuka di pusat kota.
“Alun-alun itu sifatnya open space, tapi tetap memperhatikan tradisionalismenya. Kayak di Jogja juga sama, di tengah kota. Di Kota Blitar ini simbolnya jelas, ada pohon sentral, lalu di barat masjid, di timur lapas,” jelasnya.
Menurutnya, konsep tersebut merupakan bagian dari identitas budaya dan adat istiadat yang harus dijaga.
Soal Fasilitas dan Perawatan Perlu Pembenahan
Terkait kondisi fasilitas, Mas Ibin menilai secara umum masih dalam kondisi layak meski membutuhkan perawatan berkala. Ia menyebut, kerusakan ringan pada beberapa fasilitas merupakan hal wajar mengingat usia pembangunan yang sudah beberapa tahun.
“Saya kira fasilitas di sini masih oke ya, walaupun dibangun 4-5 tahun lalu. Tapi memang perlu dirawat,” katanya.
Ia juga menyinggung soal keberadaan burung kuntul yang sempat menjadi keluhan. Menurutnya, upaya penanganan sudah dilakukan tanpa menyakiti satwa
“Memang agak susah, sudah kami upayakan pemindahan, tapi masih ada. Saya juga tidak mungkin menyakiti satwa. Makanya ayo kita carikan solusi bersama-sama,” ujarnya.
Mas Ibin menambahkan, pembersihan area termasuk kotoran burung dilakukan secara rutin setiap hari. Ke depan, perawatan seperti pengecatan fasilitas hingga pembenahan ringan akan dilakukan sesuai kemampuan anggaran.
Efisiensi Anggaran Jadi Tantangan
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa keterbatasan anggaran menjadi salah satu pertimbangan dalam pengelolaan fasilitas publik. Pemkot Blitar saat ini mengalami pengurangan dana transfer dari pusat.
“Ada pemangkasan sekitar Rp126 miliar dana transfer ke daerah. Jadi dalam posisi ini pemerintah membuat kegiatan dengan minim anggaran,” jelasnya.
Meski begitu, ia memastikan berbagai program tetap berjalan, termasuk upaya menghidupkan ekonomi masyarakat melalui kegiatan seperti car free day (CFD) dengan konsep tanpa anggaran besar.
Dia mengajak masyarakat ikut menjaga kebersihan dan fasilitas yang ada di alun-alun, mulai dari tidak membuang sampah sembarangan hingga merawat fasilitas umum seperti toilet.
Viral Usai Di-review Influencer
Sebelumnya, kondisi Alun-Alun Kota Blitar menjadi sorotan setelah direview seorang influencer asal Malang melalui akun media sosialnya @gilang.her.
“Ini keramiknya, motif apa? Sepertinya motif balas dendam. Saya pikir tadi itu motif, ternyata emang kotor saja itu,” katanya.
Selain itu, dia juga mengomentari fungsi ruang. Sang influencer menyoroti tatanan open space alun-alun Koya Blitar yang terlalu kosong.
Dia kemudian menuju taman bermain yang lengkap dengan sejumlah fasilitas mainan anak. Namun, Gilang kembali memberikan komentar terhadap fasilitas yang dianggap sudah tidak layak.
“Ini play-nya gimana nih? Oh ini Shower outdoor,” tambahnya sambil menunjukkan fasilitas bermain yang menurutnya membingungkan.
Video tersebut pun viral dan memicu berbagai tanggapan publik, terutama terkait kondisi fasilitas yang dinilai kurang terawat serta konsep ruang yang dianggap kurang optimal, meski diketahui pembangunan alun-alun tersebut menelan anggaran hingga sekitar Rp5 miliar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Moch. Luki Azhari / Kontributor
Editor: Darmadi Sasongko








