BOJONEGORO, Tugujatim.id – Realisasi penyaluran pupuk subsidi di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, pada musim tanam pertama tahun 2026 masih tergolong rendah.
Hingga akhir Maret, penyaluran baru mencapai 25,16 persen dari total alokasi yang tersedia.
Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro, dari total alokasi pupuk bersubsidi sebesar 130.177 ton, pupuk yang telah tersalurkan baru sekitar 32.752 ton.
Jumlah tersebut dinilai masih wajar mengingat musim tanam pertama baru saja dimulai.
Kepala DKPP Bojonegoro, Zaenal Fanani, mengatakan bahwa rendahnya serapan pupuk bersubsidi disebabkan oleh kondisi musim tanam yang belum berjalan maksimal di seluruh wilayah.

Petani, kata dia, masih dalam tahap awal pengolahan lahan sehingga kebutuhan pupuk belum tinggi.
“Karena baru memasuki musim tanam pertama, sehingga serapan pupuk masih minim,” ungkapnya kepada Tugujatim.id.
Ia menjelaskan, total alokasi pupuk bersubsidi yang diterima Bojonegoro tahun ini mencapai 130.177 ton. Rinciannya meliputi pupuk urea sebanyak 63.213 ton, pupuk NPK sebesar 53.015 ton, dan pupuk organik sebanyak 13.948 ton.
Menurut Zaenal, meskipun jumlah usulan pupuk bersubsidi pada tahun ini mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, ketersediaan pupuk dinilai masih mencukupi kebutuhan petani di Bojonegoro. Hal ini mengacu pada pengalaman tahun-tahun sebelumnya, di mana masih terdapat sisa alokasi pupuk yang tidak terserap secara optimal.
Pihaknya pun mendorong kelompok tani (poktan) maupun petani secara individu untuk segera melakukan penebusan pupuk bersubsidi sesuai dengan alokasi yang telah ditetapkan. Dengan demikian, penggunaan pupuk dapat tepat waktu dan mendukung peningkatan produktivitas tanaman, khususnya padi.
“Kami berharap petani bisa segera melakukan penebusan pupuk agar penggunaannya tepat waktu dan hasil panen bisa maksimal,” imbuhnya.
Sementara itu, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Ngasem, Bojonegoro, Mukthi Riswanda, menyampaikan bahwa realisasi penyaluran pupuk bersubsidi di wilayahnya juga telah melampaui angka 25 persen. Hal ini menunjukkan distribusi pupuk mulai berjalan, meskipun belum merata di seluruh desa.
“Progres di Kecamatan Ngasem sudah di atas 25 persen, tetapi saya tidak bisa menyampaikan angka pastinya,” katanya.
Ia menambahkan, keterbatasan data detail tersebut disebabkan karena dirinya tidak tergabung dalam tim verifikasi dan validasi (verval) yang memiliki akses langsung terhadap data resmi penyaluran pupuk bersubsidi.
Meski demikian, Mukthi memastikan bahwa proses distribusi pupuk terus berlangsung dan diharapkan dapat memenuhi kebutuhan petani selama musim tanam pertama tahun ini.
“Kami optimis serapan pupuk akan meningkat seiring dengan masuknya fase tanam secara lebih luas di berbagai wilayah di Bojonegoro,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Lizza Arnofia Choirunisa
Editor: Darmadi Sasongko








