JAKARTA, Tugujatim.id – Rumah Batik TBIG memegang komitmen perusahaan secara berkelanjutan untuk pengembangan UMKM berbasis budaya. Terbaru, penyedia infrastruktur telekomunikasi ini menggaet desainer profesional untuk menciptakan kreasi batik yang lebih relevan bagi generasi muda.
Kolaborasi ini menjadi langkah strategis untuk menjawab tantangan perubahan selera pasar. Selain itu, TBIG juga memperkuat daya saing pembatik muda di industri fashion.
Karena itu, program CSR TBIG dalam pilar budaya menggandeng Indonesia Fashion Chamber (IFC) untuk berbagi ilmu yang dimiliki desainer fashion profesional di bidang rancang busana dan pemasaran.
Baca Juga: Majukan Pendidikan Vokasi, TBIG Transfer Ilmu ke Siswa SMK Fatahillah Cileungsi Bogor
Dalam pelaksanaannya, program CSR dari PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) ini menggandeng Indonesia Fashion Chamber sebagai mitra implementator. Peran mitra ini menghadirkan kurikulum, pengajar, serta pendekatan pelatihan yang relevan dengan kebutuhan industri.

Tentu saja, pelatihan pada 21–24 April 2026 ini akan berlangsung hingga Juni 2026 untuk mendorong para pembatik muda masuk ke dalam ekosistem industri kreatif, khususnya di bidang fashion, termasuk memahami strategi pemasaran.
Para pembatik muda binaan Rumah Batik TBIG yang menghasilkan batik berkualitas ini telah memiliki kompetensi dasar lewat program CSR. Namun, perkembangan situasi pasar dan pergeseran preferensi konsumen menghadirkan tantangan baru dalam mengembangkan usaha di industri batik.
Fokus Utama Jembatani Gap Kemampuan dan Kompetensi Membatik
Chief of Business Support TBIG Lie Si An mengatakan, pembatik muda memiliki tantangan pada kemampuan menciptakan desain hingga memahami struktur industri dan pasar dunia fashion.
“Tantangan pembatik muda kini tidak hanya pada kemampuan menciptakan desain. Mereka juga penting memahami struktur industri dan pasar dunia fashion,“ jelasnya pada Minggu (10/05/2026).
Dia menambahkan, kesiapan pembatik muda masuk ke industri ini yang mendorong hadirnya pelatihan lanjutan yang lebih terstruktur dan berbasis praktik.

Menurut dia, konsep program pelatihan ini untuk memperkuat aspek produksi, pengembangan desain, dan strategi pemasaran yang relevan dengan kondisi pasar.
Dia mengatakan, program ini kelanjutan dari program pelatihan sebelumnya dengan pendekatan yang lebih komprehensif agar peserta tidak hanya kuat secara konsep, tetapi juga siap mengembangkan produk yang memiliki nilai jual.
“Fokus utama program ini adalah menjembatani gap antara kemampuan membatik yang mumpuni dengan kompetensi yang dibutuhkan di industri busana,” tambah Lie Si An.
Sementara itu, Presiden Direktur TBIG Herman Setya Budi menambahkan, program ini juga diarahkan untuk memperkuat posisi batik di pasar generasi muda melalui pendekatan yang lebih relevan.
Baca Juga: Perluas Bantuan, TBIG Sasar 10.000 Korban Banjir Sumatra di 25 Titik Lokasi
“Keberlanjutan batik sebagai warisan budaya sangat bergantung pada kemampuannya beradaptasi dengan selera generasi muda. Selain menjaga kualitas, pelaku usaha penting untuk menghadirkan inovasi desain dan strategi pemasaran yang lebih dekat dengan karakter pasar saat ini,” ujarnya.
Dia menambahkan, sinergi antara pelaku industri dan komunitas kreatif menjadi kunci dalam memperluas jangkauan batik di pasar yang lebih luas.
“Melalui kolaborasi seperti ini, kami ingin mendorong batik tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang sebagai bagian dari gaya hidup generasi muda,” tutupnya. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Editor: Dwi Lindawati








