• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Malang

Narasumber, Renee Sari Wulan dan Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd., bersama anggota Dewan Kesenian Malang dan audiens saat sesi foto bersama (Foto: Azmi Azaria Fidaroini/ Tugu Jatim)

Gali Sejarah Teater Malang, DKM Kembali Gelar “SERAT” untuk Jembatani Kreatifitas Lintas Generasi

Mochamad Abdurrochim by Mochamad Abdurrochim
2 weeks ago
in Sastra & Budaya
0
Share on FacebookShare on Twitter

MALANG, Tugujatim.id – Dewan Kesenian Kota Malang (DKM) kembali menghadirkan ruang diskusi santai bagi para pegiat seni teater lewat agenda “SERAT” atau Srawung Teater Rabu Ketiga, Rabu malam (20/05/2026). Bertempat di Pendapa Hazim Amir, Gedung DKM Kota Malang, kegiatan kali ini mengangkat tema “Akar yang Menumbuhkan: Menelusuri Jejak Teater Melarat” untuk menggali sejarah perkembangan teater di Kota Malang.

Lewat forum yang dikemas hangat dan penuh obrolan lintas generasi itu, para pelaku teater, akademisi, hingga seniman senior berbagi cerita mengenai perjalanan Teater Melarat yang disebut menjadi salah satu akar lahirnya banyak kelompok teater di Malang.

You might also like

Busana Khas Malang

Kajian Sejarah Busana Khas Malang

11/04/2026 3:25 AM
DPRD Kota Malang Catat PR Krusial di HUT ke-112, Kemiskinan hingga Banjir Belum Tuntas

Klambi Indis dari Sudut Pandang Seni Kontemporer

10/04/2026 11:05 AM

Dewan Seniman Bidang Teater DKM, Wulan Aulia Febrianti mengatakan, SERAT sengaja dibuat sebagai ruang temu antar pegiat teater agar hubungan antarseniman semakin dekat. Menurutnya, komunikasi yang terbangun dari forum sederhana seperti ini bisa menjadi langkah awal menghidupkan kembali geliat teater di Malang.

“Kita memang berusaha menginisiasi supaya setiap pertemuan di Rabu ketiga itu bisa membangun chemistry antar pelaku seni teater. Minimal kita punya rasa kekeluargaan dulu,” ujarnya.

Pada SERAT edisi kali ini, DKM sengaja mengangkat Teater Melarat untuk menelusuri sejarah awal perkembangan teater di Malang. Mulai dari siapa tokoh-tokohnya, kapan berdiri, hingga bagaimana pengaruhnya terhadap kelompok teater lain di generasi berikutnya.

DKM menghadirkan sejumlah narasumber yang pernah terlibat langsung di Teater Melarat agar cerita dan sejarahnya tidak hilang begitu saja. Nantinya, hasil diskusi tersebut juga akan diarsipkan sebagai referensi bagi generasi muda.

“Insya Allah, untuk tahun ini kita mulai dari yang lama-lama dulu kita telusuri. Bulan ini Teater Melarat; bulan depan bisa jadi kita berencana teater yang lebih lama lagi. Kita berusaha untuk itu sementara ini. Walaupun keinginan besar kita sih sebenarnya, tapi kita mulai dari kecil dulu saja, diskusi kecil-kecilan, ketemu sama orang-orang,” jelasnya.

Namun, kegiatan SERAT ini sebenarnya baru diadakan pada periode kepengurusan DKM tahun 2026 ini. Kegiatan SERAT sebelumnya mengangkat tema peta teater Malang yang membahas mulai dari teater kampus hingga teater pelajar.

Banyak aspek teater Malang yang perlu dibahas dan ditelusuri, terutama mengenai sejarah perjalanan teater di Malang. Ia mengaku bahwa kegiatan ini seperti perjalanan panjang yang DKM perlu lanjutkan. Mengingat awal mula teater Malang sudah ada lama sejak dahulu dengan para narasumber yang terbatas.

“Karena ini seperti napas panjang juga. Karena harus menelusuri benar pelaku-pelakunya yang notabenenya sudah almarhum semua,” ungkapnya.

Seiring berjalannya kegiatan ini, DKM berencana untuk mengarsipkan dan membukukan informasi yang terkumpul. Dengan adanya arsip resmi ini, nantinya akan lebih memudahkan generasi muda untuk mengetahui seluk-beluk teater Malang yang harapannya dapat mereka gunakan untuk perkembangan teater Malang ke depannya.

“Hanya saja teman-teman yang lebih muda dari kita itu sering bertanya, ‘Mbak, itu dulu ana teater Melarat itu iya apa, Mbak?’ Wah, kita nggak bisa jawab, dong. Goal-nya, insya Allah, jika diperbolehkan, akan kami arsipkan dan kami bukukan, sehingga teman-teman yang lain yang bertanya tentang itu, kami bisa menyodorkan inilah resepnya,” terangnya.

Kegiatan SERAT kali ini juga terasa spesial karena bertepatan dengan Haul Hazim Amir, tokoh penting di balik lahirnya Teater Melarat. Acara diawali dengan pembacaan tahlil dan biografi Hazim Amir yang dibacakan langsung oleh putrinya, Renee Sari Wulan.

Setelah pembacaan biografi, acara dilanjutkan dengan sarasehan dari narasumber yang juga merupakan penggiat teater di Malang.

Narasumber pertama adalah Tengsoe Tjahjono yang merupakan anggota Teater Melarat. Ia menceritakan bagaimana Hazim Amir dengan Teater Melarat di awal perjalanannya.

Malang
Sesi sarasehan dengan narasumber pertama, Tengsoe Tjahjono (Foto: Azmi Azaria Fidaroini /Tugu Jatim)

 

Narasumber kedua, Prof. Dr. Djoko Saryono, guru besar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang juga turut menyampaikan pengalaman beliau dengan Teater Melarat.

Keduanya saling berbagi cerita dengan para audiens, sehingga acara terasa seperti pertemuan hangat antar generasi dengan cerita unik masing-masing.

Selain itu, ada juga beberapa aktor Teater Melarat yang hadir secara online turut menyumbangkan pengalaman mereka. Mereka menceritakan bagaimana kegiatan dan pelatihan di Teater Melarat dan bagaimana Pak Hamiz Amir membantu mereka mengembangkan kemampuan bermain peran mereka.

Jadi, dalam agenda kali ini, para audiens mendapatkan banyak pandangan mengenai teater di Malang di awal-awal perkembangannya.

Mbak Wulan, sapaan akrabnya, mengungkapkan, Teater Melarat ini menjadi salah satu akar teater di Malang. Hal ini karena dengan adanya Teater Melarat menumbuhkan pelaku teater-teater lainnya, antara lain Teater Selendrok dan Teater Seruduk.

“Sebenarnya gini, kalau dikatakan akar karena teater Melarat itu menumbuhkan pelaku-pelaku teater di luar kampus, ataupun di kampus. Jadi, setelah Teater Melarat pecah, dia membangun teater apa, membangun teater apa, akhirnya seperti spiderweb gitu loh, seperti itu,” lanjutnya.

Menurutnya, teater di Malang memiliki perkembangan yang pesat. Dengan adanya SERAT sebagai wadah komunikasi para penggiat teater dapat menjembatani teater bentuk lama dengan perkembangan teater baru.

Teater lama dapat menjadi referensi bagi penggiat teater baru sebagai bahan acuan dan teater lama dapat memberikan ide segar mereka ke ranah teater dengan mengikuti perkembangan zaman. Dengan seperti ini, kedua generasi dapat belajar satu sama lain tentang proses kreatif yang mereka lakukan untuk membangun sebuah teater.

“Oleh karena itu, SERAT ini muncul untuk menjembatani antara yang tua sama yang muda. Karena kalau kita sendiri menyamakan apa yang kita dapat dulu dengan yang sekarang, sudah tidak relevan,” tambahnya.

Dengan terus berjalannya kegiatan SERAT ini. ia berharap teater Malang dapat lebih hidup lagi, sehingga teater tidak hanya dinikmati oleh sebagian orang saja, tetapi semua orang bisa menikmati teater kedepannya.

“Harapan kami hanya satu Mbak, teater Malang itu bisa semakin jaya, semakin hidup. Nah, itulah usaha kami untuk menghidupkan kembali. Walaupun sudah hidup, hanya saja kan rohnya itu bertambah gitu, lho. Itu aja harapan kami,” harapnya.

Malang
Sesi makan bersama seluruh audiens bersama narasumber dan anggota DKM (Foto: Azmi Azaria Fidaroini/ Tugu Jatim)

Kegiatan ditutup dengan sesi potong tumpeng dan makan bersama. Dalam sesi ini, narasumber dan audiens menikmati waktu bersama sambil ngobrol santai dan membangun chemistry antar anggota teater.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id

Writer : Azmi Azaria Fidaroini

Editor: Mochamad Abdurrochim

Tags: Berita Kota Malang hari iniberita malangberita Malang hari iniDewan Kesenian Kota MalangKota MalangMalangSrawung Teater Rabu Ketiga
Mochamad Abdurrochim

Mochamad Abdurrochim

Related Stories

Busana Khas Malang

Kajian Sejarah Busana Khas Malang

by Darmadi Sasongko
11/04/2026 3:25 AM
0

Tugujatim.id - Kajian Sejarah Busana Khas Malang ditulis oleh Dwi Cahyono, Yayasan Inggil. Identitas sebuah daerah tidak hanya tercermin dari...

DPRD Kota Malang Catat PR Krusial di HUT ke-112, Kemiskinan hingga Banjir Belum Tuntas

Klambi Indis dari Sudut Pandang Seni Kontemporer

by Darmadi Sasongko
10/04/2026 11:05 AM
0

Tugujatim.id - Klambi Indis, dari sudut pandang Seni Kontemporer ditulis oleh Dimas Novib S, Pengurus Dewan Kesenian Malang. Tulisan ini...

Perjalanan Menuju Pertaubatan

Perjalanan Menuju Pertaubatan

by Dwi Linda
22/02/2026 11:43 AM
0

Oleh: Muhammad Mufid, Cerpenis Difabel di Malang Tugujatim.id - Malam sudah larut dan jalanan Kota Jakarta tampak lengang. Lampu-lampu jalan...

Brutus.

Kandang yang Retak: Cerita Brutus, Kuda, dan Sapi

by Dwi Linda
26/11/2025 10:52 AM
0

Penulis: Zulkarnain Mahmud, Kretekus Ansor (Pencinta Kretek/Kader Ansor) Tugujatim.id - Di sebuah negeri yang subur, berdiri sebuah peternakan tua bernama...

Next Post
BRImo

Rupiah Melemah, Tabungan Emas di BRImo Semakin Diburu Masyarakat

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID