MALANG, Tugujatim.id – Di tengah meningkatnya ancaman sampah plastik yang mencemari lingkungan, kabar menggembirakan datang dari dunia penelitian Indonesia. Tim RKI EQUITY (Riset Kolaborasi Indonesia Enhancing Quality Education for International University Impacts and Recognition) yang melibatkan Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Negeri Semarang (UNNES), dan Universitas Mulawarman (UNMUL) berhasil menemukan bakteri lokal yang berpotensi menjadi solusi ramah lingkungan untuk mengatasi limbah plastik.
Bakteri tersebut diisolasi dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Supit Urang, Kota Malang, dan terbukti mampu menguraikan plastik jenis Polyethylene Terephthalate (PET), material yang umum digunakan sebagai bahan botol minuman sekali pakai.
Baca Juga: LPPM UM Gelar Khitan Sehat, Libatkan Mahasiswa Kedokteran dan Bantu Puluhan Anak Yatim-Duafa
Temuan ini menjadi penting mengingat produksi plastik PET di dunia terus meningkat. Berdasarkan laporan Facts and Factor serta Market Research Report, produksi PET global melonjak dari sekitar 55 juta ton pada 2021 menjadi 82 juta metrik ton pada 2024. Kondisi ini memicu peningkatan volume sampah plastik yang sulit terurai secara alami dan berpotensi mencemari lingkungan dalam jangka panjang.
Kolaborasi 3 Kampus Ungkap Potensi Mikroba Lokal
Penelitian ini berawal dari keberhasilan Tim BIOKATALIS Program Studi Bioteknologi FMIPA Universitas Negeri Malang yang dipimpin Prof. Evi Susanti dalam mengisolasi sejumlah bakteri lokal pendegradasi plastik dari TPA Supit Urang.
Melalui pendanaan program RKI EQUITY, penelitian kemudian dikembangkan bersama Dr Triastuti Sulistyaningsih dari UNNES dan Prof Mukhamad Nurhadi dari UNMUL untuk menguji kemampuan bakteri tersebut dalam menguraikan plastik PET.


Hasil scanning Electron Microscopy (SEM) sampel PET sebelum dan sesudah proses penguraian oleh bakteri lokal secara in vitro dalam media tanah steril. (Foto: dokumen pribadi)
Kolaborasi ini tidak hanya memperkuat kapasitas riset nasional, tetapi juga membuka peluang lahirnya inovasi teknologi yang dapat membantu mengatasi persoalan sampah plastik di Indonesia.
Menurut tim peneliti, hasil penelitian ini sangat relevan untuk mendukung upaya mitigasi pencemaran plastik, terutama di wilayah pesisir yang menjadi lokasi akhir akumulasi sampah dari daratan.
Terbukti Mampu “Memakan” Plastik PET
Dalam penelitian tersebut, bakteri lokal dari TPA Supit Urang diuji dalam berbagai kondisi, mulai dari media yang mengandung glukosa, variasi tingkat keasaman (pH), hingga simulasi penguraian langsung di media tanah steril.
Hasilnya menunjukkan kemampuan yang menjanjikan. Bakteri mampu memanfaatkan plastik PET sebagai sumber energi untuk bertahan hidup sekaligus menguraikannya secara bertahap.
Peneliti menemukan adanya penurunan massa plastik yang signifikan setelah proses degradasi berlangsung. Selain itu, analisis menggunakan teknologi Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) menunjukkan perubahan struktur kimia pada plastik yang menjadi indikasi kuat terjadinya proses penguraian.
Bukti lain diperoleh melalui pengamatan menggunakan Scanning Electron Microscopy (SEM). Hasil pencitraan memperlihatkan permukaan plastik PET yang awalnya halus berubah menjadi retak, berlubang, dan mengalami kerusakan setelah terpapar aktivitas bakteri.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa bakteri lokal dari TPA Supit Urang tidak hanya mampu menguraikan plastik polipropilen (PP), tetapi juga plastik PET yang selama ini dikenal lebih sulit terdegradasi.
Berpotensi Kurangi Ancaman Mikroplastik
Jika berhasil dikembangkan dalam skala besar, pemanfaatan bakteri ini berpotensi menjadi solusi alami untuk mengurangi timbunan sampah plastik dan ancaman mikroplastik yang saat ini mencemari tanah, sungai, hingga lautan.
Mikroplastik diketahui dapat masuk ke rantai makanan, mengganggu kesehatan manusia, serta mengancam keberlangsungan berbagai ekosistem.
Karena itu, temuan ini dinilai mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, SDG 14 tentang Ekosistem Laut, dan SDG 15 tentang Ekosistem Daratan.
Tantangan Selanjutnya: Aplikasi di Dunia Nyata
Meski menunjukkan hasil yang menjanjikan di laboratorium, para peneliti menegaskan bahwa perjalanan riset masih panjang.
Tantangan terbesar berikutnya adalah mengaplikasikan bakteri tersebut dalam kondisi lingkungan yang sebenarnya. Berbeda dengan laboratorium yang steril dan terkontrol, bakteri harus mampu bertahan menghadapi perubahan cuaca, suhu ekstrem, serta kompetisi dengan mikroorganisme lain di alam.
Oleh karena itu, penelitian lanjutan akan difokuskan pada pengembangan formulasi dan teknologi aplikasi agar bakteri tetap aktif dan efektif menguraikan plastik saat diterapkan langsung di lingkungan terbuka maupun lokasi penumpukan sampah.
Dengan potensi yang dimiliki, bakteri lokal dari TPA Supit Urang diharapkan dapat menjadi salah satu inovasi bioteknologi Indonesia dalam menghadapi krisis sampah plastik yang terus meningkat dari tahun ke tahun. (adv)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Editor: Dwi Lindawati








