MALANG, Tugujatim.id – Hari pertama sekolah tatap muka 100 persen berhasil digelar di Kota Malang, meskipun begitu ada beberapa siswa yang lupa ruang kelasnya. Peristiwa ini terjadi di SMPN 20 Kota Malang.
Kelupaan ini bisa dibilang wajar, karena sudah lama para siswa menjalani sekolah daring di rumah dan tatap muka terbatas. Sementara itu, ruangan kelas dirombak sedemikian rupa untuk menunjang pembelajaran selama masa Pandemi Covid-19.
Salah satu siswa kelas IX SMPN 20 Kota Malang, Calya Faustina, mengatakan ada sejumlah siswa kelas VII yang lupa ruangan kelasnya. Dia mengaku kasihan kepada adik angkatannya yang lupa kelasnya tersebut.
“Kasihan juga tadi ada beberapa yang bahkan tidak tahu kelasnya. Karena sebelumnya itu kelasnya dipisah jadi dua. Jadi ada yang nggak tau kelasnya,” ucapnya, Senin (10/1/2022).
Meski begitu, dia mengaku senang dan bersyukur bisa kembali sekolah tatap muka bersama seluruh teman temannya. Dia juga mengaku sejauh ini sangat sedikit sekali bahkan belum pernah mengenal adik-adik kelasnya.
Pasalnya, Calya mengaku menjalani sekolah tatap muka 100 persen terakhir ketika masih duduk dibangku kelas VII atau sekitar dua tahun yang lalu.
“Saya terakhir sekolah tatap muka 100 persen di kelas VII, dua tahun yang lalu. Selama ini kami sekolah daring dan ke sekolah nggak full. Kalau sama teman sekelas masih tahu, tapi adik-adik yang kelas VII dan VIII belum pernah tau,” bebernya.
Melalui sekolah tatap muka 100 persen ini, Calya mengaku bisa lebih memahami materi pembelajaran yang disampaikan guru pengajar.
“Biasanya gurunya itu kadang ngajar di sini, kadang di sana (daring) itu jadi nggak seimbang. Kalau sekarang ini materi pembelajaran bisa tersampaikan semua,” jelasnya.
“Kalau daring itu kadang penguasaan materi masih bolong-bolong. Terus banyak yang nggak join daring, jadi nggak efektif,” imbuhnya.
Sementara itu, Liesdyah Iramita, Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SMPN 20 Kota Malang mengatakan bahwa memang penyampaian materi dalam pembelajaran tatap muka 100 persen lebih efektif dibandingkan pembelajaran daring maupun tatap muka terbatas.
“Karena kita bisa berinteraksi secara langsung ketika siswa hadir, kekurangannya apa. Kalau daring kami tidak bisa memantau satu per satu siswa kami,” paparnya.
Dia juga mengakui dengan sekolah daring, kedekatan guru dan siswa kurang optimal. Selain itu, siswa lebih lama dalam penguasaan materi yang disampaikan.
Dalam hari pertama dimulainya sekolah tatap muka 100 persen ini, dia mengatakan dari 874 siswa SMPN 20 Kota Malang hanya dua siswa yang tak masuk. Disebutkan, dua anak itu absen lantaran masih sakit.








