• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Ilustrasi mahasiwa masa kini.

Ilustrasi mahasiwa masa kini. (Foto: Pinterest)

Kualitas Mahasiswa Masa Kini Dipertanyakan, Ini 4 Kekurangannya

Herlianto A by Herlianto A
4 years ago
in Catatan
0
Share on FacebookShare on Twitter

Tugujatim.id – Mahasiswa dicitrakan sebagai pelajar istimewa. Pasalnya, mereka tak sekedar menimba ilmu, tetapi juga disebut-sebut pembawa perubahan (agent of social change). Dulu, mahasiswa dan sarjana menjadi gelar prestisius yang tak semua orang bisa meraihnya. Ditambah perkembangan zaman yang belum pesat menjadikan mereka tahan banting ditempa beragam persoalan.

Namun, kini mahasiswa dan sarjana tak lagi menjadi barang mewah. Mereka bertebaran di pelosok negeri seiring dengan pesatnya teknologi. Jumlah mahasiswa membengkak, lulusan sarjana membludak. Sayangnya lonjakan kuantitas mahasiswa dan sarjana, tidak dibarengi perkembangan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) yang mumpuni.

You might also like

Surya.

Membaca Eksistensi Estetis dan Spiritual dalam 50 Tahun Perjalanan Kasih Surya dan Sjenny (1976–2026)

20/07/2026 4:35 PM
Muktamar

Siapakah Kuda Hitam Muktamar NU ke-35 di Jombang?

14/07/2026 2:15 PM

Bahkan, peluang kerja terkesan jomplang, jika dibandingkan dengan angkatan kerja yang terus meningkat. Inilah sebabnya, sarjana banyak yang jadi pengangguran.

Selain itu, di zaman modern ini, mahasiswa yang didominasi generasi Z disebut-sebut memiliki banyak kekurangan. Tidak sedikit faktor-faktor yang melemahkan posisi tawar mahasiswa. Mulai dari faktor literasi, etika, dan rendahnya daya kritis mahasiswa.

1. Rendahnya Minat Baca

UNESCO melansir, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan. Menurut data yang dirilis, minat baca hanya 0,001%. Artinya dari 1.000 orang Indonesia, hanya 1 yang rajin membaca. Hal ini sangat mungkin terjadi pada mahasiswa.

Akibatnya, cakrawala pengetahuan dan wawasan mereka menjadi lebih sempit. Namun, tampaknya minat baca yang dimaksud ialah minat membaca buku dan artikel ilmiah. Sebab, jika melihat aktivitas di media sosial, mereka cukup aktif di dunia maya.

2. Rendahnya Minat Menulis dan Penelitian

Menulis ilmiah menjadi hal wajib bagi mahasiswa. Namun, di sana-sini masih banyak mahasiswa yang kurang berminat dalam dunia kepenulisan. Tidak usah jauh-jauh menelisik data, kita bisa melihat kanan-kiri kita atau bahkan diri kita sendiri.

Bagaimana sulitnya memulai menulis, apalagi menghasilkan tulisan ilmiah yang berkualitas. Pun tak jarang kita merasa kesulitan mengerjakan skripsi. Hal ini tak lain sebagai akibat rendahnya minat membaca.

3. Persoalan Etika

Etika selalu menjadi persoalan krusial, terlebih hidup di bangsa ketimuran. Ternyata, mahasiswa juga bisa terkikis oleh gempuran degradasi moral. Tidak usah jauh-jauh, di sekeliling kita, banyak pihak yang mulai mengeluhkan perihal etika mahasiswa.

Terlebih di era pembelajaran online, sering terdengar kasus komunikasi mahasiswa kepada dosennya yang tidak memperhatikan sopan santun. Tak hanya itu, kemudahan menimba ilmu dari berbagai sumber, menjadikan tenaga pendidik seakan tidak dihargai lagi. Tentu saja, ini bertentangan dengan tujuan pendidikan itu sendiri.

4. Menurunnya Daya Kritis terhadap Persoalan Sosial

Mahasiswa zaman dahulu telah mampu membuat gebrakan reformasi. Capaian ini menjadikan mahasiswa layak disebut agen perubahan. Namun, perlahan mahasiswa mulai kehilangan daya kritis dan kepekaannya dalam menyikapi persoalan sosial.

Bahkan, ada yang kurang memiliki kepekaan terhadap masalah yang terjadi di sekelilingnya. Padahal, kontribusi mereka sangat ditunggu untuk kemajuan bangsa.

Beberapa hal inilah yang sering melatarbelakangi ungkapan “mahasiswa sekarang berbeda dengan mahasiswa dahulu”. Jika tidak segera disadari, mahasiswa generasi Z akan semakin diasumsikan mengalami degradasi kualitas. Bahkan, mahasiswa bisa kehilangan eksistensi sebagai kaum terpelajar dan agen perubahan.

Namun, adanya kekurangan yang menjangkit mahasiswa ini jangan sampai menafikkan prestasi dan capaian keberhasilan yang telah diraih. Justru, kekurangan ini bisa menjadi catatan dan bahan refleksi. Mahasiswa harus menyadari kelemahannya dan bangkit memperbaiki diri.

Bahkan, catatan ini bisa menjadi cambuk motivasi. Ya, mahasiswa kekinian bisa dikatakan menghadapi tantangan yang lebih berat. Bagaimana tidak, di tengah arus modernisasi dan disrupsi, mahasiswa dituntut memiliki kreativitas dan inovasi.

Sementara di sisi lain, narasi-narasi yang menggaungkan penurunan kualitas mahasiswa semakin keras. Dua tantangan ini harus menjadi perhatian mahasiswa. Mereka harus meningkatkan kualitas dan kompetensi diri. Tidak hanya untuk mengembalikan eksistensinya sebagai pembawa perubahan dan pembawa estafet kepemimpinan masa depan, tetapi juga untuk membangkitkan kembali kualitas mahasiswa yang berdedikasi.

Tags: Agen PerubahanKekurangan Mahasiswamahasiswa
Herlianto A

Herlianto A

Related Stories

Surya.

Membaca Eksistensi Estetis dan Spiritual dalam 50 Tahun Perjalanan Kasih Surya dan Sjenny (1976–2026)

by Dwi Linda
20/07/2026 4:35 PM
0

Oleh: Narudin Pituin Tugujatim.id - Saya menguji dan meneliti buku berjudul 50 Tahun Perjalanan Kasih Surya dan Sjenny (1976–2026) melalui...

Muktamar

Siapakah Kuda Hitam Muktamar NU ke-35 di Jombang?

by Mochamad Abdurrochim
14/07/2026 2:15 PM
0

Oleh: Abdur Rahim** Tugujatim.id - Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, semakin dekat. Momentum krusial ini...

Muktamar.

Mengapa Tambakberas Menjadi Pilihan untuk Muktamar Ke-35 NU?

by Dwi Linda
08/07/2026 8:34 AM
0

Oleh: Abdur Rahim* Tugujatim.id - Setelah melalui proses seleksi panjang yang melibatkan sembilan pondok pesantren di lima provinsi, Pengurus Besar...

Muktamar

Muktamar dan Belajar dari Verifikasi Ahli Hadis

by Mochamad Abdurrochim
05/07/2026 10:21 AM
0

Oleh: Achmad Diny Hidayatullah Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang/Wakil Sekretaris PCNU kota Malang Ada satu kalimat yang sejak lama...

Next Post
Bantah Dokter Bersaudara Jadi Korban Mafia Tanah, Kapolresta Malang Kota: Itu Sengketa Harta Gono-Gini

Bantah Dokter Bersaudara Jadi Korban Mafia Tanah, Kapolresta Malang Kota: Itu Sengketa Harta Gono-Gini

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID