Tugujatim.id – Hari Perawat Nasional diperingati setiap tanggal 17 Maret setiap tahunnya. Peringatan ini untuk memberikan support dan apresiasi bagi para perawat di Indonesia yang sudah mendedikasikan tenaganya di dunia kesehatan.
Dewan Pengurus Komisariat (DPK) Persatuan Perawat NasionaI Indonesia (PPNI) Unitri Malang, Arie Jefry Ka’arayeno yang juga ikut merayakan memberikan tanggapannya soal pandemi Covid-19 yang akan berubah menjadi endemi.
“Pandemi sudah hampir dua tahun, kami berharap ke depannya statusnya bisa menjadi endemi. Tetapi tetap kami edukasikan melalui upaya yang sudah dilakukan. Kami menyampaikan kepada masyarakat apa saja yang perlu dipersiapkan guna mempercepat pengendalian Covid-19 ini sehingga bisa turun menjadi endemi,” ungkapnya.
Dalam perayaan Hari Perawat Nasional, Perawat se-Indonesia melaksanakan kegiatan seperti pengabdian kepada masyarakat.
“Salah bentuk ucapan syukur kami melakukan pengabdian kepada masyarakat. Di mana tugas kami adalah melalui medio merawat masyarakat salah satunya, sehingga pada perayaan ini para perawat melakukan kegiatan serentak di banyak titik di Malang dalam bentuk pengabdian masyarakat. Baik itu dari institusi pendidikan maupun dari layanan kesehatan Rumah Sakit dan Puskesmas,” ucap Jefry, sapaan akrab.
Jefry yang juga seorang spesialis keperawatan itu melanjutkan bahwa salah satu kegiatan yang dilakukan di Hari Perawat ini adalah memberikan edukasi bagi masyarakat tentang pentingnya kesehatan terlebih di massa pandemi saat ini.
“Seperti yang sedang dilakukan sekarang adalah melakukan pendidikan kesehatan atau edukasi kesehatan kepada masyarakat,” tambahnya.
Sejarah Hari Perawat Nasional
Dilansir dari detik.com, Hari Perawat Nasional bermula dari sebuah organisasi yaitu Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). PPNI sendiri dibentuk pada tanggal 17 Maret tahun 1974. Organisasi ini dibentuk agar para perawat Indonesia memiliki wadah sehingga mereka memiliki tujuan yang jelas dan tidak kehilangan arah.
Jika ditelisik ke belakang, PPNI sempat beberapa kali mengalami perubahan nama. Pada tahun 1921 organisasi ini diberi nama Perkumpulan Kaum Velpleger Boemibatera (PKVB).
Lalu bertepatan dengan lahirnya Sumpah Pemuda tahun 1928, terjadi pergantian nama dari PKVB menjadi PKVI (Perkumpulan Kaum Velpleger Indonesia). Akan tetapi nama ini hanya bertahan sampai tahun 1942.
Di zaman penjajahan Jepang, profesi perawat di Indonesia sempat mengalami kemunduruan. Hal ini karena saat itu pekerjaan perawat hanya dilakukan oleh orang-orang yang dianggap memiliki ilmu keperawatan.
Kemudian bersamaan dengan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, muncul tiga organisasi profesi keperawatan yaitu, Persatuan Djuru Kesehatan Indonesia (PDKI), Persatuan Djuru Rawat Islam (Penjurais), dan Serikat Buruh Kesehatan (SBK).
Di tahun 1951 terjadi pembaruan dalam profesi keperawatan. Nama PDKI digunakan sebagai konsolidasi organisasi profesi tanpa melibatkan SBK. Hal ini karena SBK terlibat dalam Partai Komunis Indonesia.
Tahun 1959 hingga 1974 terjadi pengelompokan organisasi keperawatan, kecuali SBK yang juga tergabung dalam organisasi profesi tingkat nasional yang diberi nama Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Hingga kini, nama PPNI terus dipakai dan diresmikan sebagai organisasi keperawatan Indonesia.
—
Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugujatim , Facebook Tugu Jatim ,
Youtube Tugu Jatim ID , dan Twitter @tugujatim







