BOJONEGORO, Tugujatim.id – Dalam mengurangi penumpukan sampah, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro terus melakukan inovasi dengan mengolah sampah menjadi gas metana. Selain itu, DLH Bojonegoro juga mengubah gas metana menjadi energi listrik, sampah plastik menjadi bahan bakar solar, dan sampah daun menjadi pupuk kompos.

Menurut Kepala DLH Kabupaten Bojonegoro Hanafi, di Bojonegoro dalam sehari menghasilkan 35,03 ton/hari sampah. Jadi, inovasi-inovasi pengolahan sampah sangat dibutuhkan untuk mengurangi limbah.
1. Sampah Diolah Jadi Gas Metana
Inovasi DLH Bojonegoro yang pertama yaitu sampah menjadi gas metana sebagai alternatif pengganti LPG. Sebanyak 44 KK di Bojonegoro telah memanfaatkan penggunaan gas metana. Penggunaan gas metana sebagai bahan baku memasak ini menggunakan kompor khusus yang telah dimodifikasi.
Gas metana ini juga dimanfaatkan sebagai energi listrik. Hanafi menjelaskan, energi listrik yang semula menghasilkan 1.500 Watt, kini mampu menghasilkan 5.000 Watt yang digunakan untuk menerangi lingkungan wilayah sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Banjarsari, khususnya gedung perkantoran.
2. Pengolahan Limbah Plastik Menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM) Solar
BBM solar juga digunakan sebagai bahan bakar incenerator, alat yang digunakan untuk membakar limbah padat dan dioperasikan dengan memanfaatkan teknologi pembakaran pada suhu tertentu.
Dalam pengolahan limbah plastik menjadi BBM solar ini, DLH Bojonegoro menggunakan reaktor pirolisis, yaitu alat yang gunakan untuk mencairkan limbah plastik seperti botol dan kantong plastik.
“Dengan syarat limbah plastik dalam kondisi kering. Pencairan memakan waktu kurang lebih 6 jam di suhu 180 derajat. Sementara jika kondisi plastik kering maksimal, 4 jam sudah bisa cair,” ujar Hanafi.
3. Inovasikan Sampah Jadi Pupuk Kompos
Selanjutnya, pengolahan sampah dedaunan menjadi pupuk Kombo (Kompos Bojonegoro). Produksi pupuk kombo awalnya 100 kg/minggu, saat ini menjadi 600 kg/minggu. Untuk pembuatan pupuk kompos memanfaatkan lahan TPS 3R (Reuse, Reduce, Recycle) Kelurahan Banjarejo, Kecamatan Kota.
Pupuk ini digunakan untuk memupuk seluruh taman ruang terbuka hijau (RTH) di Kabupaten Bojonegoro dan kebutuhan pembibitan. Kompos ini pun dimanfaatkan sebagai pupuk di pusat pembibitan di Desa Sukowati, Kecamatan Kapas.
Dari berbagai inovasi tadi, TPA Banjarsari menjadi destinasi edukasi tema lingkungan bagi pelajar mulai dari tingkat SD, SMP, hingga SMA.

Tak hanya inovasi pengolahan sampah, saat ini telah ada 168 bank sampah se-Kabupaten Bojonegoro. Kegiatan ini merupakan bentuk pencanangan Satu Desa Satu Bank Sampah (SDSB) di 2016.
Selain itu, juga terbentuknya paguyuban pengepul sampah berkah dan pemulung oleh DLH Kabupaten Bojonegoro. Paguyuban ini berdampak pada peningkatan pendapatan dan pengepul dan pemulung di Kabupaten Bojonegoro.
Inovasi kreatif dan bermanfaat bagi lingkungan mendukung Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bojonegoro menuju Zona Integritas (ZI) Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) di 2022.
“Di 2016, DLH juga mendapatkan penghargaan 35 besar sinovic dengan ide-ide inovasi kreatif tadi,” ujar Hanafi.
—
Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugujatim , Facebook Tugu Jatim ,
Youtube Tugu Jatim ID , dan Twitter @tugujatim







