PASURUAN, Tugujatim.id – Sudah seminggu, seorang mahasiswa asal Pasuruan dinyatakan diduga hilang di Bukit Krapyak, Desa Padusan, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Raffi Dimas Baddar, 20, warga asal Desa Pekoren, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan, ini dilaporkan hilang sejak Minggu pagi (11/09/2022).
Memasuki hari ketujuh, tim SAR gabungan masih belum menemukan tanda-tanda keberadaan mahasiswa tersebut. Berdasarkan informasi, hingga Jumat (10/09/2022), petugas tim Basarnas Surabaya bersama Polsek Pacet, Polhut Tahura Pacet, BKPH Pacet, serta relawan telah memperluas area penyisiran.
Tim SAR gabungan sudah menyisir mulai dari area Pusung Bokor, Gunung Pundak, hingga Puncak Puyang. Namun, pencarian masih belum membuahkan hasil.
Toyimah, bibi korban, mengungkapkan, keluarga mengaku sangat terpukul dengan hilangnya Raffi Dimas Baddar. Belum lagi, pihak SAR mengatakan hari ini adalah hari terakhir pencarian.
“Keluarga semua bingung, pakde, budhe, ponakan semua gantian melihat ke Mojokerto. Kalau bapak dan ibu Dimas ini sudah semingguan gak pulang ke Pasuruan, ikut mencari di Mojokerto,” ujar Toyimah saat ditemui pada Sabtu (17/09/2022).
Menurut Toyimah, pihak keluarga awalnya dipamiti Raffi Dimas Baddar untuk pergi ikut kegiatan ekstrakurikuler bersama 11 temannya di Bukit Krapyak, Desa Padusan, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, sejak Sabtu (10/09/2022).
Pihak keluarga kemudian dikagetkan saat ditelepon oleh salah satu teman korban pada Senin (17/09/2022) yang mengabarkan jika Dimas, 20, telah hilang. Dimas terakhir kali dilihat oleh teman-temannya saat pagi hari seusai salat Subuh pada Minggu (11/09/2022).
Mahasiswa asal Pasuruan di salah satu perguruan tinggi swasta di Surabaya ini sempat dipanggil-panggil oleh rekannya, tapi tidak menghiraukan dan berjalan terpisah dengan rombongan.
“Dia pamit itu bekalnya cuma dikit, cuma bawa mie dua sama air mineral satu. Keluarga jadi kepikiran gimana dia makannya seminggu ini,” ungkapnya.
Pihak keluarga juga telah melakukan segala upaya untuk mencari keberadaan mahasiswa asal Pasuruan ini. Mulai dari meminta doa kepada sesepuh desa hingga menuruti persyaratan pemberian sesajian oleh salah satu orang pintar.
“Keluarga sampai beli syarat ayam khusus harganya Rp600 ribu ke orang, katanya Dimas disembunyikan di dekat pohon di pinggir sungai, tinggal nyari pintu keluarnya,” ujarnya.








