Adol Dawet dalam Pernikahan Adat Jawa, Artinya Apa ya...?

Adol Dawet dalam Pernikahan Adat Jawa, Artinya Apa ya…?

  • Bagikan
Ilustrasi adol dawet/https://youtu.be/5bfppI04ces
Ilustrasi adol dawet/https://youtu.be/5bfppI04ces

Tugujatim.id – Cendol dawet, seger…! Ya, minuman yang satu ini barangkali sudah tidak asing lagi di telinga Anda bukan? Selain judul lagu “Cendol Dawet” sering dinyanyikan oleh para penyanyi dan viral karena lagunya yang enak. Tapi, minuman cendol dan dawet ini memiliki perbedaan ya gaes…

Perbedaannya kalau cendol terbuat dari tepung hunkwe, sedangkan dawet terbuat dari tepung beras atau ketan. Meski berbeda, tapi yang penting sama-sama swegernya. Hehehe…

Nah, kali ini Tugu Jatim akan membahas minuman dawet. Ternyata minuman ini termasuk salah satu minuman yang penting saat menggelar acara pernikahan, terutama pernikahan adat Jawa.

Ya, barangkali dawet adalah salah satu minuman yang menjadi favorit bagi sebagian orang. Minuman bersantan yang dicampur dengan gula Jawa dan cendol itu selain enak dan menyegarkan, ternyata minuman satu ini memiliki filosofi yang unik lho…!

Nama cendol berasal dari jendol yang artinya gumpalan. Ini dapat merepresentasikan sensasi saat menyantap isian dawet yang bergumpal-gumpal. Sedangkan pada minuman dawet ayu, ada lambang Semar dan Gareng yang memiliki makna harapan agar dagangannya laris manis.

Uniknya lagi, pada pernikahan adat Jawa, dawet juga termasuk sebagai rangkaian upacara pernikahan yang dikenal dengan dodol dawet atau dalam bahasa Indonesia berarti berjualan dawet.
Alasannya, bentuk dawet yang bulat dilambangkan sebagai kebulatan orang tua untuk menjodohkan anaknya.

Ilustrasi adol dawet dalam pernikahan adat Jawa/Pexels
Ilustrasi adol dawet dalam pernikahan adat Jawa/Pexels

Adol dawet dimaksudkan sebagai simbol harapan dan doa agar pernikahan yang akan digelar esok hari dikunjungi banyak tamu, layaknya dawet yang terjual laris manis.
Untuk penyajian kepada tamu undangan, mereka wajib membeli dawet tersebut, tapi tidak memakai uang lho! Tapi, memakai “kreweng” atau koin yang terbuat dari tanah liat. Hal ini menandakan hidup manusia yang berasal dari bumi.

Nah, di sini yang berperan sebagai penjual adalah ibu mertua, sementara sang ayah menerima uang dari pembeli. Hal ini mengajarkan kepada pasangan yang menikah tentang bagaimana mencari nafkah sebagai suami istri, yaitu harus saling membantu satu sama lain.

Makna Dawet

Cendol, air santan, dan gula merah yang dicampur ke dalam segelas dawet dimaknai sebagai beragamnya tamu yang datang. Meskipun begitu, keberagaman tersebut membentuk satu rasa, yaitu manis sebagai perwujudan doa untuk kemanisan hidup dalam pernikahan.

Bercampurnya air santan yang berwarna putih dengan air gula merah diartikan sebagai bercampurnya perempuan dan laki-laki sebagai istri dan suami dalam kehidupan pernikahan.

Adol dawet ini biasanya dilakukan di halaman rumah pengantin dengan mengundang keluarga dan tetangga sekitar. Bagi calon mempelai perempuan, adol dawet adalah bentuk cinta orang tua terhadap anaknya. Tanpa perlu mengatakannya, orang tua menunjukkan bagaimana rumah tangga itu seharusnya berjalan serta persiapan apa saja yang harus dilakukan. (Mila Arinda/ln)

  • Bagikan