Air Mata Jatuh di Pangkuan saat Membaca Perjuangan Hidup Pak Santoso

  • Bagikan
Penulis, Ita Lizamia. (Foto: Dokumen/Tugu Jatim)
Penulis, Ita Lizamia. (Foto: Dokumen)

Tugujatim.id – Belum lagi selesai membaca tulisan Pak Santoso berjudul “Setetes Air Mata Jatuh di Pangkuan” yang dimuat di cowasjp.com, ternyata air mata saya pun jatuh di pangkuan. Duhh… Saya ikut larut merasakan bagaimana “The Struggle of life”-nya Pak Santoso.

Di usianya yang beranjak tua, seharusnya beliau menikmati masa tuanya yang indah dengan didampingi istri tercinta, anak-anak, dan cucu-cucunya. Mengisi waktu bersama, bercengkerama, dan beribadah lebih khusyuk lagi.

Ita Lizamia berlibur bersama keluarganya. (Foto: Dokumen/Tugu Jatim)
Ita Lizamia berlibur bersama keluarganya. (Foto: Dokumen)

Namun, kenyataan berkata lain. Pak Santoso tetap harus bekerja keras memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Juga berjuang secara optimal dari sakit stroke yang dideritanya sejak sekitar dua tahun lalu.

Saya sangat paham bagaimana orang yang sudah pernah kena stroke. Kondisi fisik dan psikisnya pasti sangat berpengaruh dan terganggu.

Saya tahu persis tentang itu karena bapaknya anak-anak Bapak Garjito Utomo sudah sekira empat tahun ini terkena stroke juga. Meski telah sembuh, tapi kondisinya tidak bisa pulih 100%.

Saya memang tidak kenal akrab dengan Pak Santoso. Tapi, melihat kiprah dan perjuangannya membuat saya sangat salut sekaligus terharu. Sosoknya yang rentah tidak menjadikan halangan untuk terus berkarya dan berdoa.

Doa Pak Bondet, sapaan akrab Pak Santoso, yang tiada putus-putusnya akhirnya dikabulkan Tuhan. Dia sekeluarga mulai merasakannya.

Berbagi Tugas Urus Suami yang Stroke

Saya sangat terharu melihat perjuangan Pak Bondet yang gigih hingga sembuh dari stroke. Dia tidak mau bergantung ke orang lain juga ke anak-anaknya. Padahal, biayanya cukup besar untuk menangani orang yang kena stroke dan juga pasca stroke.

Kebesaran Allah SWT dalam menolong hamba-Nya sungguh sangat luar biasa. Kami sekira empat tahun terakhir ini merasakan itu. Bapaknya anak-anak saya yang kena stroke bergantung sepenuhnya kepada kami. Untuk itu, kami pun berbagi tugas.

Si sulung Gardita Maulida yang biasa dipanggil Dita 100% penyokong finansial keluarga kami. Sedangkan si bungsu Gardito Lukman yang akrab dipanggil Dito dibantu seorang perawat mengurus segala keperluan Bapak Garjito, termasuk membantu ke toilet dan memakaikan pampers.

Sementara saya, mengurusi asupan nutrisinya alias tukang masak keluarga. Sambil berjualan apa saja yang halal untuk menambah uang belanja.

Seperti yang sering Pak Aqua sampaikan kepada saya. Jangan lupa untuk selalu bersyukur kepada Tuhan dalam keadaan apa pun, baik susah maupun senang. Itulah yang membuat langkah saya ini menjadi ringan menjalani semuanya.

Ringan Tangan dan Ikhlas

Di zaman yang serba susah ini karena pandemi Covid-19 yang berkepanjangan, ternyata masih ada orang yang memiliki kepedulian besar dan punya empati yang sangat tinggi kepada sesama. Salah seorang di antaranya adalah Bapak Aqua Dwipayana yang selama ini dikenal sebagai Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional.

Pak Aqua ini dulu semasa masih bekerja sebagai wartawan di harian Jawa Pos pada 1990 adalah “anak buah” Pak Bondet. Kini beliau itulah yang membantu mengulurkan tangannya untuk membayarkan biaya kontrak rumah yang ditinggali Pak Bondet bersama istri tercinta Herry Siswati serta kedua cucunya Davi Pratama Putra dan Febrian Dwi Arif Ardiyanto di Madiun, Jawa Timur.

Ita Lizamia berlibur ke Bali bersama rombongan umroh The Power of Silaturahim III yang dipimpin Nurcholis MA Basyari. (Foto: Dokumen/Tugu Jatim)
Ita Lizamia berlibur ke Bali bersama rombongan umroh The Power of Silaturahim III yang dipimpin Nurcholis MA Basyari. (Foto: Dokumen)

Padahal, mereka berdua tidak bersua sekira 31 tahun. Kalau bukan karena Tuhan yang mempertemukannya, dan kekuatan silaturahim tiada henti tanpa pamrih dari Pak Aqua, agaknya pertemuan yang bermakna itu tidak akan pernah terjadi. Rasa kangen yang menyelimuti keduanya sudah pasti menjadi obrolan yang sangat indah penuh memori.

Masya Allah… Alhamdulillah untuk satu tahun ke depan Pak Bondet tidak perlu lagi terlalu ngoyo mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk membayar kontrakan rumahnya. Tidak harus memforsir tenaga dan pikirannya buat menulis buku untuk keperluan tersebut.

Setiap orang yang kenal Pak Aqua pasti sudah tahu kalau beliau adalah orang yang ringan tangan dan penuh keikhlasan dalam menolong sesama. Saya sangat bersyukur, senang, sekaligus terharu Pak Bondet sudah dibantu Pak Aqua.

Semoga Pak Bondet sekeluarga diberikan kekuatan untuk menjalani kehidupannya dengan kesabaran yang tinggi. Sekaligus menjadi motivator bagi orang-orang yang kena stroke. Aamiin ya robbal aalamiin…

Mudah-mudahan Pak Aqua bersama keluarga tercinta di Bogor, Jawa Barat, konsisten dengan penuh keikhlasan menebar kebaikan setiap saat di mana pun dan kapan pun pada siapa saja. Sehingga menjadi teladan bagi saya dan banyak orang lainnya. Aamiin…

Saya selalu berdoa untuk keduanya bersama keluarga masing-masing agar mereka selalu sehat, bahagia, dan mendapatkan yang terbaik dari Tuhan.

Penulis adalah wartawati senior yang tinggal di Surabaya, Jawa Timur.

  • Bagikan