Akademisi UIN Banda Aceh: Plagiasi Itu Tindak Kejahatan dan Tindak Kriminal

Akademisi UIN Banda Aceh: Plagiasi Itu Tindak Kejahatan dan Tindak Kriminal

  • Bagikan
Muazzinah Yacob BSc MPA, dosen FISIP UIN Ar-Raniry Banda Aceh. (Foto: Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA)/Tugu Jatim)
Muazzinah Yacob BSc MPA, dosen FISIP UIN Ar-Raniry Banda Aceh. (Foto: Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA)/Tugu Jatim)

SURABAYA, Tugujatim.id – Menanggapi kasus yang terjadi pada Rektor Unnes mengenai kasus plagiasi, akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh Muazzinah Yacob BSc MPA menyampaikan bahwa ada beberapa kasus yang terjadi dalam kampus di Indonesia baru-baru ini mempunyai aktivitas negosiasi kekuasaan dan makelar jabatan.

Kampus di Indonesia ini memang dikelola untuk negosiasi kekuasaan (menurut kasus-kasus yang dipahami oleh Muazzinah, red), karena terjadi makelar jabatan baru-baru ini. Kasus Unnes ini adalah preseden buruk di dunia akademik,” terang Muazzinah Jumat (12/02/2021), pukul 17.00 WIB.

Selain itu, ketika membahas soal plagiasi merupakan tindak kejahatan dan tindak kriminal. Muazzinah juga menyampaikan bahwa proses menjadi rektor merupakan salah satu motif yang membuat beberapa akademisi rela melakukan plagiasi.

“Ketika bilang plagiasi itu tindak kejahatan dan tindak kriminal, tapi mungkin karena ingin menjadi rektor atau kalaupun ada kesalahan tetap harus cari alasan. Karena memang proses pemilihan rektor kalau di bawah Kemenag (Kementerian Agama, red) saja prerogatifnya full di menteri,” imbuhnya.

Dalam penjelasannya, Muazzinah melihat bahwa ada semacam tarik-menarik kekuasaan yang ada di kampus. Jadi, kadang juga memunculkan rasa dilema ketika salah satu orang terpilih jadi rektor, sedangkan kandidat rektor lainnya yang tidak terpilih berupaya membongkar berbagai kekurangan rektor terpilih.

“Tidak menutup kemungkinan tarik-menarik kekuasaan terjadi di situ. Kondisi dilema kampus hari ini adalah ketika yang terpilih misal jadi rektor, maka akan dicari salahnya oleh yang tidak terpilih. Menjadi masukan buat kita bahwa kita hadir di Unnes ini menjadi catatan awal saja. Jangan sampai kita hadir karena tim yang cari kesalahan saja,” ucapnya.

Perang kekuasaan semacam terjadi di dalam “miniatur negara” bernama kampus. Berbagai kebijakan, Muazzinah menjelaskan, dapat memberi ruang dan peluang dalam melakukan plagiasi. Muazzinah juga menegaskan bahwa plagiasi merupakan tindakan yang jahat.

“Karena perang untuk berkuasa di kampus memang terjadi di masa sekarang ini. Mungkin karena kebijakannya diberi peluang untuk melakukan hal yang buruk, termasuk salah satunya plagiasi. Kita semua sepakat bahwa plagiarisme itu adalah sesuatu yang jahat,” ujarnya. (Rangga Aji/ln)

 

  • Bagikan