Alami Obesitas? Pakar Sains Ungkap Faktor Penyebab Utamanya - Tugujatim.id

Alami Obesitas? Pakar Sains Ungkap Faktor Penyebab Utamanya

  • Bagikan
Ilustrasi menurunkan berat badan atau obesitas. (Foto: Pexels/Tugu Jatim)
Ilustrasi menurunkan berat badan atau obesitas. (Foto: Pexels)

Tugujatim.id – Apakah Anda mengalami gangguan kesehatan, terutama soal obesitas? Tentunya obesitas membuat Anda kurang merasa nyaman ya. Lalu apakah sebenarnya faktor penyebab utama obesitas itu? Apakah Anda perlu melakukan perubahan gaya hidup seperti mengubah pola makan hingga melakukan olahraga rutin? Simak ulasan dari pakar sains berikut ini.

Menurut Cardiografia, sekitar 500 juta orang dewasa di dunia mengalami obesitas. Sebuah pendapat dalam Journal of Clinical Nutrition mengatakan, akar epidemi obsesitas lebih berkaitan dengan apa yang dimakan, bukan berapa banyak yang dimakan.

Sementara itu, Statistik dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menunjukkan bahwa obesitas memengaruhi lebih dari 40% orang dewasa Amerika, menempatkan mereka pada risiko lebih tinggi untuk penyakit jantung, stroke, diabetes tipe 2, dan jenis kanker tertentu. Bahkan, pedoman diet orang Amerika pada 2020–2025 lebih memberi tahu bahwa menurunkan berat badan “mengharuskan orang dewasa mengurangi jumlah kalori yang mereka dapatkan dari makanan dan minuman serta meningkatkan jumlah yang dikeluarkan melalui aktivitas fisik”.

Untuk pendekatan manajemen berat badan ini didasarkan pada model keseimbangan energi berusia seabad yang menyatakan bahwa penambahan berat badan disebabkan oleh konsumsi lebih banyak energi daripada yang dikeluarkan. Banyaknya makanan olahan yang dipasarkan secara luas dengan harga terjangkau, membuat banyak orang lebih memilih makanan dengan banyak kalori daripada yang kaya akan vitamin. Apalagi, banyaknya makan dengan sedikit olahraga dan bergerak semakin membuat pola hidup tak seimbang. Hal itu menaikkan persentase obesitas.

Sementara itu, penulis “Model Karbohidrat-Insulin: Perspektif Fisiologis pada Pandemi Obesitas,” sebuah perspektif yang diterbitkan dalam The American Journal of Clinical Nutrition, menunjukkan kelemahan mendasar dalam model keseimbangan energi dengan alasan bahwa model alternatif, karbohidrat-insulin model, lebih baik menjelaskan obesitas dan penambahan berat badan.

Selain itu, model karbohidrat-insulin menunjukkan jalan menuju strategi pengelolaan berat badan yang lebih efektif dan tahan lama. Menurut penulis utama Dr David Ludwig, ahli Endokrinologi di Rumah Sakit Anak Boston dan Profesor di Harvard Medical School, model keseimbangan energi tidak membantu memahami penyebab biologis. Jadi ” apakah makan berlebihan membuat mereka mengalami percepatan pertumbuhan atau percepatan tumbuhan yang menyebabkan makan berlebih”.

Berbeda dengan model keseimbangan energi, model karbohidrat-insulin membuat klaim: makan berlebihan bukanlah penyebab utama obesitas. Sebaliknya, model karbohidrat-insulin banyak menyalahkan epidemi obesitas saat ini pada pola diet modern yang ditandai dengan konsumsi berlebihan makanan dengan beban glikemik tinggi: khususnya, karbohidrat olahan yang cepat dicerna. Makanan ini mengakibatkan respons hormonal yang secara mendasar mengubah metabolisme kita, mendorong penyimpanan lemak, penambahan berat badan, dan obesitas.

Adopsi model karbohidrat-insulin atas model keseimbangan energi memiliki implikasi radikal untuk manajemen berat badan dan pengobatan obesitas. Daripada mendesak orang untuk makan lebih sedikit, sebuah strategi yang biasanya tidak berhasil dalam jangka panjang, model karbohidrat-insulin menyarankan jalan lain yang lebih berfokus pada apa yang kita makan.

 

  • Bagikan