Angka Obesitas Remaja Usia 18 Tahun di Tuban Meningkat 21,8 Persen selama Pandemi Covid - Tugujatim.id

Angka Obesitas Remaja Usia 18 Tahun di Tuban Meningkat 21,8 Persen selama Pandemi Covid

  • Bagikan
Obesitas. (Foto: Diskominfo Tuban/Tugu Jatim)
Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan KB memperingati Hari Gizi Nasional ke-26 di Aula Dinas Kesehatan, Jalan Brawijaya Nomor 3 Tuban, Selasa (25/01/2022). (Foto: Diskominfo Tuban)

TUBAN, Tugujatim.id – Di masa pandemi Covid-19, banyak aktivitas yang mengharuskan masyarakat untuk berada di rumah saja, termasuk terkait pembelajaran serta waktu bermain bagi anak-anak. Apalagi ditambah kemudahan teknologi serta adanya sekolah daring dan sistem work from home (WFH), membuat masyarakat di Tuban kurang bergerak dan mengakibatkan terjadinya obesitas.

Permasalahan obesitas tersebut disampaikan Ketua Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Menik Musyahadah saat memperingati Hari Gizi Nasional ke-26 di Aula Dinas Kesehatan, Jalan Brawijaya Nomor 3 Tuban, Selasa (25/01/2022).

Menik mengatakan, angka penderita obesitas di Kabupaten Tuban meningkat di masa pandemi. Untuk balita 3,8% dan untuk usia 18 tahun ke atas ada di angka 21,8%.

“Ingin makan, masyarakat tinggal pesan secara online, jajan apa pun terutama Korean food saat ini juga digandrungi, dan makanan kaya natrium lainnya. Itu semua memicu obesitas dan penyakit degenerative,” jelas Menik.

Untuk itu, ahli gizi di rumah sakit hingga puskesmas bertugas untuk memberikan konseling kepada masyarakat.

“Pelaksana gizi dan tenaga nutrisionis bertugas untuk memberikan konseling kepada mereka bagaimana menentukan makanan yang sehat dan bernutrisi,” ujarnya.

Selain masalah obesitas, Menik juga menyampaikan tengah melakukan aksi bersama cegah stunting dan obesitas. Menurut dia, kasus stunting di Tuban masih sangat tinggi.

“Masih tinggi karena di atas rata-rata provinsi dan nasional. Dan ini memacu kita agar semua anggota bekerja maksimal,” tuturnya.

Apalagi saat ini stunting juga menjadi program prioritas dari bupati Tuban sehingga diharapkan sinkronisasi program dapat terjalin dengan Pemkab Tuban untuk mengatasi stunting.

“Sangat baik, hal tersebut akan lebih memaksimalkan program intervensi yang dilakukan untuk pencegahan stunting di Kabupaten Tuban,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinkes Pengendalian Penduduk dan KB Bambang Priyo Utomo mengungkapkan, tema tahun ini adalah Aksi Bersama Cegah Stunting dan Obesitas, Gizi Seimbang Keluarga Sehat, Negara Kuat. Tema besar Hari Gizi ke- 26 yang berfokus pada penanganan kasus stunting serta obesitas sangat sinkron dengan program Pemkab Tuban.

“Bagai gayung bersambut, stunting selain menjadi fokus kesehatan nasional, juga menjadi fokus program bupati Tuban saat ini,” ungkapnya.

Untuk saat ini angka stunting di Kabupaten Tuban masih cukup tinggi dari Hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) yaitu 25,1 %. Angka ini di atas rata-rata provinsi, yaitu 23 % dan nasional di angka 24, 4 %. Untuk itu, Bambang menegaskan penanganan stunting tidak bisa dilakukan oleh Dinkes P2KB saja, tapi lintas sektoral.

“Selain bekerja sesuai SOP yang ada, kami akan gandeng OPD terkait seperti dinas pendidikan, dinas ketahanan pangan, pertanian dan perikanan, serta OPD terkait lainnya,” ucap Bambang.

Dia menambahkan, stunting juga menjadi salah satu indikator kemiskinan. Untuk itu, penanganan stunting menjadi urgensi yang harus segera diselesaikan. Memutus mata rantai stunting dengan cara memperhatikan gizi ibu hamil hingga pada 1.000 hari pertama kelahiran (HPK). Seluruh petugas gizi memiliki kewajiban untuk mengedukasi masyarakat.

“Kami punya 72 ahli gizi yang tersebar di semua rumah sakit dan 33 puskesmas. Mereka bertugas untuk memberikan edukasi kepada ibu, calon ibu, sampai remaja,” jelasnya.

Masih menurut Bambang, edukasi akan mencegah timbulnya kasus stunting baru.

“Jadi jangan ada stunting-stunting lain yang lahir dari keturunan kita. Dan kita putus melalui pemahaman tentang pentingnya pemenuhan gizi saat hamil hingga 1.000 HKP,” ujarnya.

  • Bagikan