• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Penerjemah bahasa isyarat di Jember.

Penerjemah bahasa isyarat di Jember, Anis Yulia Rachman, menembus keheningan menuju dunia tanpa suara. (Foto: Dok. Anisa Yulia for Tugujatim.id)

Anis Yulia, Sosok Penerjemah Bahasa Isyarat di Jember Dedikasikan Diri Penuh Empati

Dwi Linda by Dwi Linda
1 year ago
in Featured
0
Share on FacebookShare on Twitter

JEMBER, Tugujatim.id – Tangannya bergerak lembut namun penuh makna, menerjemahkan setiap kata menjadi bentuk visual yang hidup. Anis Yulia Rachman, sosok penerjemah bahasa isyarat di Jember, memilih menyelami dunia senyap untuk membangun jembatan komunikasi.

Di balik setiap gerakan, tersimpan cerita panjang tentang dedikasi Anis Yulia, perempuan berusia 29 tahun itu, dalam menekuni bahasa isyarat selama 10 tahunan. Tidak sendirian, dia bersama berbagai komunitas penyandang tunarungu terus belajar bahasa tanpa suara ini.

You might also like

Teras Semeru.

Mengenal Muhammad Syafi’i, Santri Sukses Berdayakan Warga Kampung berkat Rumah Makan Teras Semeru Lumajang yang Viral

06/07/2026 5:13 PM
Blitar

Kisah Anak Buruh Setrika di Kota Blitar Menjemput Asa Lewat Sekolah Rakyat

26/06/2026 10:54 PM

Perempuan kelahiran Pulau Sapudi itu kini mengajar di Sekolah Luar Biasa Negeri Branjangan sambil terus memperdalam keterlibatannya dalam dunia disabilitas.

Awal Mula Perkenalan dengan Dunia Sunyi

Pada 2016 menjadi titik balik dalam hidup Anis. Kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk mengoordinasi pagelaran seni memperingati Hari Disabilitas Internasional – yang bersamaan dengan pengesahan UU Disabilitas – membawanya bersentuhan langsung dengan komunitas tunarungu untuk pertama kalinya.

Baca Juga: Pabrik Springbed di Pelosok Jember Raup Omzet Puluhan Juta Per Bulan, Pengusaha Muda Berdayakan Warga 

“Waktu itu pengetahuan saya tentang bahasa isyarat benar-benar kosong. Namun, saya mendampingi mereka secara intensif selama sebulan penuh,” tutur Anis saat ditemui Tugujatim.id pada Sabtu (07/06/2025).

Pementasan kolaboratif yang melibatkan para penyandang tunarungu dalam berbagai bentuk seni – mulai deklamasi puisi, tarian, hingga pertunjukan musik – menjadi pintu masuk Anis mengenal lebih dalam dunia yang selama ini asing baginya.

Belajar dari Sumber Asli

Keingintahuan yang besar mendorong Anis untuk terus menggali pemahaman tentang bahasa isyarat. Meski berlatar belakang pendidikan luar biasa, kurikulum perkuliahannya dahulu belum memasukkan mata kuliah bahasa isyarat – baru generasi setelahnya yang mendapat kesempatan tersebut.

“Saya menempuh jalur belajar mandiri sambil terjun langsung ke lapangan,” ungkapnya disertai senyum yang ramah.

Proses pembelajaran Anis tidak berhenti pada penguasaan teknis gerakan tangan. Dia mendalami kehidupan keseharian komunitas tunarungu, mengamati pola komunikasi mereka dalam berbagai situasi, mulai dari percakapan santai, humor, berbagi cerita, hingga saat terjadi perbedaan pendapat.

“Bahasa isyarat mereka itu berkembang dengan menyesuaikan akar budaya serta lingkungan setempat. Sehingga, setiap tempat pasti ada variasinya tersendiri. Oleh karena itu, bahasa isyarat terus mengalami perkembangan,” jelasnya.

Keragaman dalam Kesatuan

Pengalaman Anis semakin kaya ketika berinteraksi dengan komunitas tunarungu dari berbagai daerah. Dia menemukan bahwa satu konsep bisa diekspresikan dengan gerakan yang berbeda-beda.

“Ambil contoh kata ‘makan’. Ada yang menggunakan gerakan seperti menyuap makanan ke mulut, ada pula yang menirukan cara mencubit nasi. Semua bergantung pada kebiasaan budaya setempat. Kami tidak bisa kaku dalam menerapkan satu standar. Fleksibilitas dan kepekaan menjadi kunci,” jelasnya.

Mengajar dengan Pendekatan Personal

Saat ini, selain aktif sebagai penerjemah bahasa isyarat di berbagai kegiatan resmi – mulai dari acara pemerintahan, seminar akademik, hingga pelayanan kepolisian – Anis juga mengabdikan diri sebagai pendidik di tingkat SMP Luar Biasa.

Tantangan terbesar dalam dunia pendidikan inklusif, menurut dia, adalah mengelola kelas yang terdiri dari anak-anak dengan kebutuhan khusus yang beragam.

“Ketika dalam satu ruangan berkumpul siswa tunarungu, tunanetra, dan autis, justru pengajar yang mengalami kebingungan. Setiap anak memerlukan pendekatan yang unik. Makanya saya lebih sering melakukan pendekatan individual,” tuturnya.

Miskomunikasi yang Mengundang Tawa

Anis pun membagikan salah satu kisah menariknya yang sering terjadi. Tidak jarang, orang-orang yang melihatnya berkomunikasi dengan komunitas tunarungu mengira bahwa dirinya juga penyandang tunarungu.

Anis Yulia penerjemah bahasa isyarat di Jember.
Anis Yulia Rachman saat jadi penerjemah bahasa isyarat dalam sebuah acara. (Foto: Dok. Anisa Yulia for Tugujatim.id)

“Sering terjadi saat saya sedang berbincang menggunakan isyarat dengan teman, lalu ketika sampai di kasir untuk membayar, petugas kasir terheran-heran, ‘Lho, ternyata Mbak bisa bicara?,” kata Anis dengan raut tawa di wajahnya.

Empati sebagai Fondasi Utama

Bagi siapa pun yang berniat mempelajari bahasa isyarat, Anis menekankan pentingnya memahami konteks kehidupan komunitas tunarungu terlebih dahulu.

“Pahami dulu dunia tempat mereka hidup. Ini bukan semata-mata masalah penguasaan teknik, melainkan tentang kemampuan berempati. Jika seseorang hanya belajar dari platform digital tanpa interaksi langsung, mereka mungkin menguasai gerakan-gerakannya, namun belum tentu memahami esensi di baliknya,” jelasnya.

Setiap gerakan dalam bahasa isyarat, Anis melanjutkan, merupakan bentuk pengakuan terhadap eksistensi komunitas tunarungu dan hak mereka untuk mendapatkan akses yang sama dengan warga lainnya.

“Mereka memiliki sistem komunikasi tersendiri. Apabila kita tidak berupaya memahaminya, secara tidak langsung kita turut mempersempit ruang gerak mereka dalam kehidupan bermasyarakat. Padahal, mereka adalah bagian dari warga negara yang berhak dipahami dan didengar,” paparnya dengan penuh keyakinan.

Harapan untuk Masa Depan

Menurut dia, di Kabupaten Jember, orang-orang seperti dirinya masih terbatas. Bahkan hanya dapat dihitung jari, yaitu sebanyak tujuh orang penerjemah bahasa isyarat di Jember. Sebagian besar dari mereka bekerja tanpa banyak mendapat perhatian publik. Meski demikian, Anis tetap optimis bahwa perubahan positif dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana.

“Transformasi bisa berawal dari tangan-tangan yang mau belajar berkomunikasi dengan cara baru, mata yang bersedia melihat lebih mendalam, dan hati yang terbuka untuk memahami bahwa dunia senyap pun memiliki caranya sendiri untuk bersuara,” refleksinya.

Pesan terakhir Anis sederhana namun bermakna dalam, yaitu membangun empati adalah kunci utama. Bagi mereka yang ingin mempelajari bahasa isyarat, langkah pertama yang paling penting adalah membuka diri terhadap pengalaman hidup komunitas tunarungu.

“Ketika kita mampu memahami mereka, artinya kita telah ikut memperjuangkan hak mereka untuk didengar dan dipahami,” pungkasnya dengan penuh harap.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id

Writer: Diki Febrianto

Editor: Dwi Lindawati

Tags: Anis Yulia RachmanBahasa isyarat di Jemberberita jember hari iniJemberJember hari iniPenerjemah di Jember Anis Yulia
Dwi Linda

Dwi Linda

Related Stories

Teras Semeru.

Mengenal Muhammad Syafi’i, Santri Sukses Berdayakan Warga Kampung berkat Rumah Makan Teras Semeru Lumajang yang Viral

by Dwi Linda
06/07/2026 5:13 PM
0

LUMAJANG, Tugujatim.id – Di balik meroketnya angka kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) di Kabupaten Lumajang selama libur Lebaran 2026, ada satu...

Blitar

Kisah Anak Buruh Setrika di Kota Blitar Menjemput Asa Lewat Sekolah Rakyat

by Mochamad Abdurrochim
26/06/2026 10:54 PM
0

"Sedih rasanya melihat teman-teman lain berseragam. Tapi saya harus sabar, menepi dulu demi bantu orang tua. Saya jualan es teh....

Sekolah Rakyat.

Menolak Padam, Asa Baru Silvia dan “The Invisible People” dari Bangku Sekolah Rakyat

by Dwi Linda
26/06/2026 5:47 PM
0

"Ada banyak pahlawan dalam kamus hidup Silvia Putri Cahyani, pelajar 14 tahun di Kota Batu, Jawa Timur. Paman dan bibinya,...

Bupati Sidoarjo.

Terharu! Bocah Usia 7 Tahun Luka Bakar 46 Persen, Bupati Sidoarjo Subandi Siapkan Pengobatan hingga Pekerjaan untuk sang Ayah

by Dwi Linda
16/06/2026 9:24 PM
0

SIDOARJO, Tugujatim.id – Bupati Sidoarjo H. Subandi menjenguk Izzan, 7, bocah yang mengalami luka bakar hingga 46 persen dan kini...

Next Post
Stasiun Perning Mojokerto

Stasiun Perning Mojokerto, Peninggalan Kejayaan Industri Gula di Indonesia

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID