Anjloknya Industri Karoseri di Tengah Badai Pandemi

industri karoseri
Aktivitas pengecekan mutu (quality control) di bengkel produksi karoseri PT Adiputro Wirasejati Malang. (Foto: Ulul Azmy)

MALANG – Di luar ekspektasi. Pandemi COVID-19 cukup memukul telak para pelaku usaha di bidang transportasi. Industri Karoseri, sebagai industri penunjangnya tak luput kena imbasnya. Seperti dialami karoseri bus PT Adiputro Wirasejati, perusahaan karoseri bus tersohor asal Kota Malang.

Perusahaan karoseri legendaris yang berdiri sejak 1973 silam ini terpaksa harus menelan pil pahit sejak wabah pagebluk merebak pada pertengahan Maret 2020 lalu. Dalam hitungan bulan, total angka produksinya terjun bebas hingga 95 persen. Dalam dua-tiga bulan belakangan, bahkan tercatat 0 (nol) order. Sebuah pukulan telak pertama sepanjang sejarah karoseri Adiputro.

Baca Juga: Sinopsis Film Eagle Eye, Kala Telepon Misterius Mulai Ancam Keselamatan Jiwa

”Bahkan saya rasa hal serupa juga terjadi di karoseri lain. Tiga bulan kemarin kami tercatat 0 order. Tidak ada kegiatan produksi sama sekali disini,” ungkap Direktur PT Adiputro Wirasejati David Jethrokusumo ditemui di bengkel produksinya, Senin (31/8/2020).

Saat reporter mengunjungi bengkel produksinya di bilangan Karanglo, Blimbing, Kota Malang, tak lagi dijumpai kebisingan dan lalu lalang pekerja seperti biasa. Lesu. Hanya ada beberapa pekerja saja yang tampak sibuk menggarap satu-dua unit badan bus yang dipesan sejak sebelum pandemi. Beberapa unit bus jadi juga tampak ‘mangkrak’ lantaran belum ditebus Perusahaan Otobus (PO) pemesan.

David menuturkan, jika aktivitas di bengkel produksi sebelumnya selalu hidup. Seluruh divisi pekerja mulai di divisi pembuatan rangka, pembuatan panel, pendempulan, interior hingga pengecekan mutu (quality control) semua sibuk dengan bagian kerjanya masing-masing. ”Bising,” kenang David.

Baca Juga: Gua Baru Ditemukan di Malang Selatan, Keindahannya Siap jadi Potensi Wisata

Namun kini dari total 1.400 pekerja karoseri, kata dia terpaksa dirumahkan sementara. Ada sekitar 50 persen karyawan terimbas kebijakan rasionalisasi perusahaan, yang diakui direksi demi menjaga keberlangsungan nafas perusahaan kedepannya.

”Dari 1.400 orang, separuh tetap bekerja secara on-off (bergantian). Sementara, hampir separuhnya lagi kena rasionalisasi, kami rumahkan sementara. Nanti kalau sudah kondisi normal, akan kami panggil lagi. Terpaksa. Mau gimana lagi,” ungkap jajaran direktur yang lain, Jesse Jethrokusumo.

Jesse menuturkan, jika dibandingkan pada tahun 2019, total jumlah produksi mencapai 125 hingga 150 unit per bulannya. Sejak pandemi, karoseri total hanya menerima pesanan 3 unit saja. Itu saja baru didapat di bulan Agustus ini, menyambung kembali nafas perusahaan.

Baca Juga: Herry Rasio, Master Aquascape Kelas Dunia Asal Malang

”Ada juga unit bus yang mangkrak, belum ditebus PO yang pesan gara-gara pandemi. Keuangannya berantakan. Sementara, sektor pariwisata dan transportasi juga belum sepenuhnya jalan normal. PO akhirnya juga mikir dua kali sekarang kalau mau pesan. Pastinya ada efisiensi logis juga,” paparnya.

Seperti diketahui, karoseri Adiputro sendiri adalah salah satu pencetus standarisasi produk karoseri yang paling digemari berbagai perusahaan otobus. Apalagi sejak mengantongi sertifikasi khusus sasis OH 1830 Mercedez Benz sejak 1996, menjadikan banyak PO di Indonesia mempercayakan unitnya dipermak oleh Adiputro.

Terbaru, satu dari sekian produk andalan Adiputro paling digemari busmania yakni Jetbus, yang punya keunggulan di teknologi air suspension dan paling banyak jadi referensi bagi karoseri kecil yang sering melakukan facelift bodi.

Tentu saja, kiprah dan jejak sejarah yang panjang ini, membuat jajaran direksi berharap Adiputro terus ada bersaing meramaikan kancah industri karoseri tanah air. Hidup segan, mati tak mau. Fokus paling dekat bagi direksi saat ini adalah bagaimana cara untuk tetap bertahan. Terlebih, pandemi ini jadi semacam lorong tak berujung, tak bisa diprediksi kapan masa berakhirnya.

”Acuan saya jika nanti vaksin ditemukan tahun 2021, maka bisnis harus bisa bertahan. Lalu pulih sampai 50 persen saja itu sudah bagus banget. Pengalaman di krisis moneter dulu saja butuh 2 tahun pemulihan. Ya sebagai manusia normal, pastinya ingin wabah ini segera berakhir,” pungkas David Jethrokusumo.

Sebagai informasi, inovasi terbaru Karoseri Adiputro memperkenalkan Bus New Normal dengan berbagai fasilitas dan desain interior menyesuaikan protokol pencegahan COVID-19.

 

Reporter: Ulul Azmy
Editor: Gigih Mazda