MOJOKERTO, Tugujatim.id – Nama Kabupaten Mojokerto pasti sudah tidak asing di telinga masyarakat. Terlebih bagi penyuka sejarah karena wilayah ini umum ditulis sebagai pusat Kerajaan Majapahit. Tentunya banyak peninggalan sejarah dari masa lalu, mulai bangunan hingga rekam jejak sejarah secara tertulis.
Selain itu, ada empat hal lain yang penting diketahui tentang Kabupaten Mojokerto. Apa saja hal tersebut? Berikut rangkuman Tugu Jatim dari berbagai sumber.
1. Daerah Industri
Sudah lama Kabupaten Mojokerto dikenal sebagai daerah industri, khususnya di Jawa Timur. Berdasar catatan dari Badan Pusat Statistik, tercatat Kabupaten Mojokerto memiliki 154 perusahaan.
Perusahaan-perusahaan tersebut berasal dari berbagai sektor, meliputi perusahaan makanan, minuman dan tembakau; perusahaan tekstil, pakaian jadi, kulit dan alas kaki; perusahaan kayu, rotan, bambu dan perabot rumah tangga; perusahaan kertas, barang dari kertas, percetakan dan penerbitan.
Baca Juga: Dugaan Pernah Jadi Pengurus Parpol, Begini Sanggahan Komisioner KPU Kabupaten Mojokerto
Selanjutnya, perusahaan pupuk, kimia dan barang dari bahan baku karet dan plastik; perusahaan semen, barang galian bukan logam, minyak bumi dan batu bara; perusahaan logam dasar; perusahaan alat angkutan, mesin dan peralatan; serta perusahaan industri pengolahan lainnya.
Mayoritas, perusahaan-perusahaan tersebut berada di kawasan Ngoro Industri Persada atau NIP di Ngoro, Kabupaten Mojokerto.
2. Banyak Peninggalan Sejarah
Kabupaten Mojokerto memiliki berbagai peninggalan dari masa lalu, terutama dari Kerajaan Majapahit. Hal tersebut terlihat dari peninggalan fisik, seperti Candi Tikus, lalu Candi Brahu, Candi Gentong, Candi Wringin Lawang serta Candi Bajangratu. Tidak hanya itu, beberapa peninggalan lain khas Majapahit juga dapat ditemui, seperti Kolam Segaran, situs Tribuana Tunggadewi, dan masih banyak lagi.
Selain itu, terdapat pula kawasan wisata religi yang tak pernah sepi pengunjung, seperti kompleks makam Troloyo, patung Buddha Tidur Raksasa, termasuk situs-situs yang dipercaya mempunyai kekuatan mistis seperti situs Siti Inggil.
3. Punya Kampus yang Besar
Selain punya kawasan industri dan kaya peninggalan sejarah masa lalu, Kabupaten Mojokerto juga mempunyai kampus besar, yakni Universitas Islam Majapahit (Unim) Mojokerto. Kampus tersebut berada di Jl Raya Jabon, Gayaman, Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto.
Unim Mojokerto memiliki berbagai program studi (prodi) pada jenjang sarjana (S-1). Berbagai prodi tersebut diantaranya S-1 Manajemen, S-1 Akuntansi, S-1 Ilmu Komunikasi, S-1 Ilmu Pemerintahan, S-1 Pendidikan Agama Islam, S-1 Pendidikan Bahasa Indonesia, S-1 Pendidikan Bahasa Inggris, S-1 Pendidikan Matematika, S-1 Informatika, S-1 Teknik Sipil, S-1 Teknik Industri, S-1 Teknik Mesin dan S-1 Teknologi Hasil Pertanian.

Terbaru, Unim Mojokerto telah resmi memiliki prodi baru yaitu prodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PKO). Sesuai rumpun ilmu, prodi baru ini tergabung dalam Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unim Mojokerto. Prodi baru ini juga resmi menerima mahasiswa baru tahun akademik 2024-2025.
Unim Mojokerto mendapatkan pengakuan 2 sertifikasi sekaligus pada 16 November 2022. Sertifikat tersebut adalah ISO 9001: 2015 dan ISO 21001:2018.
Kedua sertifikat tersebut diserahkan secara langsung oleh CEO dgiCert kepada Rektor Unim Mojokerto saat wisuda ke-XIX pada 7 Desember 2022 lalu dan disaksikan oleh Bupati Mojokerto, Kepala LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur serta mitra strategis lainnya.
4. Dijuluki Bumi Majapahit
Julukan Bumi Majapahit tidak pernah lepas dari Kabupaten Mojokerto. Hal ini sebab pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit berada di Kabupaten Mojokerto. Tak heran jejak peninggalan tersebar di Trowulan, wilayah yang dipercaya menjadi pusat kerajaan Majapahit saat masa jayanya.
Mulai dari karya tulis, hasil penelitian, berikut bangunan masa lampau mengarah kuat pada legitimasi Kabupaten Mojokerto sebagai pusat Kerajaan Majapahit.
Demikian informasi sekilas soal Kabupaten Mojokerto. Semoga bermanfaat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Hanif Nanda Zakaria
Editor: Dwi Lindawati








