JEMBER, Tugujatim.id – Sektor pariwisata Kabupaten Jember bersiap mengambil lompatan besar dengan rencana pengoperasian kembali Bandara Notohadinegoro. Dalam kondisi keterbatasan akses transportasi darat dan laut, keberadaan bandara yang aktif menjadi prioritas utama untuk mendatangkan wisatawan, terutama dari mancanegara.
Bandara sebagai Solusi Keterbatasan Akses Transportasi
“Mengingat jalur tol belum tersedia dan pelabuhan belum dapat digunakan optimal, transportasi udara menjadi opsi paling realistis untuk ditingkatkan. Harapan kami sangat besar terhadap reaktivasi bandara ini,” ungkap Kepala Dinas Pariwisata Jember Bambang Rudianto saat diwawancarai pada Senin (21/04/2025).
Ketiadaan penerbangan reguler ke Jember selama ini ternyata telah menghambat kedatangan wisatawan potensial, khususnya dari luar negeri.
Baca Juga: DPRD Jember Temukan Kendala Reaktivasi Bandara Notohadinegoro
“Kami sudah mendapat beberapa permintaan dari wisatawan internasional, terutama mereka yang berada di Bali. Sayangnya, banyak yang akhirnya membatalkan kunjungan karena tidak tersedianya penerbangan langsung ke Jember,” tambah Rudianto.
Layanan Charter Buka Peluang Wisata Premium
Kehadiran layanan penerbangan charter yang kini telah tersedia di Bandara Notohadinegoro membuka peluang baru bagi pengembangan paket wisata eksklusif. Maskapai seperti Numa sudah siap melayani wisatawan dalam kelompok kecil yang ingin mengunjungi berbagai destinasi di Jember.
“Keunggulan Jember adalah kelengkapan destinasi wisatanya. Dari pegunungan, pantai, wisata kota, hingga destinasi religius, semuanya tersedia dalam satu wilayah. Ini merupakan daya tarik yang sangat kuat bagi wisatawan,” jelas Rudianto.
Pengembangan Paket Wisata dan Wisata Dirgantara
Menurut Rudianto, dinas pariwisata sedang menyiapkan berbagai paket perjalanan dengan kategori ekonomi hingga premium. Selain itu, wisata dirgantara yang pernah populer di masa lalu akan dikembangkan kembali.
“Dulu kami pernah mengoperasikan pesawat ringan seperti Skyhawk untuk menikmati keindahan Jember dari udara. Pengalaman melihat air terjun, hutan, dan pegunungan dari ketinggian memberikan sensasi luar biasa. Destinasi yang memerlukan waktu tempuh berjam-jam melalui jalur darat dapat dijangkau hanya dalam hitungan menit,” kenangnya.
Konsep DAMRI untuk Pengembangan Wisata Berkelanjutan
Untuk mewujudkan pengembangan pariwisata yang optimal, Rudianto mengusung konsep DAMRI—bukan armada bus transportasi umum, melainkan singkatan dari Dana, Alam, Manusia, Regulasi, dan Integrasi.
Baca Juga: Aktivasi Bandara Notohadinegoro Jember Diupayakan Tak Bebani APBD
“Pertama, kita perlu dukungan dana. Kemudian pemanfaatan lahan bersama PTP, penyiapan sumber daya manusia bersertifikasi, regulasi yang mendukung, dan yang tak kalah penting adalah integrasi semua stakeholder. Inilah yang terus kami dorong saat ini,” paparnya.
Infrastruktur Pendukung dan Perlindungan Aset
Salah satu prioritas dalam pengembangan Bandara Notohadinegoro adalah pembangunan infrastruktur pendukung, terutama hanggar untuk melindungi pesawat dari kerusakan akibat paparan cuaca.
“Ada sekitar lima pesawat yang sudah parkir di bandara. Jika terus terpapar hujan dan panas, kondisi mesin akan terpengaruh. Hanggar menjadi kebutuhan mendesak untuk melindungi aset berharga ini,” tandasnya.
Dengan berbagai persiapan tersebut, Dinas Pariwisata Jember optimis bahwa reaktivasi Bandara Notohadinegoro akan membuka lembaran baru bagi pariwisata Jember dan mengantarkan kabupaten ini menjadi salah satu destinasi utama di Indonesia Timur.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati







