TUBAN, Tugujatim.id – Pasca banjir melanda sebagian besar wilayah sekitar Sungai Bengawan Solo hingga mengakibatkan luapan ini mengancam keselamatan warga di sekitarnya.
Air sungai yang meluap membuat warga terbatas ruang geraknya untuk beraktibitas. Jika ingin keluar, mereka terpaksa menggunakan perahu sebagai alat transportasi utama untuk keluar dari rumah mereka yang tergenang air.
Asis, 52, warga Desa Kebomlati, Kecamatan Plumpang, Tuban, salah satunya. Demi menutupi kebutuhan sehari-hari, dia terpaksa menaikkan motornya untuk keluar area yang tergenang banjir memakai perahu. Biaya yang harus dikeluarkan pun berkali-kali lipat. Dia merogok kocek hingga Rp40 ribu untuk bisa ke daratan.
“Ini karena saya ada janji ke wilayah Desa Tuwirikulon, Kecamatan Merakurak, Tuban. Jadi, mau tidak mau harus keluar naik perahu, Mas,” katanya.
Asis juga menyampaikan, banjir datang sejak Minggu (10/03/2024). Namun yang terparah hari ini, akses jalan sudah tidak bisa dilewati lagi. Sedangkan untuk keluarga masih di rumah tidak mengungsi ke tempat lainnya.
“Kalau banjir memang sering, Mas. Tapi, ini mungkin terparah sejak 7 tahun sebelumnya. Tahun lalu, banjir tapi tiga hari sudah surut. Kalau yang ini malah semakin besar,” katanya.

Kondisi cuaca yang tidak menentu dan intensitas hujan yang terus meningkat membuat proses evakuasi dan penanganan banjir menjadi lebih sulit.
Sementara itu, Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Tuban Sudarmaji mengatakan, ada empat kecamatan di belasan desa yang terdampak luapan Sungai Bengawan Solo. Empat kecamatan itu, yaitu Plumpang, Rengel, Soko, dan Widang.
Banjir yang masih tinggi posisinya ada di dua desa. Yaitu di Karangtinoto dan Tambakrejo, Kecamatan Rengel. Sebenarnya trennya karena banyak areal persawahan yang posisinya lebih rendah.
“Air sulit untuk surut lebih cepat. Dan mungkin di beberapa wilayah lain yang terdampak juga menunjukkan tren turun,” katanya.
Baca Juga: Anti Ngadat! Review HP Gaming Poco F4 GT yang Tahan Air: Ternyata Ini Keunggulannya
Meski upaya pengurangan risiko bencana telah dilakukan secara terus-menerus, banjir luapan Sungai Bengawan Solo tetap menjadi ancaman serius bagi warga di sekitarnya. Sebab, di pintu masuk air wilayah Babat, Kabupaten Lamongan, masih menunjukkan siaga kuning menuju merah. Begitu pula yang ada di Bojonegoro yang posisinya siaga merah.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan siaga menghadapi potensi bencana alam yang dapat terjadi kapan saja.
“Kondisinya sekarang air laut sedang pasang, membuat air yang mengalir dari Sungai Bengawan Solo sedikit terhambat alirannya,” ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Mochamad Abdurrochim
Editor: Dwi Lindawati








